Kekurangcermatan Penggunaan Bahasa Melayu Ambon dalam Film Cahaya dari Timur dan Salawaku (Bagian 2)

0
28

Evi Olivia Kumbangsila

(Pengkaji Kebahasaan dan Kesastraan, Kantor Bahasa Maluku)

 

Tulisan ini membahas lebih detail tentang kekurangcermatan penggunaan bahasa Melayu Ambon yang terdapat di dalam film Cahaya dari Timur dan Salawaku. Fakta-fakta tersebut adalah sebagai berikut. Pertama yakni mengenai pilihan kata (diksi). Pada kedua film tersebut terdapat kata-kata atau kalimat dalam bahasa Melayu Ambon yang tidak sering dipakai dalam setiap dialog bahkan ada juga kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan konteks dan situasi.

Penggunaan kata pronomina tunggal seperti ale dan ose sebenarnya memiliki makna yang sama yaitu kamu. Akan tetapi kata ale terdengar lebih halus dibandingkan dengan kata ose, terlebih lagi jika kata ale tersebut diucapkan kepada sesama. Dalam film Salawaku, para pemain lebih sering menggunakan kata ale, dibandingkan para pemain film Cahaya dari Timur yang justru menggunakan kata ose.

Demikian juga pada ungkapan dangke banya yang sangat jarang dituturkan oleh para pemain pada kedua film tersebut. Para pemeran film Cahaya dari Timur dan Salawaku justru memilih dan menggunakan kata terima kasih banyak.

Kata maaf e lebih sering dipakai dalam setiap dialog di kedua film tersebut. Dalam tuturan Melayu Ambon, masyarakat menggunakan ungkapan jang mara e atau jang kurang-kurang hati e, bukan maaf e.

Pada film Salawaku, sosok Kawanua berkata “Beta gendong nona lai e”. Kalimatnya benar, tetapi konteksnya berbeda saat Kawanua tidak menggendong si nona Saras. Dia malah memikul nona Saras. Cara itu dalam Melayu Ambon disebut kuda. Jadi kalimat yang benar ialah beta kuda nona ulang e.

Kekurangcermatan juga terjadi pada saat Kawanua mengucapkan kalimat “Sadap skali e”. Sebenarnya, kalimat itu telah benar secara struktur, tetapi tidak sesuai dengan konteks karena saat itu Kawanua membenarkan pernyataan bahwa sunset dan pemandangan di pantai itu sangat indah. Seharusnya kalimat yang tepat ialah “Mantap to!” atau “Moi to!”

Dalam film Cahaya dari Timur, ketika ada penumpang yang memaksa Sani untuk membawa dia, Sani berkata, “Se mau ke mana?” Kalimat ini bukanlah bentuk kalimat yang alamiah dalam bahasa Melayu Ambon. Kalimat yang benar dalam bahasa Melayu Ambon adalah “Barang ale mo pi mana?”

“Se apa kabar?”, “Ada apa lai?”, dan “Se ngomong apa?” dituturkan pada salah satu dialog film Cahaya dari Timur. Namun, kalimat-kalimat tersebut tidaklah lazim dalam bahasa Melayu Ambon. Pilihan kata yang tepat ialah “Bagemana kabar?” atau “Bagemana ale tuang?”, “Su lama seng lia.”, “Barang kanapa lai?”, atau “Barang ale kanapa lai?”, “Ale bicara apa ini?” atau “Bicara mongo-mongo apa ini?”

Di beberapa dialog Kawanua, Binaya, Upulatu, dan Salawaku yang berperan sebagai orang asli Pulau Seram dalam film Salawaku, terdapat beberapa kata yang sebenarnya bukan merupakan kosakata bahasa Melayu Ambon. Kata-kata tersebut antara lain temani, ketemu, tipu, dan seperti. Jika dalam bahasa Melayu Ambon, kata yang memiliki arti sama dengan kata-kata tersebut yakni batamang, bakudapa, parlente, dan macang.

Dalam film Salawaku, terjadi penggunaan kosakata yang tidak konsisten. Penutur menggunakan kata dusun, desa, dan negeri secara bergantian. Ketiga kata itu diucapkan untuk merujuk pada satu tempat saja, padahal kata-kata tersebut mempunyai makna yang berbeda-beda. Status dusun tidak sama dengan desa apalagi dengan negeri.

