Literasi dan Pancasila

0
373

Adi Syaiful Mukhtar

Kantor Bahasa Maluku

Sepekan lalu, kita telah memperingati lahirnya ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila pada tanggal 1 Juni 2020. Bagi bangsa Indonesia, lahirnya Pancasila menjadi sebuah pencapaian karakter yang mandiri. Jika di beberapa negara banyak sekali ideologi yang berkembang, bangsa Indonesia berdiri pada ideologi sendiri yang memang dirumuskan oleh para pendahulunya. Karakter tersebut perlu kita jaga dengan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Pengamalan tersebut akan maksimal jika ditunjang dengan kecakapan hidup yang cukup. Kecakapan hidup tersebut dapat dilihat dari kemampuan literasi seseorang. 

Karakter mandiri bangsa Indonesia tidak hanya terlihat pada ideologi yang dianutnya. Bahasa nasional yang dimiliki juga menunjukkan karakter mandiri karena tidak berkiblat pada negara lain. Selanjutnya, bangsa Indonesia yang beragam ini ternyata dapat disatukan oleh lima sila yang terdapat dalam Pancasila. Pada beberapa tahun terakhir ini, hal tersebut menjadi contoh praktik baik bagi negara lain tentang kerukunan dalam keberagaman. Karakter mandiri dan kerukunan dalam keberagaman itu menjadi dua hal yang membanggakan dan harus kita jaga hingga akhir zaman nanti.

Kecakapan hidup seseorang tergantung pada kemampuan individu dalam mengolah sebuah informasi dan pengetahuan. Hal itu sejalan dengan pengertian literasi yang ada di dalam KBBI. Semakin tinggi literasinya, semakin baik pula kecakapan hidup seseorang. Bangsa-bangsa yang besar dan maju lainnya di dunia memiliki latar belakang literasi yang baik dan panjang. Selanjutnya, bagi bangsa yang berkarakter seperti bangsa Indonesia ini, literasi dapat dijadikan sebagai standar untuk pengamalan Pancasila.

Pancasila memiliki sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama tersebut menjadi dasar untuk semua konsep hidup yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Konsep dasar itu sangat penting untuk membentuk karakter seseorang. Beberapa peribahasa berisi sebuah konsep yang intinya bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Selanjutnya, adab lebih banyak diajarkan dalam konsep keagamaan. Hal itu berarti bahwa sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan hal wajib yang harus dimiliki dan diyakini oleh bangsa Indonesia. Literasi hadir pada proses pembelajaran sebuah agama. Khususnya, literasi baca-tulis hadir dalam proses tersebut. Kitab suci agama di Indonesia juga sudah banyak yang memiliki terjemahan dan tafsir. Oleh karena itu, literasi memiliki peran penting dalam mengamalkan Pancasila sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pembahasan tentang adab juga disampaikan pada sila kedua. Salah satu butir pengamalan sila kedua Pancasila pada Tap. MPR No. I/MPR/2003 menyebutkan bahwa perlunya sikap saling tenggang rasa. Tenggang rasa menurut KBBI adalah sikap dapat (ikut) menghargai dan menghormati perasaan orang lain. Konsep kemanusiaan yang adil dan beradab berbanding lurus dengan konsep literasi kewargaan yang dirumuskan oleh Kemendikbud pada Gerakan Literasi Nasional (GLN). Literasi kewargaan dalam buku Materi Pendukung Literasi Budaya dan Kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara (Kemendikbud, 2017:3). Kemampuan itulah yang perlu diasah agar pengamalan Pancasila sila kedua dapat terlaksana dengan baik.

Praktik baik bagi seorang pelajar untuk meningkatkan literasi kewargaan adalah memperbanyak bacaan yang bernilai moral positif. Cerita rakyat sebagai produk budaya tiap daerah bukanlah produk yang asal jadi. Cerita rakyat dituturkan secara turun temurun dengan banyak variasi yang tujuannya hanya satu, yaitu menyebarkan kebaikan melalui contoh-contoh perilaku dari tokoh utamanya. Produk yang bernilai luhur tinggi tersebut sudah banyak didokumentasikan ke dalam sebuah buku hingga dialihwahanakan ke dalam sebuah film.

