Adi Syaiful Mukhtar, S.S.

Kantor Bahasa Maluku

Ketidak-taatan terhadap kaidah penggunaan bahasa Indonesia di ranah resmi merupakan fenomena yang perlu disoroti. Kesetiaan masyarakat terhadap bahasa negara patut dipertanyakan. Penggunaan bahasa asing lebih sering diutamakan daripada bahasa Indonesia. Selain itu, beberapa imbauan dalam bahasa Indonesia di ruang publik juga masih dicampur dengan istilah bahasa asing. Fenomena yang lebih memalukan lagi adalah penggunaan istilah bahasa asing yang tidak sesuai. Selain penggunaan bahasa asing, penggunaan bahasa Indonesia pada ruang publik juga masih banyak yang tidak sesuai kaidah. Petunjuk dari instansi pemerintah juga masih terlihat tidak sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku.

Hal tersebut sangat berbeda dengan situasi kebahasaan di Jepang. Peneliti Antropolinguistik LIPI, Obing Katubi (Kompas, 23/10/2019), dalam keterangannya menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat Jepang terhadap bahasa negaranya masih lebih baik daripada masyarakat Indonesia. Bahasa Jepang memiliki ragam yang bergantung pada tingkatan sosial, umur, pekerjaan, dan gaya hidup. Namun, situasi tersebut tidak membuat instansi resmi maupun swasta untuk menggunakan bahasa nonbaku. Mereka menggunakan bahasa Jepang ragam baku untuk pengumuman, iklan, petunjuk, dan sebagainya. Mereka tampak patuh dan setia menggunakan struktur kalimat yang baku.                      

Baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Baku bertalian dengan standar, sehingga bahasa baku bisa dikatakan sebagai bahasa yang standar. Standar itu didasarkan pada kaidah yang telah ditentukan. Bahasa Indonesia sudah memiliki kaidah yang telah ditentukan oleh pemerintah. Saat ini, bahasa Indonesia memiliki standar, yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Permendikbud No. 50 Tahun 2015. Selain pedoman tersebut, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga tersedia untuk umum. Dua media tersebut pasti melewati proses pembakuan yang tidak mudah. Pembakuan tersebut dilakukan untuk manghasilkan bahasa baku. Fungsi bahasa baku menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) ada empat, yaitu pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan sebagai kerangka acuan.                   

Fungsi bahasa baku yang pertama adalah pemersatu bangsa. Kondisi bangsa Indonesia dari segi kebahasaannya sangatlah menarik. Bahasa daerah di seluruh nusantara berjumlah 718. Perlu adanya kesepakatan bersama untuk menentukan bahasa yang akan digunakan saat mereka bertemu. Kondisi itulah, bahasa baku bahasa Indonesia hadir menjadi rujukan utama para penutur bahasa antardaerah.   

Fungsi bahasa baku berikutnya adalah pemberi kekhasan. Banyak pihak yang berpendapat bahwa bahasa Indonesia sama dengan bahasa Melayu. Secara geografis, bahasa Melayu memang dijumpai di Asia Tenggara, tempat Indonesia berada. Namun, penutur jati bahasa Indonesia banyak yang berpendapat bahwa bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Melayu yang dituturkan di Singapura, Malaysia, atau Brunei Darussalam. Inilah pentingnya bahasa baku disusun. Standarisasi perlu diterapkan dalam penggunaan bahasa Indonesia agar membedakan bahasa-bahasa yang serumpun.        

Bahasa baku bagi sebuah negara adalah identitas yang perlu ditetapkan. Banyak negara yang memiliki bahasa dengan nama yang berbeda dengan nama negaranya. Biasanya negara tersebut memiliki bahasa resmi dari negara yang pernah menjajahnya. Lain halnya dengan Indonesia. Indonesia memiliki bahasa resmi/nasional bahasa Indonesia. Ahli bahasa dan beberapa kalangan berpendapat bahwa perkembangan bahasa Indonesia dijadikan teladan bagi bangsa lain di Asia Tenggara (TBBBI, 2017:14). Hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia lebih wibawa dibanding bangsa lain yang tidak memiliki bahasa resmi sendiri. Tidak hanya wibawa dalam skala besar. Bagi individu penutur jati bahasa Indonesia, bahasa baku juga memengaruhi kewibawaan diri. Sebab, bahasa baku biasa dituturkan pada situasi resmi. Hal tersebut menunjukkan bahwa penutur bahasa baku sering pada situasi tersebut. Oleh karena itu, nilai prestise pada diri penutur dapat dibangun oleh bahasa bakunya.

Pemilihan ragam bahasa pada ranah tertentu didasarkan pada pertimbangan sosial penuturnya. Pertimbangan sosial ini harus didasarkan pada kesadaran bahwa bangsa Indonesia juga memiliki bahasa daerah. Namun, kehadiran bahasa daerah ini kadang disalahgunakan. Alih-alih agar komunikatif, kosakata bahasa daerah dicampur dalam percakapan bahasa Indonesia ragam resmi. Hal serupa juga terjadi saat penutur tidak memiliki referensi kosakata baku untuk konsep tertentu sehingga diganti dengan kosakata bahasa daerah. Namun, hal tersebut tidak perlu terjadi, jika penutur tersebut mempelajari bahasa baku. Oleh karena itu, bahasa baku hadir sebagai acuan utama dalam penggunaan sebuah bahasa.

Berdasarkan fungsi yang telah disebutkan di atas, tidak ada alasan yang logis untuk tidak mempelajari bahasa baku bahasa Indonesia. Bahasa baku memberi kita ruang untuk berkomunikasi dengan suku lain di Indonesia. Selain itu, kekhasan yang dibangun oleh bahasa baku bahasa Indonesia menjadikan bangsa Indonesia lebih berwibawa karena memiliki bahasa sendiri.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.