MEMAKNAI KATA SAPAAN “IBU”

0
680

Asrif

Kantor Bahasa Maluku, Kemendikbud

Beberapa waktu lalu, sejumlah warganet Kota Ambon membincangkan arti kata sapaan “Ibu”. Perbincangan itu terkait sikap seorang perempuan berusia 24 tahun yang gusar disapa “Ibu” oleh sopir daring yang menjemputnya. Perempuan itu merasa masih muda dan belum menikah. Ia memahami kata sapaan “Ibu” sebagai sosok perempuan yang telah menikah, tua, dan sebagainya. Perempuan itu beranggapan sapaan “Ibu” sebagai bentuk hinaan dari sang sopir. Ia bahkan meminta sang sopir untuk meminta maaf kepadanya. Tampaknya, perempuan 24 tahun itu cukup geram mendengar dirinya disapa dengan kata sapaan “Ibu”.

Kisah yang terjadi pada sopir daring di atas merupakan satu dari banyak kejadian serupa yang menimpa kita dalam situasi komunikasi sosial. Saya pun pernah mengalaminya. Pada suatu siang, saya menghubungi seseorang melalui saluran telepon. Saya tidak mengetahui siapa lawan bicara saya, jenis kelaminnya, usianya, jabatannya, status sosialnya, dan sebagainya. Setelah panggilan telepon saya diterima, barulah saya tahu bahwa yang menerima panggilan saya itu adalah seorang perempuan. Pada situasi itu, saya menyapa dengan sapaan, “Selamat siang, Bu”. Sapaan saya itu dijawab, “Pak, saya belum kawin. Jangan panggil saya ibu.” Perempuan itu menyanggahi saya sambil terkekeh. Saya menduga ia tidak benar-benar marah atas sapaan itu.

Dari kedua kasus di atas, bagaimana sebaiknya kata sapaan “Ibu” dipakai dalam peristiwa komunikasi? Pantaskah menyapa perempuan muda dengan kata sapaan “Ibu”? Berikut ini, saya menguraikan fungsi sapaan dan diksi (pilihan kata) “Ibu” dalam sapaan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Kata “sapaan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai 1) ajakan untuk bercakap, teguran, ucapan; 2) kata atau frasa untuk saling merujuk dalam pembicaraan dan yang berbeda-beda menurut sifat hubungan di antara pembicara, seperti Ana, Ibu, dan Saudara. Pada artikel berjudul Kata Sapaan dalam Bahasa Indonesia (tersaji di laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), “kata sapaan” didefinisikan sebagai kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Artikel tersebut menuliskan beberapa contoh kata sapaan, yakni (1) nama diri, seperti Toto atau Nur; (2) kata yang tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi, adik, kakak, mas, atau abang; (3) gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, profesor, dokter, ketua, lurah, atau camat; (4) kata nama, seperti tuan, nyonya, nona, Tuhan, atau sayang; (5) kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, pendengar, atau hadirin; dan (6) kata ganti persona kedua, seperti Anda.

Pemilihan kata sapaan sangat dipengaruhi oleh konteks komunikasi, yakni konteks formal dan nonformal. Pada konteks formal, penyapa umumnya menggunakan kata Bapak kepada laki-laki dan Ibu kepada perempuan. Pilihan kata Bapak atau Ibu itu menunjukkan hormat dan sopannya penyapa kepada yang disapa.

Pada konteks nonformal, penggunaan kata sapaan terbagi dua, yakni (1) kata sapaan kepada kerabat, keluarga, sahabat dan (2) kata sapaan kepada bukan kerabat. Sapaan kepada kerabat umumnya menggunakan kata-kata sapaan yang karib seperti adik, kamu, mas, abang, mama, papa, dan sebagainya. Sebaliknya, sapaan kepada yang bukan kerabat, penyapa akan berusaha menggunakan kata-kata yang formal, seperti Bapak, Ibu, atau Tuan.

Selain konteks, pilihan kata sapaan juga dipengaruhi oleh kesantunan berbahasa. Penutur akan memilih kata sapaan yang paling sopan/halus/terhormat terhadap lawan bicara yang juga bersikap santun. Sebagai contoh, pada masyarakat Maluku, kata “Upu” kadang kala dipakai untuk menggantikan kata sapaan “Raja”. Sapaan “Upu” dipandang memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata sapaan “Raja”. Kesantunan berbahasa seorang penutur dapat diketahui dari diksi-diksi yang dituturkannya.

Pada kasus sapaan “Ibu”, penyapa telah tepat memilih kata sapaan. Penyapa yang merupakan sopir daring tidak berkerabat dengan perempuan yang disapa. Penyapa (sopir) tidak tahu status, jabatan, dan sebagainya dari perempuan yang disapanya, sehingga penyapa memilih kata “Ibu” sebagai kata sapaan yang netral. Sapaan “Ibu” dipilih oleh penyapa untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada perempuan yang bukan kerabatnya itu. Dalam KBBI, kata “Ibu” memiliki arti sapaan takzim kepada perempuan baik yang telah bersuami atau yang belum bersuami. Alangkah kelirunya jika penyapa memilih kata sapaan seperti nona, adik, cantik, manis, dan sebagainya. Sapaan seperti itu pada konteks pembahasan ini justru bisa berdampak negatif bagi penyapa. Dengan demikian, pilihan kata sapaan “Ibu” memperlihatkan penyapa telah dengan cerdas menempatkan perempuan pada tempat yang terhormat.

Pada komunikasi lisan, sapaan “Ibu” kepada perempuan dewasa ataupun remaja oleh seseorang yang baru dikenalnya bukanlah upaya penghinaan. Justru, sapaan “Ibu” itu bertujuan memuliakan perempuan yang disapa. Selain itu, sapaan tersebut mendoakan perempuan agar kelak menjadi sosok “Ibu”. Kata sapaan “Ibu” mengandung pesan sapaan takzim (hormat paling tinggi) kepada perempuan. Oleh karena itu, perempuan yang disapa “Ibu” oleh seseorang sebaiknya memberikan respons yang positif kepada penyapa karena penyapa telah berusaha meninggikan martabat sosok yang disapa.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.