Menyelamatkan Bahasa Daerah

0
147

MENYELAMATKAN BAHASA DAERAH

ERNIATI, S.S.

 

Fenomena penggunaan dua atau lebih bahasa di masyarakat akan muncul dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kedua bahasa itu hidup berdampingan secara seimbang dan memiliki kesetaraan. Kedua, salah satu bahasa itu menjadi lebih dominan, menjadi bahasa mayoritas, dan menjadi lebih berprestise, sementara kondisi bahasa lain menjadi sebaliknya bahkan terancam kepunahan. Menurut beberapa peneliti bahasa, kemungkinan yang kedua ini akan menjadi kenyataan di daerah-daerah pemakai bahasa daerah di Indonesia jika dikaitkan dengan bersandingnya bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah.

Berangkat dari kekhawatiran akan punahnya  bahasa daerah banyak dicemaskan oleh beberapa pihak termasuk UNESCO, maka  tanggal 21 Februari dicanangkan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional pada suatu konferensi bulan November 1999 dan mulai dirayakan secara serentak sejak tahun 2000.

Lalu mengapa kita harus belajar bahasa daerah? Ada beberapa alasan mendasar mengapa kepunahan  bahasa daerah  sangat dikhawatirkan. Yang pertama kali masyarakat harus sadari adalah setiap bangsa harus mengenal asal-usul mereka. Masyarakat harus mengetahui asal-usul nenek moyang dan cara hidup mereka agar masyarakat dapat mengenali diri sendiri. Jika suatu bangsa tidak tahu asal-usul nenek moyang mereka, itu dianggap seperti manusia yang lahir tanpa mengetahui siapa orang tuanya. Sebelum mempelajari asal-usul dan kehidupan nenek moyang, tentu masyarakat harus terlebih dahulu mempelajari bahasa yang digunakan oleh nenek moyang, yakni bahasa daerah. Karena bahasa daerah adalah identitas dan jati diri suatu bangsa atau suku bangsa di Indonesia.

Kedua, bahasa daerah merupakan  warisan yang sangat berharga, kekayaan yang tidak ternilai harganya. Bahasa daerah dapat menunjukkan keberadaan dan inteklektual masyarakat di kehidupan yang lalu. Oleh karenanya, sepatutunya kita menunjukkan kekayaan tersebut dengan rasa bangga.

Selain itu, bahasa daerah  memiliki jalinan erat dengan budaya sehingga tidak dapat dipisahkan. Tradisi budaya tidak akan berlangsung tanpa menggunakan bahasa daerah. Tanpa bahasa daerah budaya kita akan mati. Dikatakan demikian karena bahasa daerah adalah penyangga budaya, sebagian besar budaya terkandung di dalam bahasa dan diekspresikan melalui bahasa daerah, bukan dengan cara lain. Ketika berbicara tentang bahasa daerah sebagian besar yang dibicarakan adalah budaya. Selain itu, ada beberapa konsep kosakata tutur bahasa daerah tidak terwakili oleh konsep kosa kata bahasa Indonesia. Misalnya  dalam komunikasi budaya oleh penutur pada acara adat, ada konsep yang  tidak terwakili oleh kosakata bahasa Indonesia sehingga harus menggunakan bahasa daerah. Fenomena tersebutlah yang mendorong masyarakat untuk tetap melestarikan pemakaian bahasa daerah.

Usaha menghambat atau mencegah laju kepunahan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Salah satunya dengan menggunakan bahasa daerah tersebut dalam keseharian terutama bagi kaum muda. Mempelajari di sekolah dan berkomunikasi bersama keluarga dengan menggunakan bahasa daerah juga merupakan alternatif dalam melestarikan penggunaan bahasa daerah. Selain itu, sejatinya bahasa daerah harus memiliki fungsi yang lebih daripada sekadar menjadi alat komunikasi lisan tetapi bahasa daerah juga harus memilki fungsi etika dan estetika agar masyarakat dapat melestarikan bahasa daerah dengan rasa tanggung jawab.

Fungsi etika dimaksudkan agar masyarakat dapat mendidik generasi muda menggunakan bahasa daerah yang sempurna sesuai kedudukan dan derajat sosial masyarakat. Seperti  diketahui bersama bahwa tataran masyarakat Indonesia di berbagai daerah memiliki kelas atau strata sosial yang berbeda. Tercatat pula dalam sejarah bahwa bahasa daerah memiliki tingkatan khusus untuk membedakan tutur kata kelas-kelas masyarakat. Berbagai peninggalan sejarah tertulis yang menggunakan berupa simbol-simbol bahasa daerah. Dan untuk menginterpretasikan kemudian  memahami maknanya  tentu harus mempelajari bahasa daerah.

Sedangkan dari segi fungsi estetika, sangat penting bahasa daerah menjadi alat untuk menunjukkan suatu keindahan atau ciri khas daerah penutur. Sebagai sebuah fungsi estetika tentu saja bahasa daerah dapat dimanfaatkan atau digunakan sebagi alat untuk membuat karya sastra, misalnya lagu-lagu daerah dan puisi. Ketika masyarakat dapat merasakan keindahan bahasa daerah lewat karya diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga mengunakan bahasa daerahnya.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 − five =