Variasi Bahasa Bagian Kedua

0
4281

Harlin

(Peneliti Pertama, Kantor Bahasa Maluku)

 

Seperti pada bagian pertama tulisan ini dipaparkan bahwa variasi bahasa ditinjau dari sosiolek atau dialek sosial terdiri atas: variasi bahasa berdasarkan usia, variasi berdasarkan pendidikan, variasi berdasarkan jenis kelamin, variasi berdasarkan pekerjaan, variasi berdasarkan tingkat kebangsawanan, variasi berdasarkan keadaan sosial ekonomi. Untuk variasi berdasarkan usia, pendidikan, jenis kelamin telah dijelaskan secara detail pada bagian pertama tulisan ini. Untuk bagian kedua berikut penjelasannya.

  1. Variasi bahasa berdasarkan pekerjaan

Variasi bahasa ini berkaitan dengan jenis profesi, pekerjaan, dan tugas  para pengguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh buruh, guru dan dokter tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa. Guru misalnya menggunakan kata-kata siswa, kurikulum, ujian semester, rapor, dan lain-lain, yang berbeda dengan variasi bahasa dokter yang menggunakan jarum suntik, resep, obat dan lain-lain.

  1. Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan

Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan adalah variasi bahasa yang terkait dengan tingkat dan kedudukan (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosakata, seperti kata mati untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat. Di Bali, misalnya masyarakat yang memiliki kasta brahmana mengunakan kata “ngajeng” untuk aktivitas makan, sedangkan masyarakat sudra menggunakan kata “medaar” untuk aktivitas makan.

  1. Variasi bahasa berdasarkan keadaan sosial ekonomi

Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan, hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah. Masyarakat miskin misalnya menggunakan kata nasi jagung dan nasi kuning, sedangkan orang kaya menggunakan kata pizza, burger, spagheti dan lain-lain untuk mengacu pada jenis  makanan.

Variasi bahasa berkenaan dengan tingkat, golongan, status dan kelas sosial penuturnya, disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Ada juga yang menambahkan dengan yang disebut bahasa prokem.

1) Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya. Sebagai contoh akrolek ini adalah yang disebut bahasa bagongan, yaitu variasi bahasa Jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton Jawa.

2) Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dipandang rendah. Contoh basilek adalah bahasa Inggris yang digunakan oleh para cowboy dan kuli tambang. Begitu juga bahasa Jawa “krama ndesa”.

3) Vulgar adalah variasi sosial yang  dipakai oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan mereka yang tidak berpendidikan.

4) Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu.

5) Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata kolokial berasal dari kata colloquium (percakapan). Jadi, kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulisan. Juga tidak tepat kalau kolokial ini disebut bersifat “kampungan” atau bahasa kelas golongan bawah, sebab yang penting adalah konteks dalam pemakaiannya.

6) Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun, ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia.

7) Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot ini adalah pada kosakata.

8) Ken adalah variasi sosial tertentu yang bernada “memelas” dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Variasi ini biasanya digunakan oleh para pengemis.

 

  1. Variasi dari Segi Pemakaian

Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi bahasa ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Variasi bahasa berdasarkan bidang kegiatan ini yang paling tampak cirinya adalah dalam bidang kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai sejumlah kosakata khusus atau tertentu yang tidak digunakan dalam bidang lain. Namun demikian, variasi berdasarkan bidang kegiatan ini tampak pula dalam tataran morfologi dan sintaksis.

Variasi bahasa atau ragam bahasa sastra biasanya menekankan bahasa dari segi estetis, sehingga dipilihlah dan digunakanlah kosakata yang secara estetis memiliki ciri eufoni serta daya ungkap yang paling tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalistik harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasaan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas adalah ragam bahasa yang menunjukkan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.

Ragam bahasa militer dikenal dengan cirinya yang ringkas dan bersifat tegas, sesuai dengan tugas dan kehidupan kemiliteran yang penuh dengan disiplin dan instruksi. Ragam militer di Indonesia dikenal dengan cirinya yang memerlukan ketegasan yang dipenuhi dengan berbagai singkatan dan akronim.

Ragam bahasa ilmiah  yang juga dikenal dengan cirinya yang lugas, jelas, dan bebas dari keambiguan, serta segala macam metafora dan idiom. Bebas dari segala keambiguan karena bahasa ilmiah harus memberikan informasi keilmuan secara jelas, tanpa keraguan akan makna, dan terbebas dari kemungkinan tafsiran makna yang berbeda. Oleh karena itulah, bahasa ilmiah tidak menggunakan segala metafora dan idiom.

 

  1. Variasi dari Segi Keformalan

Berdasarkan tingkat keformalan, Martin Joos (dalam Chaer dan Agustina, 1995: 92), membagi variasi bahasa atas lima macam gaya atau ragam sebagai berikut.

(1)   Gaya atau ragam beku (frozen)

Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di masjid, tata cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akta notaris, dan surat-surat keputusan. Disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah.

(2)   Gaya atau ragam resmi (formal)

Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran dan sebagainya. Pola dan kaidah resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan dalam situasi resmi, dan tidak dalam situasi yang tidak resmi.

