Modifikasi Teks Cerita Rakyat Menjadi Naskah Drama: Upaya Meningkatkan Budaya Literasi

0
4117

Oleh: Faradika Darman, S.S.
(Pengkaji Bahasa dan Sastra Kantor Bahasa Maluku)

Apa itu literasi? Ya, bagi sebagian besar orang mungkin telah megetahui apa itu literasi, bahkan akhir-akhir ini literasi menjadi pembicaraan hangat di lingkungan sekolah, akademisi, komunitas-komunitas baca, dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan karena literasi adalah satu gerakan nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Permendikbud 23 Tahun 2015 guna menciptakan ekosistem sekolah dan masyarakat berbudaya baca tulis. Berbicara tentang literasi, fokus kita tidak hanya pada kegiatan membaca dan menulis. Namun secara lebih mendalam, literasi adalah kegiatan kompleks untuk mencapai kecakapan hidup. Hal ini sejalan dengan penyampaian oleh Kepala Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Gufran Ali Ibrahim,  dalam pelatihan fasilitator literasi (3-4 Juni 2016) bahwa tahapan dalam berliterasi dimulai dengan kegiatan baca, tulis, dan hitung yang pada akhirnya sampai pada tingkatan akhir yaitu pencapaian pengetahuan dan kecakapan hidup untuk berpartisipasi dalam komunitas dan masyarakat luas.

Kegiatan membaca dan menulis yang sedang gencar disosialisasikan ini patutnya dikemas menjadi sesuatu yang lebih menarik dan memerhatikan perkembangan zaman. Hal itu tentunya tidak terlepas dari budaya yang sudah hidup dalam masyarakat. Mengubah hal-hal yang telah menjadi suatu kebiasaan bukanlah hal yang mudah, namun juga bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Seperti halnya Maluku yang terbiasa dengan budaya lisan atau budaya tutur, cerita rakyat seperti legenda, dongeng, mitos, dan produk-produk budaya lainnya sangat jarang ditemukan. Sebagian besar hanya tersimpan dipikiran orang tua dan berkembang dari mulut ke mulut. Padahal, jika cerita ini dapat dibukukan dan dibaca oleh anak-anak/generasi muda, hal ini akan menjadi suatu pembelajaran penting, tidak hanya meningkatkan budaya baca, namun generasi muda dapat mempelajari atau mengetahui sejarah dan budaya lokalnya sendiri. Untuk mengembangkan suatu budaya baca tulis di lingkungan masyarakat dan ekosistem sekolah, kita tidak berhenti sampai di situ. Cerita-cerita rakyat tersebut dapat diceritakan ulang dengan memodifikasi cerita menjadi sebuah naskah drama. Untuk memodifikasi cerita ini, perlu adanya pemahaman yang jelas tentang cerita tersebut. Setelah dipahami, terjadilah suatu proses berpikir ilmiah untuk mencari cara bagaimana menuangkan ide atau gagasan yang ada di dalam cerita tersebut menjadi satu dialog yang tetunya terasa lebih nyata jika dibaca. Kegiatan ini telah mencakup 3 hal yaitu membaca dan menulis mandiri, berpikir ilmiah, menceritakan ulang cerita, dan memperbanyak kosakata budaya daerah.

Hal utama yang dilakukan untuk memodifikasi cerita rakyat menjadi teks drama adalah membaca secara utuh teks cerita rakyat. Kemudian, ditentukan setiap elemen yang terdapat dalam cerita yaitu tokoh, latar cerita, alur, sudut pandang, dan lain-lain. Untuk memudahkan ketika menuangkan ide dalam menulis naskah drama, sebelumnya harus dibuat terlebih dahulu peta konsep cerita (tokoh utama, tokoh pendukung, latar, masalah dan penyelesaian), peta alur (awal, tengah, akhir), dan peta perubahan tokoh. Setelah itu, teks drama dapat disusun berdasarkan elemen-elemen dalam cerita tanpa mengubah tema, karakter tokoh, dan alur di dalamnya. Penambahan-penambahan latar atau alur boleh saja dilakukan namun tetap memerhatikan keseluruhan isi cerita. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan yaitu jika cerita produk budaya lisan yang di dalamnya belum dipisahkan antara pembaca anak dan dewasa, maka dalam modifikasi cerita menjadi produk budaya tulis pembaca anak dan dewasa mulai dipisahkan serta tujuan cerita sebelumnya adalah mendidik ditransformasikan menjadi cerita yang mendidik dan juga menghibur. Pembelajaran literasi dengan memodifikasi teks cerita adalah salah satu upaya untuk meningkatkan budaya literasi dengan memanfaatkan produk budaya lokal.

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.