Lunturnya Kekuatan Mitologi Akal-Akal

0
10

Helmina Kastanya

(Pengkaji Kebahasaan dan Kesastraan, Kantor Bahasa Maluku)

 

Dewasa ini masyarakat mulai terpengaruh dengan berbagai perkembangan teknologi dan informasi. Keadaan ini membuat masyarakat mulai meninggalkan tradisi masa lampau. Upaya untuk menyelesaikan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia selalu dikaji dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Misalnya untuk menyembuhkan penyakit masyarakat mulai jarang menggunakan pengobatan tradisional karena pengobatan medis yang lengkap dengan alat-alat modern merupakan hal utama yang dipilih masyarakat saat ini untuk menyembuhkan penyakit. Masyarakat mulai meninggalkan secara perlahan hal-hal yang bersifat tradisional. Berbagai hal yang pada zaman dulu menjadi sebuah kebanggaan masyarakat mulai tergantikan. Misalnya tradisi masyarakat Pulau Ambon yang dulunya percaya pada sebuah tradisi yang disebut akal-akal. Akal-akal merupakan mitos yang direfleksikan melalui tindakan yang dilakukan untuk mengatasi suatu kondisi yang tidak menyenangkan atau untuk mendapatkan sesuatu yang diingini oleh seseorang. Tradisi  akal-akal dalam melakukan suatu kegiatan mulai hilang dan jarang digunakan lagi di era ini. Padahal nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut sangat berharga. Bahkan mitos di balik  akal-akal  sudah tidak lagi diketahui oleh masyarakat sehingga kekuatan mitos itu sendiri tidak lagi mempengaruhi masyarakat.

Hal ini dianggap penting untuk dikemukakan karena sangat berpengaruh secara langsung dalam kehidupan kita. Pada zaman dulu, orang tua sebelum melakukan suatu hal yang dianggap penting mereka selalu memperhatikan berbagai hal mulai dari waktu pelaksanaan yang tepat seperti bulan dan hari tertentu, lokasi, siapa yang melaksanakan, apa yang dilakukan. Memperhatikan hari atau bulan tertentu merupakan kebiasaan sebelum membangun rumah, melaksanakan pernikahan, pergi melaut, dan sebagainya. Hal  ini cukup memberikan gambaran bahwa betapa pentingnya lingkungan alam sekitar dalam mempengaruhi kehidupan dan keberlangsungan hidup manusia. Dari gambaran yang ada, cukup terlihat bahwa ekosistem kehidupan masyarakat dan lingkungan pada zaman dulu sangat terjaga dengan baik. Pada zaman dahulu manusia lebih berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh namun penuh pertimbangan. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah pelaksanaan suatu hal.

Kondisi ini seharusnya menjadi hal yang tetap dipertahankan dalam kehidupan masyarakat. Namun sangat disayangkan, berbagai faktor yang ada telah mempengaruhi terjadinya pergeseran tradisi. Saat ini jika diperhatikan, masyarakat lebih egois, lebih percaya pada diri sendiri, lebih mengandalkan teknologi, dan tidak peduli dengan lingkungan alam dan sesama. Keseimbangan manusia dengan lingkungan alam sebagai sebuah mata rantai kehidupan tidak lagi berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Setiap orang lebih cenderung mempertahankan egonya sendiri. Mengutamakan kepentingan diri dibanding orang lain dan lingkungan. Cenderung lebih ceroboh dan tergesa-gesa dalam mengambil sebuah tindakan. Akibat yang terjadi adalah lingkungan alam mulai rusak dan tidak dipelihara dengan baik oleh masyarakat. Selain itu, sikap tidak peduli terhadap sesama makhluk hidup sering terjadi.

Keadaan ini terjadi dalam hidup masyarakat di Pulau Ambon, Maluku. Masyarakat mulai meninggalkan tradisi leluhur yang mengutamakan keseimbangan dan keselarasan antara manusia dan lingkungan. Pada zaman dulu, alam sangat dihormati, waktu sangat dihargai, lingkungan alam dan sesama manusia menjadi sangat dicintai. Tetapi sekarang keadaan tersebut tidak lagi ada dalam kehidupan masyarakat di Maluku. Tradisi untuk percaya pada alam dan lingkungan alam sudah mulai hilang. Misalnya saat melaut, banyak nelayan dengan mudah mendapatkan ikan melalui teknologi yang ada, seperti menggunakan bom, pukat harimau, dan menggunakan alat pancing yang modern. Melalui cara seperti ini tentunya membuat laut dan ekosistem di dalamnya tercemar dan rusak. Jika dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya, nelayan lebih berhasil menangkap ikan dengan mengandalkan akal-akal atau dengan memperhatikan waktu-waktu tertentu untuk melaut.

Beberapa contoh lain tentang akal-akal yang memiliki mitos dan kekuatannya cukup mempengaruhi masyarakat pada zaman dulu antara lain; akal-akal untuk menahan rasa buang air besar dilakukan dengan menyebutkan kalimat “bawang putih bawang merah nanti besok beta berak”. Kesannya sangat konyol, namun menurut beberapa yang pernah melakukannya hal ini benar terjadi. Entah apa hubungannya antara rasa ingin buang air besar dengan menyebutkan kalimat tersebut. Mereka percaya dan yakin dalam menyebutkan kalimat tersebut di dalam hati, maka rasa buang air besar akan hilang. Kini mitos di balik akal-akal tersebut tidak lagi diketahui oleh masyarakat. Selain itu, ketika melaut untuk menangkap ikan, ada kekuatan mitos yang diyakini oleh masyarakat tradisional yaitu dilarang membawa uang saat pergi melaut karena akan membuat susah mendapatkan ikan.

Mitos dibalik kepercayaan tersebut tidak lagi diketahui oleh masyarakat. Adapun beberapa orang sampai saat ini meyakini bahwa ketika melaut atau melakukan perjalanan di laut dan terjadi ombak ada akal-akal yang dipercayai dapat membantu meredakan gelombang, yaitu membuang uang logam ke dalam laut. Selain itu ada akal-akal yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit. Misalnya menghancurkan bawang merah dengan tumit kaki dan mencampur dengan minyak kemudian menggosok di tubuh bayi ketika bayi panas, mengoles getah daun keladi di bekas gigitan lebah ketika digigit lebah, dan menggunakan baju berwarna merah ketika mengalami penyakit campak.

Sangat disayangkan mitos yang melatarbelakangi tentang terciptanya akal-akal ini tidak lagi diketahui oleh masyarakat. Bahkan upaya untuk mengetahui mitos di balik akal-akal ini pun telah dilakukan penulis dengan menanyakan dan mencari referensi dari beberapa sumber namun tidak memberikan hasil yang menggembirakan karena umumnya dianggap sebagai hal yang tidak penting untuk dilestarikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 5 =