Helmina Kastanya

(Pengkaji Kebahasaan dan Kesastraan, Kantor Bahasa Maluku)

 

Maluku Satu Darah adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna mendalam. Ungkapan ini memiliki kekuatan besar untuk menyatukan seluruh anak Maluku di berbagai pelosok tanah air bahkan di berbagai belahan bumi. Ungkapan Satu Darah juga dipopulerkan oleh salah satu geng motor di Belanda. Jika di Amerika ada Halls Angel yang merupakan geng motor berbahaya, di Belanda juga ada geng motor yang paling disegani yaitu geng motor Satu Darah. Pendirinya adalah orang Indonesia asal Ambon. Geng motor ini didirikan pada tahun 1990 oleh warga Maluku atau keturunan Maluku di Belanda. Akar persaudaraan yang erat dan solid menjadi semangat mereka menguatkan ikatan persaudaraan. Pela keras, pela gandong, dan pela tampa siri menjadi tonggak kesolidan geng motor ini di Belanda. Jika diamati pada beberapa media daring dapat dilihat eksistensi geng motor ini dengan tulisan menarik di setiap atribut yang mereka kenakan.

Berbeda dengan penggunaannya oleh geng motor di Belanda, ungkapan Maluku Satu Darah dapat dimaknai dengan  berbagai pendekatan. Salah satu kajian sastra yang dapat menggambarkan makna dibalik ungkapan ini adalah dengan pendekatan tuturan lisan. Tuturan lisan yang dimaksudkan di sini adalah kisah-kisah masa lampau yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi yang terbingkai dalam sebuah cerita rakyat.

Sejumlah fakta sejarah tertuang dalam kisah masa lampau yang dituturkan oleh masyarakat memberikan gambaran bahwa Maluku Satu Darah. Masyarakat Maluku berasal dari satu suku bangsa kemudian menyebar ke berbagai wilayah yang ada. Sebagian besar kisah sejarah terbentuknya negeri-negeri yang ada di Maluku terutama di Pulau Ambon, Pulau Lease, Pulau Buru, dan Pulau Seram memiliki satu sumber yang sama. Kisah Nunusaku sebagai sejarah awal kehidupan masyarakat Maluku merupakan salah satu titik pemaknaan Maluku Satu Darah. Umumnya sejarah masa lampau masyarakat Maluku menyebutkan bahwa diri mereka berasal dari Pulau Seram. Nunusaku sebagai pusat kehidupan masyarakat pada zaman dulu merupakan nama salah satu wilayah di Pulau Seram yang tidak pernah asing di masyarakat Maluku. Oleh sebagian orang, Nunusaku dianggap sebagai daerah asal masyarakat yang ada di Maluku.

Beberapa sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa pada mulanya sebagian besar masyarakat di Maluku hidup bersama dan menempati satu wilayah yaitu di pertuanan Nunusaku. Kehidupan di Nunusaku bagaikan sebuah kerajaan. Rakyat hidup dengan rukun dan damai di bawah pimpinan seorang raja. Negeri yang subur dan kaya akan hasil alam sangat mendukung kemakmuran masyarakat pada zaman dulu. Setiap keindahan dan kenyamanan diciptakan oleh masyarakat dan lingkungan alam itu sendiri. Hingga pada suatu masa terjadi peperangan antarmasyarakat setempat yang mengakibatkan terjadinya perpecahan di Nunusaku. Peperangan yang terjadi karena ulah mereka sendiri. Ada rasa iri hati dalam diri yang mengakibatkan sejumlah orang tega melakukan kekerasan dan berujung pada pembunuhan berencana terhadap seorang putri raja yang bernama Hainuwele.

Kematian Putri Hainuwele di Nunusaku inilah yang menjadi sejarah awal pembentukan negeri-negeri di hampir sebagian besar wilayah Maluku. Peperangan pun mulai terjadi di antara masyarakat. Rakyat mulai menyebar dan mencari tempat aman untuk didiami. Pencarian tempat aman menjadi cikal-bakal lahirnya berbagai negeri di Maluku. Masyarakat mulai meninggalkan Nunusaku dan memilih tinggal di daerah lain yang dirasa aman. Banyak yang masih tetap mencari tempat aman di dalam Pulau Seram, namun tidak sedikit juga yang meninggalkan Pulau Seram lalu mencari tempat aman di pulau-pulau terdekat seperti Pulau Ambon, Buru, dan Lease.

Kehidupan setelah peperangan di Nunusaku menjadi sebuah kisah tersendiri bagi setiap negeri. Kehidupan yang masih dipenuhi peperangan untuk saling merebut daerah kekuasaan menjadi bagian dari bingkai kehidupan masyarakat Maluku pada zaman dulu. Di sisi lain, perang di Nunusaku masih terus membekas dalam kehidupan masyarakat, menjadi ukiran sejarah yang tidak akan lekang oleh waktu, bahkan sampai saat ini gambaran kehidupan Maluku Satu Darah masih melekat dalam berbagai kebudayaan dan tradisi masyarakat.

Dalam bentuk tarian Cakalele yang merupakan tarian perang. Tarian ini adalah salah satu bentuk apresiasi masyarakat Maluku dari generasi ke generasi terhadap kehidupan mereka pada awalnya. Tradisi panas pela sebagian daerah merupakan bentuk tardisi mengenang terjadinya perdamaian setelah sebuah peristiwa besar yang dialami kedua negeri atau lebih.

Ungkapan Maluku Satu Darah kiranya tidak hanya sebatas tulisan yang dibanggakan pada kaos yang dikenakan, tidak hanya sebatas tulisan pada tempat menongkrong atau tidak hanya sebatas stiker yang ditempelkan pada kendaraan. Ungkapan ini kiranya memberikan makna yang mendalam bagi seluruh masyarakat Maluku bahwa kita berasal dari satu suku. Pernah menetap di satu petuanan yang sama dan pernah membangun kehidupan bersama tanpa ada perbedaan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.