Kesantunan Berbahasa

0
2540

Oleh: Harlin, S.S.
(Peneliti Bahasa Kantor Bahasa Maluku)

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak bisa lepas dari dalam diri manusia. Bahasa selalu hadir dalam segala aktivitas atau kegiatan manusia. Malah sampai pada bermimpipun, bahasa itu tetap selalu ikut serta. Bahasa bisa membuat kita banyak teman atau disenangi orang, tetapi juga bisa membuat kita banyak musuh atau dibenci orang. Oleh karena itu kita harus memiliki kesantunan dalam berbahasa.

Kesantunan, kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang  berlaku dalam masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan kesantunan atau santun adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan. Jadi kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara  berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekadar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tata cara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur  budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam  berkomunikasi. Apabila tata cara berbahasa seseorang tidak sopan dan tidak  sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya. Kesantunan berbahasa seseorang mencermikan sikap kepribadiannya.

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh pemakai bahasa dalam berkomunikasi agar tuturan yang disampaikan santun dan tidak melanggar norma.

  1. Jangan mempermalukan lawan tutur. Hindari kata bernada mengejek, menyepelekan, menghina, dan merendahkan lawan tutur. Contoh:

“Anak itu bukan malas, melainkan goblok”.

Bandingkan:

“Anak Ibu sebetulnya cukup pandai, hanya kadang-kadang kurang tekun.

  1. Jangan menyombongkan diri, membanggakan diri, atau memuji diri di hadapan lawan tutur.

“Anakku itu memang hebat, selalu menjadi juara kelas dan baru lulus ujian nasional dengan angka rata-rata sembilan koma lima kemarin.

Bandingkan:

“Anakku sebenarnya biasa-biasa saja, cuma tekun sehingga sering menjadi juara kelas, dan dalam ujian nasional lulus dengan angka lumayan.

  1. Jangan menghina atau menjelek-jelekkan milik orang lain sehingga orang tersebut merasa tidak senang dan marah.

“Motormu yang sudah butut itu buang saja ke got.

Bandingkan:

“Motormu ini bila dirawat  dengan baik tentu tampaknya lebih bagus; saya pun masih ingin memilikinya.

  1. Jangan menunjukkan perasaan senang terhadap kemalangan yang dialami orang lain.

“Nenekmu meninggal di kampung, tidak apalah karena semua orang juga akan meninggal”.

Bandingkan:

Saya turut sedih atas meninggalnya nenekmu di kampung; tabahlah, semua kita juga akan mengalami hal yang sama.

  1. Jangan menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksepakatan dengan lawan tutur.

“Saya tidak sepakat kalau kamu mau menyelesaikan pekerjaan itu seorang diri”.

Bandingkan:

“Saya yakin kamu bisa menyelesaikan; tetapi bagaimana kalau kita kerjakan berdua, mungkin hasilnya akan lebih baik.

  1. Jangan gunakan kalimat langsung untuk menyuruh atau menolak suatu permintaan dari lawan tutur.

“Antarkan surat ini ke kantor Bupati!”

Bandingkan:

“Kalau Anda tidak berkeberatan bisakah Anda mengantarkan surat ini ke kantor Bupati”.

  1. Jangan memaksa lawan tutur Anda untuk melakukan sesuatu.

“Anda harus datang ke rumah saya besok sore”.

Bandingkan:

“Dapatkah Anda datang ke rumah saya besok sore?”

Selain beberapa hal yang perlu dihindari dalam bertutur, ada juga beberapa hal yang harus dilakukan oleh petutur agar tuturan santun dan tidak melanggar norma.

  1. Membuat lawan tutur merasa senang.

A    : Saya memerlukan uang tiga ratus ribu untuk membayar sewa rumah bulan ini.

B     : Jangan khawatir kebetulan saya punya, nanti saya pinjamkan.

  1. Memberi pujian kepada lawan tutur.

A    : Tulisanku tentang suka duka anak jalanan dimuat dalam surat kabar yang terbit di            Jakarta.

B    : O, selamat ya, kamu memang hebat.

  1. Menunjukkan persetujuan kepada lawan tutur

A    : Setelah lulus kuliah nanti saya ingin kembali ke daerah menjadi guru di sana.

B     : Saya setuju sekali sebab kalau bukan putra daerah yang membangun daerahnya,   siapa lagi?

  1. Sebagai penutur kita harus bersikap rendah terhadap lawan tutur,

A   : Kemeja yang kamu pakai bagus sekali, beli di mana?

B   : Ah, ini cuma kemeja murahan. Belinya pada pedagang di pinggir jalan

  1. Penutur harus memberi simpati pada lawan tutur.

A  : Rumah orang tuaku di daerah hancur tertimbun longsor.

B  : Saya turut sedih mendengarnya. Ya, rupanya bencana alam tidak memilih-milih korban.

  1. Menggunakan kosakata yang secara sosial budaya terasa lebih santun dan sopan.

A   : Dia dikuburkan di kota kelahiranya

Bandingkan:

A  : Beliau dimakamkan di kota kelahirannya.

  1. Menggunakan kata sapaan dan kata ganti yang sesuai dengan identitas sosial penutur dan lawan tutur.

A   : Bu, apakah ibu akan mengadakan ujian susulan?

B   : Ya, minggu depan.

  1. Menggunakan kata “maaf” bila harus menyebutkan kata-kata yang dianggap tabu.

Hasil visum dokter menyatakan bahwa, “maaf” selaput darah jenazah telah robek.

  1. Menggunakan kalimat tidak langsung dalam menyuruh.

Ruangan ini terasa panas sekali. (Misalnya ucapan seorang dosen kepada para mahasiswanya dengan maksud  menyuruh membuka jendela).

  1. Menggunakan kalimat “berputar”

A   : Saya ingin mengajak makan malam hari ini di rumah, saya.

B  : Wah, undangan yang sangat menarik; tetapi malam ini rasanya tidak bisa karena harus mengantar ibu ke dokter, bagaimana kalau hari lain?

  1. Dalam meminta maaf gunakan kata “maaf” yang disertai dengan penjelasan dan akan lebih santun lagi kalau diawali dengan kata “mohon”

Mohon maaf atas kenakalan anak-anak saya.

  1. Gunakan kata” mohon” untuk meminta batuan,

Mohon untuk tidak merokok di ruangan ini

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.