PEMUDA-PEMUDA DI BALIK PENAMAAN BAHASA INDONESIA

0
600

Nita Handayani Hasan

(Peneliti Bahasa pada Kantor Bahasa Maluku)

Pada suatu sore, terlihat dua orang mahasiswi sedang menaiki sebuah angkutan kota (angkot). Di dalam angkot, kedua mahasiswi tersebut asyik berdiskusi dalam bahasa asing. Mereka seolah-olah tidak memedulikan situasi di dalam angkot yang mereka tumpangi. Fenomena penggunaan bahasa asing oleh para generasi muda sangat sering dijumpai. Pemudi-pemudi tersebut seakan merasa bangga jika mampu berbahasa asing di depan umum. Bahkan tak jarang dijumpai penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan kosakata-kosakata bahasa Inggris.

Bahasa Indonesia lahir berkat buah pikiran pemuda/pemudi di zamannya. Apakah pemuda/pemudi di zaman milenial ini akan berusaha menggantikan keberadaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Fenomena tersebut janganlah dianggap remeh. Ketidakpedulian generasi muda terhadap keberadaan bahasa Indonesia dapat dikarenakan kurangnya informasi terhadap sejarah keberadaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, informasi-informasi yang berkaitan dengan sejarah keberadaan bahasa Indonesia harus terus-menerus diinformasikan agar generasi muda dapat mengetahui lahirnya bahasa Indonesia.  

Telah diketahui bersama bahwa bahasa Indonesia pertama kali diikrarkan pada sumpah pemuda tahun 1928. Bait ketiga sumpah pemuda memaparkan pengakuan generasi muda untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pada saat itu, bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa persatuan. Namun, apakah pernah terbersit pertanyaan tentang keberadaan bahasa Indonesia sebelum sumpah pemuda diikrarkan. Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan berikut ini.

Sebelum lahirnya sumpah pemuda, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultur. Bahasa yang dituturkan sangatlah beragam, karena setiap daerah memiliki bahasanya masing-masing. Meskipun demikian, terdapat bahasa Melayu yang berfungsi sebagai bahasa perantara (lingua franca) dalam perdagangan di Kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, bahasa Melayu menjadi bahasa yang dipahami, pada saat itu, oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Munculnya bahasa Indonesia pada sumpah pemuda tidak dapat dipisahkan dari tokoh-tokoh pemuda pada masa itu. Tiga tokoh penting dalam lahirnya nama bahasa Indonesia yaitu Muhamad Tabrani, Muhammad Yamin, dan Sanusi Pane. Ketiga tokoh tersebut tergabung dalam organisasi pemuda yang berusaha merumuskan ikrar pemuda pada hari Sumpah Pemuda.

Munculnya Sumpah Pemuda tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Kongres Pemuda I. Kongres Pemuda I bertujuan untuk menyatukan pemuda-pemuda Indonesia dalam sebuah perkumpulan pemuda yang tunggal. Perkumpulan tersebut diharapkan mampu memajukan persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu menguatkan hubungan antar perkumpulan pemuda yang ada di Indonesia.

Pada hari terakhir Kongres Pemuda I, dibentuklah tim perumus keputusan kongres. Tim perumus terdiri dari Muhammad Yamin (wakil dari Jong Sumatranen Bond), Sanusi Pane (Jong Bataks), Mohammad Tabrani (Jong Java, sekaligus ketua panitia kongres), dan Djamaludin Adinegoro (sekretaris panitia). Muhammad Yamin melahirkan pemikiran-pemikiran yang menjadi dasar terbentuknya Sumpah Pemuda. M. Yamin menginginkan agar bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa persatuan. Namun hal tersebut disanggah oleh M. Tabrani. Menurut Tabrani, bangsa Indonesia harus memiliki bahasanya sendiri. Oleh karena itu, nama bahasa Melayu haruslah diganti menjadi bahasa Indonesia. Usulan M. Tabrani itu didukung oleh Sanusi Pane.

Mohammad Tabrani merupakan tokoh pemuda yang sangat keras menyuarakan istilah bahasa Indonesia. Kridalaksana dalam bukunya Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia (2018) mengungkapkan pendapat M. Tabrani. Tabrani mengungkapkan “Jika tumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, lantas mengapa tidak menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia?”. Pendapat Tabrani tersebut menimbulkan kontroversi, sehingga bunyi ikrar ketiga dalam sumpah pemuda baru dapat disepakati setelah kongres kedua.

Pada awalnya, M. Yamin tidak menyetujui usulan M. Tabrani tersebut. Hal tersebut dikarenakan nama bahasa Indonesia pada saat itu belum pernah digunakan. Namun, M. Tabrani berpendapat bahwa bahasa Indonesia akan menjadi bahasa yang berbeda dengan bahasa Melayu yang dituturkan pada saat itu.  Menurutnya, bangsa Indonesia harus memiliki bahasa yang berbeda dengan bangsa Melayu. Bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang unik dan dapat berkembang bersamaan dengan bahasanya. Berkat kegigihan M. Tabrani tersebut, akhirnya M. Yamin setuju untuk mengganti nama bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia. 

M. Tabrani meyakini bahwa bahasa Indonesia nantinya akan berbeda dengan bahasa Melayu. Pandangan Tabrani tersebut saat ini telah terbukti. Bahasa Indonesia saat ini telah menjadi bahasa yang berbeda dengan bahasa Melayu. Bahasa Indonesia memiliki kosakata-kosakata yang diserap dari kosakata-kosakata asing dan daerah. Penyerapan kosakata-kosakata tersebut menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang modern.

Bahasa Indonesia menjadikan bangsa Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki bahasanya sendiri. Bangsa Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa negaranya; berbeda dengan Mesir yang menggunakan bahasa Arab; dan 75 persen negara di dunia yang nama bahasanya berbeda dengan nama negaranya.

Saat ini, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa modern dan berkembang. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bahasa Melayu. Perkembangan yang terjadi pada bahasa Indonesia tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat terbuka pada perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.