Penulisan Kata Ramadan

0
44

Asrif

(Kepala Kantor Bahasa Maluku)

 

Saat ini, umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa. Seperti halnya di daerah lain, pelaksanaan ibadah puasa di Kota Ambon berjalan dengan baik. Di berbagai tempat, dilaksanakan berbagai kegiatan yang hanya dilaksanakan pada bulan puasa, misalnya acara buka puasa, salat tarawih, dan sahur bersama.

Bulan puasa biasa juga disebut bulan Ramadan. Bulan Ramadan ialah bulan ke-9 tahun Hijriah. Pada bulan Ramadan, seluruh umat Islam yang telah akil balig (cukup umur) wajib menjalankan ibadah puasa selama satu bulan (KBBI Edisi V).

Nah, tulisan ini akan mengulas penulisan kata Ramadan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata baku untuk merujuk nama bulan puasa itu, yakni Ramadan. Jadi, bukan Ramadhan, Ramadhon, Romadhon, atau istilah lainnya.

Mengapa KBBI menggunakan kata Ramadan bukan Ramadhan? Bukankah kata Ramadan yang tidak menggunakan huruf /h/ di antara huruf /d/ dan huruf /a/ akan mengubah arti kata itu? Mengapa pula bukan Ramadon? Sejumlah pertanyaan itu biasanya diajukan oleh masyarakat yang hendak mengetahui sebab-musabab penulisan dan penggunaan kata Ramadan.

KBBI menggunakan kata Ramadan karena mengacu pada aturan penyerapan kosakata bahasa asing. Setiap kosakata asing yang hendak diserap dan menjadi warga baru dalam daftar kosakata bahasa Indonesia wajib mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia, termasuk kata Ramadhan yang diserap menjadi Ramadan.

Mengapa Ramadhan diserap menjadi Ramadan? Jawabannya yakni bahasa Indonesia tidak mengenal rangkap konsonan /dh/. Aturan itu diberlakukan secara konsisten oleh KBBI, tidak hanya pada kosakata dari bahasa Arab melainkan semua kosakata termasuk kosakata yang berasal dari bahasa daerah yang ada di Indonesia.

KBBI menggunakan kata Ramadan sebagai nama bulan ke-9 tahun Hijriah dengan arti yang ada di dalam KBBI. Tata aturan penyerapan kosakata bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia wajib mengikuti tata pedoman penyerapan bahasa asing. Penyerapan dapat saja dilakukan secara mutlak atau persis sama jika huruf-huruf dan pengucapan kata yang diserap itu sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sekali lagi, pedoman itu berlaku bagi semua bahasa asing, bahkan termasuk pada kosakata bahasa daerah yang hendak diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Berikut ini sejumlah kosakata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab antara lain rezeki (dari kata rizq), kalbu (dari kata qalbu), derajat (dari kata darajah), kabar (dari kata khabar), resmi (dari kata rasmiyyun), lafal (dari kata lafazh), dan masalah (dari kata mas-alatuna). Bunyi-bunyi /o/ dalam bahasa Arab diserap dan ditulis menjadi huruf /a/, misalnya pada salat (dari kata sholat), fitrah (dari kata fitroh), zalim dari kata zholim.

Sangat banyak kosakata dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia yang bentuk dan pengucapannya menjadi berbeda. Pengubahan atau penyesuaian ejaan dan lisan (pengucapan) dari bahasa asal ke dalam bahasa Indonesia bertujuan meng-Indonesia-kan setiap kata yang diserap.

Jika setiap kata yang diserap dari bahasa asing tidak melewati tahap atau proses penyesuaian, maka akan terjadi kesimpangsiuran ejaan dalam bahasa Indonesia. Padahal, setiap bahasa wajib memiliki tata bahasa yang baku agar pengguna bahasa memiliki kesamaan dan keselarasan pemahaman terhadap berbagai ejaan yang berlaku di Indonesia.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang menyerap banyak kosakata dari bahasa asing. Tercatat sekitar tiga ribuan kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Belanda, seribu lebih berasal dari bahasa Inggris. Kosakata dari bahasa Arab juga mewarnai kosakata bahasa Indonesia, termasuk dari bahasa Tionghoa, Portugis, Tamil, Jawa, dan sebagainya. Semua kosakata dari berbagai bahasa asing itu diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan mengikuti tahapan-tahapan aturan penyerapan yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten − 5 =