Tata Bahasa Woirata

0
96

Provinsi Maluku tidak saja dikenal sebagai Negeri Raja-Raja, tetapi juga dikenal sebagai negeri aneka bahasa (multilingual). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada akhir tahun 2019 mengumumkan setidaknya terdapat 61 bahasa lokal (etnik) di Provinsi Maluku. Diduga, jumlah tersebut masih akan bertambah mengingat masih ada beberapa wilayah bahasa yang belum diteliti. Jumlah tersebut menempatkan Provinsi Maluku sebagai Provinsi dengan jumlah terbanyak ketiga bahasa daerah setelah Papua dan Nusa Tenggara Timur.

Jumlah 61 bahasa lokal tersebut menunjukkan Maluku sebagai wilayah multilingual. Namun demikian, di balik kekayaan bahasa itu, bahasa-bahasa itu sebagian besar berada pada status terancam punah. Bahasa-bahasa lokal yang berada di Pulau Ambon, Lease, Seram, Buru, Buano, dan Pulau Kisar berada dalam kondisi rawan kepunahan. Salah satunya yakni bahasa Woirata yang ada di Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Bahasa Woirata hanya digunakan di dua desa di Pulau Kisar. Dari dua desa tersebut, sebagian penduduknya telah menjadi penutur pasif bahkan tidak mampu menggunakan bahasa itu lagi.

Menyikapi kondisi kepunahan bahasa Woirata tersebut, Kantor Bahasa Maluku (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) bergerak untuk segera menyusun Tata Bahasa Woirata. Tujuannya yakni agar bahasa tersebut dapat segera memiliki dokumen akademik berupa naskah Tata Bahasa Woirata. Naskah tersebut selain menjadi media pendokumentasi Tata Bahasa Woirata, juga dapat diacu sebagai bahan ajar untuk pengembangan dan pengajaran bahasa Woirata. Untuk tujuan-tujuan itulah, Kantor Bahasa Maluku memprogramkan penyusunan Tata Bahasa Woirata.

Silakan unduh buku elektroniknya di sini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.