Harlin

(Peneliti Pertama, Kantor Bahasa Maluku)

 

Variasi bahasa menurut Aslinda adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya. Variasi atau keragaman bahasa disebabkan karena banyaknya bahasa yang digunakan oleh masyarakat untuk berinteraksi antarsesama masyarakat. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sangat berpengaruh dalam perkembangan keragaman bahasa.

Bahasa akan semakin beragam dan bertambah jika bahasa tersebut digunakan oleh suatu kelompok masyarakat yang banyak. Seperti, bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional, digunakan oleh masyarakat internasional, begitu juga bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bell, mengemukakan bahwa variasi-variasi bahasa yang ada di masyarakat bersifat sistematis dan bukan bersifat acak, karena bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu bentuk dan makna. Aspek bentuk meliputi bunyi, tulisan, dan strukturnya. Aspek makna meliputi makna leksikal, fungsional, dan struktural. Jika diperhatikan lebih rinci lagi, kita akan melihat bahasa dalam bentuk dan maknanya menunjukkan perbedaan kecil maupun perbedaan yang besar antara pengungkapan yang satu dengan pengungkapan yang lainnya. Misalnya, perbedaan dalam hal pengucapan /a/ yang diucapkan oleh seseorang dari waktu satu ke waktu yang lain. Begitu juga dalam hal pengucapan kata /putih/ dari waktu yang satu ke waktu yang lain mengalami perbedaan. Perbedaan-perbedaan bentuk bahasa seperti ini dan yang lainnya dapat disebut dengan variasi bahasa.

Kenyataan yang dapat dilihat di lapangan adalah pada pemakaian kata /aku/ dan /saya/. Pemakaian kata /aku/ dipakai pada suatu keadaan sosial. Kemudian kata /saya/ dipakai pada suatu keadaan sosial yan lainnya. Contoh lain adalah penggunaan kata /keok/ di suatu daerah, sedangkan di daerah lain dipakai kata /kalah/. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan atau variasi bahasa. Variasi bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh penuturnya yang tidak homogen. Setiap kegiatan memerlukan atau menyebabkan terjadinya keragaman bahasa. keragaman ini akan semakin bertambah kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat banyak, serta dalam wilayah yang sangat luas. Menurut Abdul Chaer dan L. Agustina, dalam hal variasi bahasa atau ragam bahasa ini terdapat dua pandangan. Pertama, variasi atau ragam bahasa dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi, variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Andaikata penutur bahasa itu adalah kelompok yang homogen, baik etnis, status sosial maupun lapangan pekerjaannya, maka variasi atau keragaman itu tidak ada, artinya bahasa itu jadi seragam. Kedua, variasi atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam.

 

Variasi Bahasa dari Segi Penutur

Variasi bahasa dilihat dari segi penutur terdiri atas: idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek. Idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Namun yang paling dominan adalah warna suara itu, sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.

Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Dialek ini didasarkan pada wilayah atau area tempat tinggal penutur, dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional atau dialek geografi. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki kesaman ciri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga.

Kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi yang digunakan pada tahun lima puluhan, dan variasi yang digunakan pada masa kini. Variasi bahasa pada ketiga zaman itu tentunya berbeda, baik dari segi lafal, ejaan, morfologi, maupun sintaksis. Yang paling tampak biasanya dari segi leksikon, karena bidang ini mudah sekali berubah akibat perubahan sosial budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Misalnya kata ringgit, sen, dan rupiah (nama mata uang) digunakan pada kurun waktu yang berbeda. Nama satuan mata uang Indonesia ketika merdeka menggunakan rupiah, sedangkan sebelumnya masyarakat Indonesia pernah menggunakan kata ringgit dan sen.

Sosiolek atau dialek sosial adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial penuturnya. Dalam sosiolinguistik, umumnya variasi bahasa inilah yang paling banyak dibicarakan, karena variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, dan keadaan sosial ekonomi. Perbedaan variasi bahasa itu bukanlah berkenaan dengan isi pembicaraan, melainkan perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis, dan juga kosakata.

Variasi bahasa ditinjau dari sosiolek atau dialek sosial terdiri atas: variasi bahasa berdasarkan usia, variasi berdasarkan pendidikan, variasi berdasarkan jenis kelamin, variasi berdasarkan pekerjaan, variasi berdasarkan tingkat kebangsawanan, variasi berdasarkan keadaan sosial ekonomi.

 

Variasi Bahasa Berdasarkan Usia

Variasi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya, variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi bahasa remaja atau orang dewasa. Kata “maem” misalnya digunakan oleh anak-anak untuk menyatakan aktivitas makan yang berbeda dengan orang dewasa. Kata “bobok” juga merupakan variasi bahasa anak-anak untuk menyatakan aktivitas tidur.

 

Variasi Bahasa Berdasarkan Pendidikan

Variasi bahasa ini merupakan variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkat atas. Kata spesifik, implementasi, dan proporsional misalnya digunakan oleh masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi. Sedangkan masyarakat yang hanya lulusan SD umumnya tidak menggunakan kata-kata tersebut, tetapi mereka menggunakan kata “khusus” untuk menggantikan kata spesifik.

 

Variasi Bahasa Berdasarkan Jenis Kelamin

Variasi yang digunakan oleh wanita akan berbeda dengan variasi bahasa yang digunakan oleh pria. Variasi  bahasa  wanita umumnya lebih lembut dibandingkan laki-laki. Variasi bahasa berdasarkan jenis kelamin juga dapat dilihat dari kosakata yang diproduksi. Kosakata seperti sarung, udeng, peci, koteka, dan kumis berhubungan dengan laki-laki. Sedangkan kosakata seperti  menstruasi, sanggul, lipstik, bra, hamil, dan kerudung berhubungan dengan wanita.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.