Alih Kode pada Masyarakat Multilingual

0
20

Adi Syaiful Mukhtar

Pengkaji Kebahasaan dan Kesastraan, Kantor Bahasa Maluku

 

Bahasa merupakan alat komunikasi dan penghubung berupa simbol tertentu yang telah disepakati. Alat komunikasi tersebut memberikan interaksi kepada penuturnya untuk saling merespon satu dengan yang lain. Manusia selalu menggunakan bahasa dalam berkomunikasi sehari-hari untuk memperlancar kegiatan yang nantinya akan menghasilkan sebuah keuntungan. Selain itu, manusia menggunakan bahasa untuk mempelajari semua isi dunia melalui ilmu serta pengetahuannya.

Berkat adanya bahasa, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama mengubah dunia menjadi lebih sempit. Hubungan antar suku bangsa di negeri ini semakin terbuka. Jarang sekali kita menemukan sebuah masyarakat yang hidup dengan satu bahasa. Berbagai interaksi antar individu maupun antar kelompok terjadi. Hal tersebut memberikan dampak terbentuknya masyarakat yang multilingual sebagai akibat dari penggunaan dua bahasa dalam interaksi tersebut. Masyarakat multilingual biasanya berada di daerah transmigrasi atau perkotaan yang mempunyai banyak pendatang seperti Kota Ambon karena memiliki banyak pendatang seperti dari jawa, sumatera, bali, dan berbagai daerah lainnya.

Apple dalam Chaer (2004:107) menyatakan bahwa alih kode merupakan peralihan pemakaian dari suatu bahasa ke bahasa lain karena berubahnya situasi. Ditambahkan oleh Hymes bahwa alih kode bukan hanya peralihan antar bahasa, tetapi juga terjadi antar ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa tersebut. Kondisi demikian sering terjadi di sekitar kita. Pendatang dari suku Jawa, Makassar, Bugis, bahkan suku-suku lainnya menghiasi Kota Ambon sebagai kota dengan masyarakat yang multilingual. Mereka berinteraksi antar suku dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau Melayu Ambon. Namun di saat tertentu, mereka juga menggunakan bahasa ibu mereka. Kondisi yang seperti ini, Chaer menyebutnya sebagai peristiwa alih kode.

Kita memilih suatu bahasa atas dasar faktor-faktor tertentu. Peralihan situasi formal ke nonformal mendorong kita untuk menggunakan bahasa lain. Selain itu, lawan bicara yang mempunyai latar belakang lebih terhormat juga menjadi faktor terjadinya alih kode. Seperti seorang bawahan yang berbicara dengan atasannya yang awalnya menggunakan bahasa Indonesia beralih dalam bahasa daerah yang nilai tingkat tuturnya lebih tinggi dengan maksud untuk menghormatinya. Faktor lain adalah mengendalikan situasi dan menghormati kehadiran orang ketiga dalam sebuah perbincangan, karena orang ketiga mempunyai latar belakang bahasa yang berbeda. Tempat terjadinya dialog juga memengaruhi. Jika kita seorang pendatang lama di Kota Ambon mengawali sebuah perbincangan dengan orang yang tidak kita kenal latar belakangnya, kita sudah pasti menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu Ambon. Hal tersebut akan berbeda di saat kita mengetahui bahasa asal mereka tapi kita juga menguasainya.

Sebuah informasi dalam percakapan akan lebih mudah dipahami jika ada kedekatan secara emosional antara kita dengan lawan bicara. Misalnya, kita yang baru mengenal seseorang di suatu tempat, awalnya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia tetapi ketika mengetahui bahwa lawan bicara memiliki latar kedaerahan yang sama maka kita segera beralih kode ke bahasa daerahnya sekadar untuk mengakrabkan suasana. Selain itu, alih kode sering dilakukan karena seorang pembicara memberi penguatan untuk meyakinkan topik pembicaraannya.

Namun, terkadang faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor lainnya tidak mengharapkan adanya alih kode. Alih kode dalam situasi tersebut tampak adanya pemaksaan, tidak wajar, serta tidak komunikatif. Situasi seperti ini sering kita temukan pada gaya bahasa para remaja atau artis selebriti. Mereka menggunakan bahasa Indonesia ragam Jakarta yang bercampur bahasa Inggris seakan ingin menampilkan trend setter yang kebarat-baratan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − 9 =