Peran Karya Sastra bagi Pelestarian Lingkungan (Ekologi Sastra)

0
351

Herni Paembonan

Kantor Bahasa Maluku

Bumi kita akhir-akhir ini sedang bergejolak. Rentetan peristiwa yang menggemparkan bermunculan, mulai dari gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, hingga wabah penyakit. Beberapa bulan ini kita tidak asing lagi membaca atau mendengar imbauan agar selalu berada di rumah.  Sekolah diliburkan sehingga kegiatan belajar mengajar harus dijalankan dengan menggunakan sistem belajar jarak jauh melalui jaringan internet atau daring. Orang tua juga harus bekerja dari rumah secara daring. Kita diwajibkan untuk menjaga jarak dengan orang lain. Hal itu dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona yang dapat menular dengan cepat. Kondisi itu membuat kita seharusnya bisa introspeksi diri. Mungkin bumi dan lingkungan sudah lelah dengan kelakuan manusia yang sering kali mengabaikan kelestariannya.

Masalah lingkungan merupakan permasalahan global. Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 5 Juni sebagai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pencemaran lingkungan berupa pemanfaatan, eksplorasi, dan eksploitasi terhadap alam yang dilakukan oleh manusia secara tidak terkendali membuka pintu kerusakan planet bumi ini. Situs Air Quality Index (AQI) pada tanggal 29 Juni 2019 menampilkan Indonesia khususnya Jakarta di urutan pertama pada tingkat polusi udara. Jakarta dianggap sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Arne Naess (1995) seorang filsuf dari Norwegia dalam bukunya yang berjudul Ecology, Community, and Lifestyle mengatakan bahwa kerusakan-kerusakan alam yang terjadi bersumber dari perilaku keserakahan manusia yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengatasi krisis lingkungan ini, harus ada perubahan perilaku, pola pikir, dan cara pandang manusia terhadap lingkungan. Pada situasi ini, salah satu studi dari sastra interdisipliner yang sangat menarik ialah ekologi sastra. Ekologi sastra merupakan perpaduan antara dua rumpun ilmu yaitu sastra dan lingkungan. Tahun 1996, Glotfelty dalam The Ecocriticism Reader membuat sebuah esai yang mengaplikasikan ilmu ekologi dan sastra dengan menggunakan pendekatan alam (bumi) sebagai pokok studinya dan menyimpulkan bahwa ekologi sastra dapat didefinisikan sebagai sebuah studi tentang hubungan antara sastra dan lingkungan hidup. Sebab, lingkungan atau alam menjadi sumber inspirasi dalam sastra, sedangkan sastra menjadi alat konservasi bagi alam.

Seorang sastrawan hadir untuk memberikan saran dan kritikan yang halus melalui penciptaan karya sastra agar pembaca karya tersebut dapat menyadari bahwa bumi kita ini semakin lama semakin hancur. Karya sastra seperti tersebut berupa drama, puisi, dan teks naratif. Sebuah karya sastra memuat kehidupan atau dunia yang dialami manusia dan memuat reaksi utuh seperti, pikiran, perasaan, dan daya khayal manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan hidup. Isu, ide, dan gagasan-gagasan yang ingin disampaikan pengarang terhadap pembaca menjadikan karya sastra sebagai alat untuk mengkritik berbagai aspek. Novel yang membahas tentang ketidaksetaraan gender dapat dikategorikan sebagai novel dengan kritik feminis. Cerita pendek yang membahas kesenjangan kelas sosial antara si kaya dan si miskin, maka dapat disebut sebagai cerita pendek dengan kritik sosial karena membahas isu kelas ekonomi masyarakat.

Karya sastra dengan tema lingkungan lahir dari sastrawan yang menempatkan alam dan lingkungan hidup sebagai sumber inspirasi dan kreasi imajinatifnya. Beberapa sastrawan Indonesia yang mengekspresikan daya imajinatifnya sebagai bentuk keakraban dan kecintaan terhadap alam, seperti Muhammad Yamin dari angkatan Pujangga Baru melalui puisinya yang begitu legendaris berjudul Tanah Air. Cara Muhammad Yamin memilih diksi tentang alam dan lingkungan yang diselipkan hampir di setiap baris puisi tersebut seperti bukit, pantai, teluk permai, air, laut, hutan, sawah, dan langit menunjukkan betapa sang penyair mengagungkan keindahan alam. Buaian keindahan alam juga disyairkan oleh Ramadhan KH dalam buku kumpulan puisinya dengan judul Priangan Si Jelita yang mengangkat keindahan wilayah pegunungan Priangan. Jalinan persahabatan alam dengan manusia juga banyak terdapat dalam karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah.

Penyair-penyair generasi terkini pun banyak yang mengekspresikan kondisi alam melalui puisinya. Tahun 2019 sebuah antologi puisi para penyair Maluku dengan judul buku Tana Putus Pusa yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa Maluku juga tidak luput dari penggambaran kekaguman penyair pada alam seperti, Negeri Damai, Penciptaan, Rumahku Itu, Betapapun Hujan adalah Namamu, Perempuan di Tepi Laut Banda, Seperti Pantai yang Lapang, dan masih banyak yang lain.

Prosa-prosa Indonesia juga banyak yang menggunakan alam dan lingkungan sebagai latarnya. Anak Perawan di Sarang Penyamun yang ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana menjadi bukti kuat prosa yang menggambarkan latar alam (hutan). Novel, cerita rakyat, cerpen, dan drama juga tidak jauh berbeda dengan karya sastra lainnya yang banyak menggunakan tema-tema alam dan lingkungan.

Banyaknya karya sastra yang memuat tentang alam dan lingkungan menunjukkan bahwa sastra dan lingkungan sangat erat kaitannya dan tidak terpisahkan.  Para sastrawan menunjukkan bahwa sudah dari dahulu kala mereka peduli terhadap alam. Ilmu ekologi sastra menjadi jembatan bagi peminat sastra untuk mengkritisi manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap kondisi alam sekarang ini.

Ekologi sastra juga berperan penting dalam dunia pendidikan. Menjaga dan peduli terhadap lingkungan merupakan salah satu indikator dari pendidikan karakter. Meningkatkan bacaan-bacaan tentang sastra anak yang bertema lingkungan dapat membantu anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Cerita rakyat dengan latar alam banyak mengandung nila-nilai pendidikan yang dapat menjadi pedoman tingkah laku bagi anak-anak sehingga rasa cinta terhadap alam dengan sendirinya akan tertanam dalam diri mereka.

Ekologi sastra juga sangat relevan dengan gerakan literasi yakni membiasakan anak-anak untuk membaca karya sastra baik puisi, cerita pendek, atau gambar-gambar dengan tema alam dan lingkungan. Ini akan mendidik kesadaran anak-anak sejak dini tentang pentingnya alam. Bumi merupakan rumah dan tempat kita untuk hidup.  Oleh karena itu, sebagai makhluk hidup yang banyak menikmati dan menyerap hasil dari lingkungan wajib untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.