Harlin

(Kantor Bahasa Maluku)

Pemakaian bahasa dalam media sosial (medsos) dewasa ini menjadi perhatian para bahasawan, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh media sosial  yang dipandang kurang pantas bagi perkembangan bahasa nasional pada masing-masing negara karena penerapannya tidak merujuk pada tata bahasa baku yang telah ditentukan. Ketidakpakeman penggunaan bahasa dalam media sosial disebabkan oleh teknologi itu sendiri dan dipengaruhi oleh budaya, bahasa daerah, serta serapan bahasa di media sosial lain dari bahasa asing yang begitu massif memengaruhi bahasa nasional. Orang-orang yang gemar bermedia sosial, tentu sudah fasih dengan berbagai kosakata baru atau pun singkatan kata yang tidak baku atau standar yang sering digunakan saat berinteraksi melalui media sosial seperti kata gw (dialek Betawi: gue atau gua) yang merujuk pada kata “saya” atau “aku” atau kata “btw” (bahasa Inggris) yang merupakan singkatan dari “by the way yang berarti “ngomong-ngomong.

            Pemakaian bahasa di media sosial lambat laun mengubah cara kita berbahasa dan berkomunikasi dengan orang lain. Namun, kita juga perlu memahami bahwa beragam media sosial yang kini menjamur memiliki keterbatasan karakter untuk pesan teks yang disampaikan atau memiliki karakteristik tersendiri yang akhirnya berdampak pada bahasa yang digunakan. Keterbatasan karakter membuat penulisan pesan teks harus disingkat agar sesuai dengan jumlah karakter pesan teks untuk tiap-tiap media sosial. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab ketidaksesuaian terhadap kaidah tata bahasa yang telah ditentukan.

Selanjutnya, apakah bahasa yang digunakan dalam media sosial harus mengikuti kaidah bahasa di media sosial dan bukan bahasa baku? Jawabannya adalah tidak. Kita bisa lihat contoh beberapa akun media sosial milik orang nomor satu di Indonesia yang menggunakan bahasa baku dalam menyampaikan pesannya. Kita juga bisa melihat akun admin milik TNI AU yang menggunakan bahasa formal maupun bahasa percakapan untuk menyampaikan pesannya. Hal ini menandakan bahwa media sosial tidak harus menggunakan ragam media sosial tetapi menggunakan bahasa formal. Lantas, bagaimanakah sebenarnya penggunaan bahasa dalam media sosial? Sebelum itu, kita sebaiknya mengetahui lebih dahulu pengertian bahasa, media sosial, dan bahasa di media sosial.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa juga diartikan sebagai perkataan yang baik, tingkah laku yang baik, atau sopan santun. Bahasa di seluruh dunia termasuk Indonesia terus mengalami perkembangan yang signifikan akibat semakin pesatnya kemajuan iptek dan seni. Penggunaan bahasa pun menjadi semakin luas dalam berbagai bidang baik secara lisan maupun tulisan. Salah satu penggunaan bahasa yang digunakan sehari-hari adalah penggunaan bahasa dalam ragam media sosial.

Pengertian media sosial menurut para ahli adalah teknologi bermedia komputer yang memfasilitasi penciptaan informasi dan membagi informasi, ide, minat, dan bentuk ekspresi lain melalui komunitas virtual atau jaringan. Terdapat berbagai macam bentuk media sosial yang dapat kita lihat melalui jenis layanan yang diberikan yaitu untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan bermultimedia.

Ragam layanan yang diberikan media sosial memberikan dampak kepada penggunanya dalam hal berkomunikasi dengan mengenalkan bentuk bahasa baru sebagai media komunikasi modern.

Bahasa yang umum digunakan dalam berbagai media sosial kerap disebut dengan istilah internet slang. Internet slang secara umum diartikan sebagai jenis bahasa yang umum digunakan oleh orang-orang di internet. Tujuan penggunaan internet slang ini adalah untuk mempercepat komunikasi dan mengekspresikan emosi. Untuk itu, internet slang banyak menggunakan huruf dengan suara yang sama, tanda baca, huruf kapital, onomatope dan emotikon. Jenis bahasa lain yang digunakan dalam media sosial adalah bahasa formal, bahasa informal atau bahasa percakapan, bahasa gado-gado, frasa, idiom, dan lain-lain.

1. Bahasa Formal

Media sosial tidak hanya berkaitan dengan percakapan melainkan juga kolaborasi. Salah satu aplikasi media sosial yang pada umumnya menggunakan bahasa formal adalah proyek kolaboratif seperti Wikipedia, situs social bookmarking, forum-forum daring, dan situs-situs ulasan lainnya. Menurut A. Kaplan dan M. Haenlein (2014), proyek kolaboratif didefinisikan sebagai aplikasi media sosial yang memungkinkan pembuatan isi tentang pengetahuan yang dilakukan secara bersama-sama dan simultan oleh pengguna. Isi pesan pun disampaikan dengan menggunakan bahasa formal yang sesuai dengan aturan tata bahasa agar dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan. Contohnya: Komunikasi adalah proses pertukaran informasi antara komunikator dan komunikan atau komunikate.

2. Bahasa Informal

Bahasa informal tidak hanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam media sosial. Bahasa informal dalam bahasa Indonesia merujuk pada bahasa gaul atau bahasa prokem. Bahasa informal ini banyak dipengaruhi oleh budaya setempat atau budaya asal atau bahasa daerah. Secara tata bahasa atau aturan bahasa, bahasa informal ini berakar dari bahasa formal. Contohnya kata “kalau” menjadi “kalo”, “klu”, atau “klo”.

3. Bahasa Daerah

Bahasa daerah juga banyak digunakan dalam media sosial, misalnya bahasa Melayu dialek Ambon. Bahasa ini cukup banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari di Maluku. Penggunaannya pun tidak hanya terbatas di Ambon dan sekitarnya, melainkan juga di daerah-daerah di wilayah Provinsi Maluku bahkan juga ditemukan pada kalangan tertentu di luar wilayah Maluku. Oleh karena sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, beberapa kata dalam bahasa Melayu dialek Ambon pun mulai banyak diterapkan dalam media sosial oleh para penggunanya.

4. Bahasa Asing

Bahasa Inggris adalah bahasa utama yang digunakan dalam media sosial. Hal ini tidaklah mengherankan karena bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional. Berbagai aplikasi media sosial pun umumnya menggunakan bahasa Inggris. Berbagai bahasa internet atau internet slang pun banyak yang berasal dari bahasa Inggris. Contohnya: OMG yang merujuk pada kataOh, My God atau “Ya Tuhan” sebagai bentuk ungkapan perasaan terkejut atau terpukau. Dengan demikian, mempelajari penggunaan bahasa dalam media sosial dapat memberikan beberapa manfaat, di antaranya kita mengetahui dan memahami pengertian bahasa, media sosial, bahasa yang digunakan dalam media sosial, dan cara penulisan bahasa lisan menjadi bahasa tulis secara umum.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.