Demikian pula penggunaan kata jua dan lai yang dipakai dalam satu konteks, padahal kata tersebut dipakai sesuai dengan konteks. Contohnya dalam kalimat “Beta iko lai e?” bukan “Beta iko jua.” Kata seng dan bukang juga dipakai sesuai dengan konteks. Contohnya ketika Binaya menuduh Kawanua yang sering melihat Saras, Kawanua menjawab “Seng bagitu!” yang sebenarnya “Bukang bagitu!”

Kata “Tunggu sabantar” juga sering diucapkan dalam dialog-dialog di film Salawaku. Dalam Bahasa Melayu Ambon, ungkapan yang lazim ialah “Tunggu sadiki.”

Kedua, mengenai struktur bahasa. Pada beberapa dialog, tampak struktur kalimatnya tidak sesuai dengan struktur bahasa Melayu Ambon. Akibatnya, tuturan terdengar tidak alami sebagaimana terdapat di dalam film Salawaku. Tuturan “Orang dusun beta” yang sebaiknya “Beta pung orang-orang dusun”; “Pukul beta sini” yang sebaiknya “Mari kamari kalo barani”; “Ale dong dua” yang sebaiknya “Ale dong”; “Nona tau samua masala beta” yang sebaiknya “Nona tau beta pung masala samua”; “Mama beta” sebaiknya “Beta pung mama”; “Beta rindu sangat” sebaiknya “Beta paleng rindu skali”; “Beta rindu ale jua” sebaiknya “Beta jua rindu ale”; dan “Minta maaf e beta” sebaiknya “jang mara beta e” atau “jang kurang hati par beta e”.

Pada film Cahaya dari Timur juga terjadi hal demikian itu. Tuturan “Su beta bunu se” sebaiknya “Beta su bunu se”; “Se kanapa lari tadi tu?”  sebaiknya “Kanapa se lari tu ka?”; dan “Beta ada kasi latih bola ana-ana tu di lapangan maaf e?”  sebaiknya “Jang mara barang beta ada kasi ajar anana dong bola di lapangan”.

Selain itu, tidak semua akhir kalimat dalam bahasa Melayu Ambon diakhiri dengan penekanan “sa” atau “e”. Akhiran “sa” dan “e” pada akhir kalimat disebut interjeksi. Interjeksi adalah kata yang mengungkapkan seruan perasaan. Jadi tidak semua kalimat dalam bahasa Melayu Ambon diakhiri dengan interjeksi “sa” atau “e” seperti sering sekali diucapkan oleh Jflow Matulessy sebagai pemeran Kawanua dalam setiap dialognya atau interjeksi “sio”.

Ketiga, penggunaan intonasi. Sebagaimana telah diutarakan pada tulisan sebelumnya, rim Melayu Ambon tidaklah semudah mengucapkan slogan iklan minyak kayu putih di televisi “Seng ada lawang” dengan intonasi tinggi di akhir kata lawang. Dalam film Cahaya dari Timur, terjadi kekeliruan pengucapan rim Tulehu, namun tidak begitu banyak. Sebaliknya, dalam film Salawaku, seringkali terjadi kekeliruan melisankan dialek Melayu Ambon. Kekeliruan tersebut mengakibatkan dialog-dialog dalam kedua film itu terdengar tidak alami. Tuturan-tuturannya menjadi tidak natural sebagaimana orang Maluku bertutur. Kadangkala, terdengar tuturan yang seolah kalimat bahasa Indonesia yang dipaksakan menjadi dialek Melayu Ambon.

Bahasa Melayu Ambon memang seng ada lawang. Tiada tandingan karena banyaknya dialek dan intonasi yang sulit bukan sekadar menaikan nada di setiap akhir kata.

Harapan saya, tulisan ini dapat meningkatkan kebanggaan orang Maluku yang tidak hanya pada tradisi, budaya, dan keindahan alam, tetapi juga bangga terhadap bahasa daerah yang ada di berbagai wilayah di Maluku. Selain itu, semoga tulisan ini dapat menambah kreativitas dan kualitas perfilman yang mengusung isu-isu tradisi, budaya, dan keindahan alam Maluku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + 7 =