Kompetensi Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia

0
256

Dimuat pada Kabar Timur, Selasa/28 Juni 2016


Oleh:
Adi Syaiful Mukhtar, S.S.
(Staf Teknis Kantor Bahasa Maluku)

 

Bahasa merupakan salah satu bentuk interaksi sosial budaya masyarakat. Dalam interaksi tersebut, bahasa dipahami dari dua aspek, yaitu aspek bentuk dan makna. Jika kedua aspek tersebut dapat dipahami, bahasa dapat dimaknai sebagai deretan tanda yang memuat konteks makna dan nilai. Interaksi dapat dimaksudkan lebih khusus, yaitu interaksi dalam pembelajaran bahasa di ruang pembelajaran maupun interaksi peserta didik di luar ruang pembelajaran sebagai aplikasi dari pembelajaran bahasa. Peserta didik diharap mampu berkomunikasi di tengah masyarakat yang mempunyai konteks makna dan nilai dalam setiap bahasa yang dituturkan. Kemampuan peserta didik tentunya dapat diikuti dengan etika berbahasa yang baik.

Kemampuan peserta didik dalam berbahasa yang baik dan benar akan terwujud jika didukung oleh kompetensi sosiolinguistik dari pengajar bahasa maupun peserta didik sendiri. Sosiolinguistik merupakan disiplin ilmu yang mempunyai objek kajian pada hubungan antara bahasa dan masyarakat. Sosiolinguistik juga memberikan perhatian pada kondisi masyarakat yang memengaruhi penggunaan bahasa. Holmes (2001: 1) mengatakan bahwa sosiolinguistik digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang berbicara secara berbeda dalam konteks sosial yang berbeda pula. Selain itu, sosiolinguistik juga memfokuskan pada pengidentifikasian fungsi sosial dan cara bahasa yang digunakan untuk menyampaikan makna sosial.

Kontribusi sosiolinguistik dalam pengajaran bahasa Indonesia dapat dilihat dari penentuan bahasa pengantar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran tersebut. Kemampuan pengajar bahasa Indonesia dalam memilih variasi ditentukan oleh kompetensi sosiolinguistiknya. Kompetensi tersebut mengarahkan untuk menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa yang familiar dengan peserta didik sesuai dengan situasinya. Dalam sosiolinguitik dikenal dengan istilah alih kode dan campur kode. Hal tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk menciptakan pembelajaran yang komunikatif.

Pengajaran bahasa Indonesia haruslah mampu menempatkan bahasa sebagai sarana penyampaian informasi, melakukan proses sosial, dan berinteraksi dalam proses pembelajaran. Dalam rumusan Fishman (Chaer dan Agustina, 2010: 48), sosiolinguistik menerangkan penggunaan bahasa dalam aspek atau segi sosial tertentu dengan memerhatikan “who speak, what language, to whom, when, and to what end”. Rumusan Fishman tersebut dirasa penting untuk dijadikan pedoman dalam berinteraksi. Rumusan tersebut mengajak untuk mempertimbangkan beberapa hal dalam berbahasa, yaitu siapa yang sedang berbicara, bahasa apa yang harus digunakan, dan untuk siapa bahasa tersebut digunakan.

Salah satu penerapan sosiolinguistik yang sesuai dengan rumusan di atas adalah tentang penggunaan pronomina persona dalam bahasa Indonesia. Seorang pengajar bahasa Indonesia harusnya mampu menjelaskan kepada peserta didik tentang kaidah sosial penggunaan pronomina persona. Tanpa bantuan penjelasan sosiolinguistik, peserta didik akan kesulitan untuk menggunakan pronominal persona sesuai kaidah sosial. Kaidah sosial tersebut meliputi, kepada siapa, kapan, dan di mana kata ganti tersebut harus digunakan.

Selain itu, pengajaran bahasa Indonesia juga harus mampu mengidentfikasi kesalahan-kesalahan berbahasa atau interferensi yang diakibatkan dari bahasa gaul yang meluas. Penjelasan sosiolinguistik mengenai interferensi suatu bahasa lebih tepat digunakan untuk mendasari pengidentifikasian tersebut. Mengingat bahwa banyaknya interferensi istilah asing yang menggantikan kata-kata bahasa Indonesia agar terlihat keren dan gaul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × one =