Geliat Sastra di Provinsi Maluku

0
20

Asrif

(Kepala Kantor Bahasa Maluku)

 

Geliat bersastra di Provinsi Maluku saat ini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Salah satunya dapat dilihat dari aktivitas para sastrawan di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Sejumlah acara diwarnai pembacaan puisi, pementasan drama, penampilan musikalisasi puisi, dan sebagainya. Pada beberapa sudut Kota Ambon, kadangkala terlihat pameran puisi yang dimotori oleh beberapa komunitas sastra.

Sejumlah sastrawan dari Provinsi Maluku telah menorehkan nama hingga ke kancah nasional. Beberapa di antaranya seperti Rudi Fofid, Jacky Manuputty, Wesley Jones, …. pacarnya, Mariana Lewier, Roymond Lemosol, Rusda Leikawa, Fahmi Pelu, Ecko Saputra Poceratu, dan …………… telah berkiprah luas tidak hanya di wilayah Provinsi Maluku, tetapi telah merambah hingga ke kancah nasional, bahkan internasional. Rudi Fofid misalnya, sastrawan berpenampilan unik itu tampil membaca puisi di negeri Belanda. Ia juga membaca puisi sepanjang perjalanan laut dari Darwin (Australia) hingga ke Pulau Ambon (Indonesia).

Selain sastrawan Indonesia yang berasal dari Maluku, aktivitas bersastra di Provinsi Maluku juga diramaikan oleh kehadiran sastrawan nasional. D. Zawawi Imron, Ane Matahari, Asia Ram Prapanca, dan sejumlah sastrawan nasional lainnya pernah hadir ke Provinsi Maluku. Tentu tujuannya yakni mengabarkan dan menguatkan perkembangan sastra di Provinsi Maluku.

Kehadiran sejumlah komunitas sastra antara lain Bengkel Sastra Maluku, Komunitas Hikayat Tanah Hitu, Walang Bastori, dan Gunung Mimpi juga menjadi kondisi yang menggembirakan. Komunitas-komunitas sastra itu menjadi ruang penting bagi lahirnya insan-insan muda yang kreatif. Karya-karya sastra bernilai edukasi bagi masyarakat atau siapapun yang menjadi penikmat sastra.

Hadir dan ramainya geliat sastra di Provinsi Maluku perlu didukung dan diapresiasi oleh pihak. Geliat sastra merupakan salah satu aktivitas positif yang mengasah kreativitas, mengedukasi, dan yang tidak kalah penting yakni semakin menguatnya semangat hidup Orang Basudara. Melalui kegiatan bersastra, misalnya pementasan drama, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, telah terbina dengan baik ikatan-ikatan persaudaraan yang tidak tersekat oleh perbedaan suku, agama, dan ras. Semua pihak membaurkan dan merekatkan diri. Proses pembauran dan perekatan diri itu menjadi kekuatan yang besar dalam menciptakan kehidupan yang nyaman dan harmoni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + nine =