MENGENAL BAHASA MAKATIAN DI KEPULAUAN TANIMBAR

0
7

Erniati, S.S.

Peneliti pada Kantor Bahasa Maluku

 

Kepulauan Tanimbar terletak di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku. Penduduk yang menghuninya adalah suku Tanimbar. Kata Tanimbar biasanya digunakan untuk menunjukkan suku atau komunitas yang berdiam di Kepulauan Tanimbar, baik Pulau Besar maupun Pulau Kecil.

Berbagai cerita tentang asal-usul orang Tanimbar. Setiap marga memilki cerita sendiri-sendiri namun memilki kemiripan satu dengan yang lain. Menurut cerita masyarakat, orang Tanimbar sejak dahulu hidup bebas dan merdeka. Setiap keluarga hidup berkuasa atas kehidupannya, tidak diatur dalam suatu tatanan. Mereka hidup damai, walaupun meraka hidup dalam berbagai perbedaan. baik perbedaan pulau maupun perbedaan bahasa.

Bahasa yang dituturkan  di Kepulauan Tanimbar merupakan kelompok kecil rumpun bahasa Austronesia. Sejumlah  peneliti mengidentifikasi bahasa-bahasa daerah yang ada di Kepulauan Tanimbar. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang  sejak Tahun 2006 melakukan pemetaan bahasa di Indonesia termasuk di Kepulauan Tanimbar baru mengidentifikasi empat bahasa daerah. Yakni bahasa Yamdena, Fordata, Selaru, dan Seluarsa.

Selain keempat bahasa tersebut, ditemukan  satu isolek lain yang juga terdapat di Kepulauan Tanimbar. Keberadaan tentang adanya isolek ini diinformasikan  oleh masyarakat dan  pemerhati bahasa yang berasal dari Kepulauan Tanimbar. Isolek yang disebutkan tersebut adalah bahasa Makatian. Berbagai cara yang dilakukan dalam pencarian daring untuk mendapatkan informasi tentang bahasa Makatian, namun tidak satupun ditemukan. Oleh karena itu, sebagai lembaga yang memilki tugas pokok dan fungsi melestarikan bahasa daerah di Maluku, maka Kantor Bahasa  Maluku melalui Tim Pemetaan Bahasa melaksanakan pengambilan data bahasa Makatian. Tujuannya selain menginventarisasi kosakatanya juga akan menganalisis secara dialektometri bahasa Makatian, membuktikan secara ilmiah apakah bahasa Makatian merupakan bahasa atau kerabat dari bahasa-bahasa lain yang ada di Kepulauan Tanimbar.

Selanjutnya, tim Pemetaan Bahasa Kantor Bahasa Maluku, melakukan perjalanan ke wilayah tutur bahasa Makatian di Desa Makatian, Kecamatan Wermakatian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Untuk menjangkau ke wilayah tutur bahasa Makatian, Tim harus melakukan perjalanan dari Kota Ambon menuju ibu kota Kabupaten, yakni Kota Saumlaki. Kemudian kami menempuh perjalanan  darat menggunakan bis selama dua jam. Selanjutnya perjalanan melalui  jalan laut selama kurang lebih dua jam.

Bahasa Makatian hanya dituturkan pada satu desa. Meskipun begitu, penutur bahasa Makatian berbeda dengan penutur bahasa daerah lain yang kami jumpai wilayah lain di Maluku. Di Desa Makatian, masih dijumpai penutur bahasa dari kalangan anak-anak sampai orang tua. Namun tidak berarti bahasa Makatian terhindar dari kepunahan. Penyebabnya adalah jumlah penutur bahasa Makatian jumlahnya terbatas dibanding dengan bahasa daerah lain. Kondisi ini memungkinkan bahasa Makatian lambat laun akan mengalami pergeseran.

Proses pengambilan kosakata tidak menemukan banyak kendala. Namun, pada saat pengambilan data, sering terjadi kesalahan pengucapan oleh informan saat menyebutkan kosakata tertentu. Beberapa penuturan penduduk yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan kosakata asli bahasa Makatian harus mencari informan yang sesuai, yang menguasai bahasanya, yang tidak terlalu sering keluar dari wilayah tersebut. Mengapa demikian? Karena beberapa penutur telah melakukan perkawinan campur dengan penutur bahasa lain di sekitar wilayah tutur bahasa Makatian. Misalnya bahasa Seluarsa, bahasa Yamdena, bahasa Fordata, maupun bahasa Selaru. Sehingga pada saat berkomunikasi baik di lingkungan keluarga, masyarakat sering menggunakan dua bahasa secara bersama-sama.

Untuk menghindari keadaan tersebut, maka secara swadaya para tetua adat membuat organisasi yang tugasnya menyelamatkan bahasa Makatian. Organisasi ini disebut Tim Bahasa Makatian. Tujuan dibentuknya organiasasi ini adalah melestarikan bahasa Makatian dari kepunahan, mempertahankan keaslian kosakata bahasa Makatian, dan memperkenalkan bahasa Makatian kepada masyarakat luar khususnya masyaraka Kepulauan Tanimbar dan masyarakat Maluku pada umumnya  tentang keberadaan bahasa Makatian. Selain itu, Tim Bahasa Makatian ini juga telah melakukan berbagai cara untuk melestarikan bahasa Makatian. Mereka  membuat lagu-lagu bahasa daerah, menerjemahkan lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Makatian, dan  melestarikan tarian tradisional dengan diiringi syair berbahasa Makatian. Beberapa lagu bahasa daerah Makatian berhasil direkam oleh Tim Pemetaan Bahasa.

Keberadaan Tim Pemetaan Bahasa di Makatian menjadi angin segar bagi penutur bahasa Makatian, begitu banyak harapan yang diungkapkan oleh mereka terkait keberadaan bahasa Makatian. Sebagai pemerhati bahasa,  sepatutnyalah  bangga terhadap apa yang dilakukan oleh Tim Bahasa Makatian. Semoga bahasa Makatian bisa sejajar dengan bahasa-bahasa lain di Kepulauan Tanimbar.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × two =