Asrif

Kantor Bahasa Maluku, Kemendikbud

 

Saat menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Berbahasa Indonesia di sejumlah daerah di Provinsi Maluku, acapkali peserta bertanya tentang asal mula kata beta. Dari peserta, saya memperoleh informasi bahwa kata beta, selain digunakan oleh masyarakat Provinsi Maluku juga digunakan oleh masyarakat yang bermukim di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kata beta tersebut digunakan secara aktif dalam tuturan sehari-hari. Demikian pula halnya dalam lagu-lagu lokal masyarakat Maluku dan masyarakat NTT, kata beta hadir sebagai sinonim dari kata “saya”.

Selain pada tuturan masyarakat Maluku dan masyarakat NTT, kata beta juga terdengar dalam lirik lagu-lagu nasional. Kata beta, setidaknya terdapat dalam dua buah lagu nasional, yakni lagu Indonesia Pusaka dan lagu Halo-Halo Bandung. Pada kedua lagu tersebut, kata beta hadir berulang kali di antara diksi-diksi bahasa Indonesia standar (baku). Kata beta dalam lagu Indonesia Pusaka ,yakni terdapat pada larik “Indonesia tanah air beta … Di sana tempat lahir beta”. Begitu pula halnya pada lagu Halo-Halo Bandung, kata beta terdapat pada larik “…Sudah lama beta  Tidak berjumpa dengan kau”. Demikian pula Chairil Anwar dalam puisinya berjudul Cerita Buat Dien Tamaela menggunakan kata beta sebagaimana pada larik “Beta Pattirajawane.

Lantas, dari daerah manakah kata itu berasal?  Apa sebenarnya arti kata beta itu?

Rupanya, kata beta telah lama digunakan oleh masyarakat Nusantara, bahkan kata itu telah tercatat di dalam kamus bahasa Melayu—bahasa Inggris yang terbit pada 1812. Kamus tersebut disusun oleh William Marsdem (linguis dan perintis studi ilmiah mengenai Indonesia) mengartikan kata beta sebagai kata ganti aku dan saya (Wisnu Widiarta dalam id.iquora.com). Selain William Marsdem, William Edward Maxwell (seorang perwira Inggris Raya yang bertugas di Semenanjung Malaya pada akhir abad ke-19) dalam A Manual of the Language (1882) mengartikan beta sebagai aku, sahaya, hamba, dan lain-lain. Menurutnya, arti kata beta bergantung pada situasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata beta telah ada. Berarti kata itu telah diterima dan menjadi kosakata baku bahasa Indonesia yang dapat digunakan secara nasional. Kata beta memiliki arti 1) saya (digunakan) orang-orang besar pada zaman dahulu dalam cerita klasik Melayu, penyair dalam karya sastra masa kemudian, atau masyarakat di Maluku; 2) nama huruf ke-2 dalam abjad Yunani; 3) sarung pengantin laki-laki (pada masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara).

Berdasar pada sejumlah sumber di atas, maka dapat dipahami bahwa kata beta telah lama digunakan oleh masyarakat Melayu. Kata tersebut digunakan oleh para bangsawan Melayu sebagai pengganti kata saya atau aku. Selain dalam lisan, kata tersebut digunakan dalam naskah-naskah kesusasteraan Melayu.

Pertanyaan kemudian, mengapa kata beta juga terdapat dalam kosakata sehari-hari masyarakat Maluku dan masyarakat Nusa Tenggara Timur? Untuk menjawab pertanyaan itu, catatan James T. Collins (2010), dapat digunakan untuk melihat relasi bahasa antara Melayu dan bahasa sehari-hari yang digunakan di Provinsi Maluku dan sekitarnya. Collins merupakan seorang linguis berkebangsaan Amerika Serikat yang melakukan penelitian bahasa-bahasa daerah di Maluku sejak tahun 1972.

Dalam catatannya, Collins melihat relasi bahasa Melayu dengan bahasa di wilayah Maluku dengan istilah Bahasa Melayu Maluku (BMM). BMM dikelompokkan ke dalam dua sebaran, yakni BMM kelompok 1) bahasa Melayu Ternate—Menado dan 2) kelompok bahasa Melayu Ambon—Kupang. Kedua kelompok itu, menurut Collins berdampak pada lahirnya dialek Melayu Papua. Dialek Melayu Papua lahir sebagai interaksi mula-mula dengan Ternate—Papua yang kemudian disusul oleh interaksi Ambon—Papua. Hasil dari interaksi kedua kelompok itu justru melahirkan varian baru yang disebut sebagai dialek Melayu—Papua.

Dari penjelasan Collins di atas, muncul dugaan kuat bahwa kata beta di Indonesia bagian timur merupakan kata serapan dari bahasa Melayu. Kata tersebut lahir sebagai hasil relasi kuat bahasa Melayu dengan bahasa-bahasa lokal di wilayah Indonesia timur, terutama di Kota Ambon. Selain dibawa oleh para saudagar Melayu, kata beta makin populer terutama pada masa pendudukan kolonial Belanda. Pada masa kolonial, bahasa Melayu bahkan menjadi bahasa utama di wilayah Maluku dan Papua.

Pengutamaan bahasa Melayu itu berdampak pada hadirnya kosakata Melayu sebagai kosakata yang hari ini dikenal sebagai dialek Melayu Ambon, termasuk hadirnya kata beta dalam tuturan masyarakat Ambon dan Kupang. Kata beta yang semula digunakan secara terbatas pada masyarakat Melayu justru menjadi kata umum pada masyarakat Maluku. Kata beta tidak lagi hanya menjadi milik para bangsawan Melayu, tetapi juga kata yang dapat dipakai oleh siapa pun, terutama di Maluku dan NTT. Sebab itulah, kata beta terasa sangat Maluku, bukan Melayu.

Kajian diaspora bahasa termasuk kata di dalamnya merupakan salah satu kajian linguistik yang menarik. Di tempatnya berdiaspora, sebuah kata kadangkala mengalami proses pelokalan atau proses naturalisasi sehingga bentuk aslinya kadangkala sudah sulit terlihat lagi. Tidak hanya pada bentuk kata, tetapi juga termasuk pada arti kata. Kata bisa mengalami perluasan makna atau sebaliknya mengalami penyempitan makna.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.