Dalam rangka pengamalan Pancasila, banyak hal tentang literasi yang bisa dilakukan. Literasi baca-tulis yang menjadi dasar semua literasi. Perannya dibutuhkan dalam gerakan literasi masyarakat. Dasar yang kuat tersebut akan memberikan potensi keberlanjutan literasi lainnya dengan baik, sehingga dampaknya akan memberikan stimulasi positif untuk mengamalkan Pancasila. Contoh sebelumnya, literasi kewargaan, terlihat sangat kuat dalam kaitannya dengan pengamalan Pancasila. Namun, tidak hanya literasi kewargaan yang dapat digambarkan untuk pengamalan Pancasila. Literasi budaya yang dekat dengan kewargaan juga dapat digambarkan perannya dalam pengamalan Pancasila.

Salah satu dari tujuh unsur kebudayaan adalah bahasa. Indonesia memiliki bahasa daerah sebanyak 718 (petabahasa.kemdikbud.go.id). Data tersebut menunjukkan betapa beragamnya masyarakat yang mendiami nusantara ini. Semua suku yang ada di Indonesia mayoritas memiliki bahasa daerah yang berbeda. Namun, hingga hari ini, mayoritas dari mereka telah menjadi masyarakat yang madani. Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban (KBBI V). Namun, perbedaan tersebut tidak menyurutkan persatuan antarsuku. Mereka bersatu di dalam sebuah identitas, yaitu bangsa Indonesia. Kesadaran tersebut ditopang oleh literasi budaya yang sangat baik. Sebab, pengertian literasi budaya adalah kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa (Kemendikbud, 2017:3).

Jika semua suku bersatu dalam satu identitas bangsa Indonesia, ratusan bahasa daerah di nusantara juga pada kenyataannya bersatu dalam satu bahasa persatuan. Bahasa persatuan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki ragam baku yang telah disusun untuk disepakati dan ditaati bersama. Sebab, salah satu sifat bahasa baku adalah seragam. Dalam buku Bahasa Indonesia: Konsep Dasar dan Penerapan (Yanti dkk, 2016), seragam yang dimaksud adalah penyeragaman bahasa melalui pembakuan bahasa, sehingga tidak ada bahasa baku bahasa Indonesia versi suku A dan B. Sudah sepatutnya, kita sebagai bangsa Indonesia menaati pembakuan bahasa Indonesia sebagai bentuk pengamalan Pancasila sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia.

Maluku merupakan salah satu provinsi yang masih memegang erat rutinitas budaya. Negeri-negeri adat masih terlihat keberadaannya meski pengaruh dari luar Maluku banyak yang masuk sejak zaman penjajahan. Negeri adat dikepalai oleh seorang raja. Konsep musyawarah yang dipimpin oleh raja di Baileo (rumah adat) juga masih dilakukan. Konsep tentang negeri dan raja adat tersebut juga ditemukan di cerita-cerita rakyat Maluku pada umumnya. Hal itu berarti bahwa rutinitas adat baik dalam cerita rakyat maupun dalam praktiknya masih ada hingga sekarang dan itu juga merupakan perwujudan dari pengamalan Pancasila sila keempat tentang konsep musyawarah.

Literasi yang telah disebutkan lebih banyak pembahasan tentang peran literasi budaya dan kewargaan. Namun, literasi finansial juga ternyata berperan pada pengamalan Pancasila. Dalam buku Materi Pendukung Literasi Finansial (Kemendikbud, 2017:5), literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan butir-butir pengamalan Pancasila (Tap. MPR No. I/MPR/2003) sila kelima, terutama pada sikap tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan pemerasan terhadap orang lain, serta dapat menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengamalkan Pancasila melalui literasi. Literasi adalah konsep yang baik untuk seseorang dalam kecakapan hidup. Kecakapan hidup yang cukup akan memudahkan seseorang berkembang seiring perkembangan zaman dengan didasari pribadi yang kuat. Oleh karena itu, kembangkanlah literasi dalam diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dan berpegang teguh pada ideologi bangsa.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.