Kesantunan Berbahasa

0
29

Harlin

(Peneliti Pertama, Kantor Bahasa Maluku)

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak bisa lepas dari dalam diri manusia. Bahasa selalu hadir dalam segala aktivitas atau kegiatan manusia. Malah sampai pada bermimpi pun, bahasa itu tetap selalu ikut serta. Bahasa bisa membuat kita banyak teman atau disenangi orang, tetapi juga bisa membuat kita banyak musuh atau dibenci orang. Oleh karena itu kita harus memiliki kesantunan dalam berbahasa.

Kesantunan, kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan kesantunan atau santun adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan. Jadi kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekadar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tata cara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tata cara berbahasa seseorang tidak sopan dan tidak sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya. Kesantunan berbahasa seseorang mencerminkan sikap kepribadiannya.

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh pemakai bahasa dalam berkomunikasi agar tuturan yang disampaikan santun dan tidak melanggar norma. 1) Jangan mempermalukan lawan tutur. Hindari kata bernada mengejek, menyepelekan, menghina, dan merendahkan lawan tutur. 2) Jangan menyombongkan diri, membanggakan diri, atau memuji diri di hadapan lawan tutur. 3) Jangan menghina atau menjelek-jelekkan milik orang lain sehingga orang tersebut merasa tidak senang dan marah. 4) Jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan yang dialami orang lain. 5) jangan menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksepakatan dengan lawan tutur. 6) Jangan gunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak suatu permintaan dari lawan tutur. 7) Jangan memaksa lawan tutur Anda untuk melakukan sesuatu.

Selain beberapa hal yang perlu dihindari dalam bertutur, ada juga beberapa hal yang harus dilakukan oleh petutur agar tuturan santun dan tidak melanggar norma. 1) Membuat lawan tutur merasa senang. 2) Memberi pujian kepada lawan tutur. 3) Menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur. 4) Sebagai penutur kita harus bersikap rendah terhadap lawan tutur. 5) Penutur harus memberi simpati pada lawan tutur. 6) Menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan. 7) Menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur. 8) Menggunakan kata “maaf” bila harus menyebutkan kata-kata yang dianggap tabu. 9) Menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh. 10) Menggunakan kalimat “berputar”. 11) Dalam meminta maaf gunakan kata “maaf” yang disertai dengan penjelasan dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata “mohon”. 12) Gunakan kata” mohon” untuk meminta batuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × three =