(3)   Gaya atau ragam usaha (konsultatif)

Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional. Wujud ragam bahasa ini berada di antara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.

(4)   Gaya atau ragam santai (kasual)

Ragam santai atau ragam kasual adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dan sebagainya.

(5)   Gaya atau ragam akrab (intimate)

Ragam akrab atau ragam intim adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antaranggota keluarga atau antarteman yang sudah karib. Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang seringkali tidak jelas. Hal ini terjadi karena di antara partisipan sudah ada saling pengertian dan memiliki pengetahuan yang sama.

 

  1. Variasi dari Segi Sarana

Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi jalur yang digunakan. Dalam hal ini ada ragam lisan dan ragam tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, yakni dalam bertelepon atau bertelegraf. Adanya ragam bahasa lisan dan bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud struktur ini adalah karena dalam berbahasa lisan atau dalam mneyampaikan informasi secara lisan, kita dibantu oleh unsur-unsur nonsegmental atau unsur nonlinguistik yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gejala-gejala fisik lainnya.

Selanjutnya, menyatakan bahwa  perbedaan-perbedaan bahasa yang disebut dengan variasi bahasa akan menghasilkan ragam bahasa yang disebut dengan istilah-istilah yang berlainan. Ragam bahasa yang berhubungan dengan daerah atau letak geografis disebut dengan dialek; ragam bahasa yang berhubungan dengan kelompok sosial disebut dengan sosiolek; ragam bahasa yang berhubungan dengan situasi berbahasa atau tingkat formalitas disebut dengan fungsiolek; dan ragam bahasa yang dihasilkan oleh perubahan bahasa sehubungan dengan perkembangan waktu disebut bahasa yang lain-lain, atau kalau perbedaan itu masih dianggap perbedaan ragam dalam satu bahasa, kita dapat sebut ragam itu secara analog kronolek.

Lebih lanjut Nababan membagi variasi bahasa menjadi empat kajian, yaitu (1) kajian variasi dalam linguistik umum; (2) kajian historis komparatif; (3) kajian dialektologi; (4) kajian sosiolinguistik. Berikut ini pemaparan tentang masing-masing kajian variasi bahasa.

(1) Kajian Variasi dalam Linguistik Umum

Dalam kajian ini, variasi dalam bahasa dikaji menjadi dua bagian. Yang pertama adalah variasi internal (variasi sistemik). Variasi ini adalah variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor-faktor dalam bahasa itu sendiri. Variasi inilah yang lebih lambat berubah dalam jalannya waktu. Menurut Ferdinant de Sausssure (dalam Nababan, 1991: 16), variasi internal ini harus dianalisis dengan konsep tingkat yaitu bahwa perbedaan-perbedaan seperti ini adalah berbeda dalam tingkat (parole), tetapi sama dalam tingkat yang lain (langue). Selanjutnya, ciri variasi seperti ini dikaji dalam linguistik umum. Konsep tentang langue-parole inilah yang mendasari analisis linguistik, khususnya dalam penentuan/identifikasi unsur-unsur bahasa, terutama mengenai morfologi dan fonologi.

Yang kedua adalah variasi eksternal (variasi ekstrasistemik). Variasi ini adalah variasai yan berhubungan dengan faktor-faktor di luar sistem bahasa itu sendiri. Dalam hal ini, variasi berdasarkan daerah asal penutur, kelompok sosial, situasi berbahasa, dan zaman penggunaan bahasa termasuk ke dalam variasi eksternal.

(2) Kajian Historis Komparatif

Yang dikaji dalam kajian historis komparatif adalah materi yang sama tetapi dengan tujuan yang berbeda dan oleh karena itu dengan metode yang berbeda. Materi yang sama berupa bahasa yang berbeda-beda, yaitu yang tidak sama, sebagai hasil dari jalannya waktu dan keseringan komunikasi antara dua kelompok pemakai bahasa. Perbedaan bahasa yang muncul seperti tersebut di atas adalah timbul dari sifat hakiki bahasa, yaitu tata bunyi bahasa sedikit demi sedikit berubah. Dalam kajian historis komparatif ini menunjukkan bahwa bahasa itu bervariasi sehingga diperlukan suatu kajian untuk dapat digunakan menentukan penggolongan bahasa-bahasa yang ada.

(3) Kajian Dialektologi

Kajian lain dari manifestasi variasi bahasa adalah dialektologi. Dalam pemetaan variasi dialek dari bahasa yang dipergunakan konsep isaglos, yaitu garis yang menghubungkan dua tempat yang menunjukkan ciri atau unsur yang berbeda. Unsur atau ciri yang dikaji adalah dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis dan atau leksis.

(4) Kajian Sosiolinguistik

Kajian sosiolinguistik adalah penggunaan bahasa. Dalam hal ini kajian sosiolinguistik mencakup sosiolek dan fungsiolek. Dapat dikatakan bahwa variasi bahasa yang timbul akibat dari penggunaan bahasa.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.