Kecerdasan Linguistik di Masa Pandemi Covid-19

0
227

Erniati

Kantor Bahasa Maluku

Virus covid-19 masih menghantui negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Data terakhir di Indonesia, sampai pada saat ini jumlah yang terpapar virus covid-19 masih mengalami peningkatan yang sangat signifikan di semua wilayah Nusantara termasuk di Maluku, khususnya di Kota Ambon. Salah usaha dan upaya yang diprogramkan pemerintah Kota Ambon untuk menangkal penyebaran virus covid-19 tersebut yakni dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pembatasan itu tentu saja memiliki dampak yang sangat luas dalam masyarakat. Sebagian masyarakat menganggap bahwa pemberlakuan PSBB itu merupakan hal yang harus dilakukan dan sebagian lagi menganggap bahwa pembatasan itu hanya melumpuhkan roda perekonomian masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah. Jika asumsi tersebut semakin berkembang, tugas pemerintah bukan hanya melakukan sosialisasi tentang cara memproteksi diri sendiri terhadap menangkal virus covid-19, tetapi juga melakukan sosialisasi dan mengedukasi, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana meminimalisir penyebarannya.

Di tengah usaha pemerintah maupun masyarakat melawan pandemi  covid-19 dengan pemberlakuan PSBB itu, ada hal yang sangat penting yang menggerogoti pemahaman masyarakat, yaitu meluasnya pemberitaan yang tidak faktual yang berkembang begitu cepat melalui media, baik media cetak maupun elektronik. Berita-berita itu mengakibatkan terjadinya  salah penafsiran oleh masyarakat  yang kurang berimbang dengan fakta. Pemberitaan meluas tanpa batas, masyarakat mengalami perubahan secara drastis sehingga pergeseran pemahaman dan pengetahuan masyarakat tak terhindarkan. Era digital menduduki posisi tertinggi dalam penyebaran informasi, semua orang dengan sangat mudah bisa mengakses pemberitaan tersebut. Hoaks berkembang di masyarakat luas yang terdampak pandemi. Hoaks mampu memengaruhi pikiran sesorang.

Bagaimana upaya masyarakat memilah informasi yang berkembang sebagai hoaks dan bukan hoaks tersebut? Salah satu upaya mengantisipasi kecenderungan seseorang menerima segala berita yang disajikan di media yang tidak faktual, yaitu dengan meningkatkan kemampuan kebahasaannya. Jika sesorang memiliki kemampuan berbahasa yang mumpuni, tentu saja mampu memilih berita yang sifatnya faktual, bukan hoaks, dan yang tidak sesuai fakta yang terjadi pada segala situasi yang berkembang.

Dalam ilmu bahasa, seseorang dengan kemampuan berbahasa secara teratur tersebut dikenal dengan istilah  kecerdasan berbahasa atau kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik merupakan salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Oleh karena itu, kecerdasan linguistik yang dimiliki oleh setiap orang berbeda. Harimurti Kridalaksana (2012) dalam bukunya “Kamus Linguistik” mengemukakan bahwa kecerdasan linguistik ini diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan pendapat atau pikirannya melalui bahasa verbal maupun nonverbal secara jelas dan lugas dengan tatanan Bahasa. Kecerdasan yang dimaksudkan meliputi kecerdasan penguasaan kata yang sangat matang, baik disampaikan secara verbal maupun nonverbal dan jika disampaikan secara lisan, suara dan ritmenya harus sangat jelas dan tenang, serta diucapkan sangat baik. Setakat dengan itu, seorang ahli psikologi, Daniel Goleman (2010) dalam bukunya “Emotional Intelligence”, juga  mengemukakan pendapatnya bahwa jika seseorang memiliki kemampuan atau kecerdasan linguistik menunjukkan kecerdasan intelektual karena mampu merangkum dan menginterpretasi makna yang lengkap dari kata per kata, kalimat per kalimat, dan setiap paragraf yang disajikan lewat narasi berita dan informasi yang disajikan sesuai kondisi atau situasi sosial yang berkembang.

Oleh karena itu, kecerdasan linguistik sesorang dianggap sangat penting dan sangat vital untuk dimiliki oleh seseorang dalam lingkungan masyarakat yang sedang berada dalam situasi dan kondisi yang mengalami pergeseran perubahan sosial dan budaya pada masa era pandemi covid-19 ini. Seseorang dengan kecerdasan linguistik mampu menggunakan bahasa yang baik, mampu berkomunikasi yang baik secara verbal dan nonverbal. Dengan memanfaatkan kecerdasan linguistik yang dimiliki seseorang atau personal maka dapat dengan cermat memaknai setiap informasi yang berkembang dengan bijaksana  dan benar.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.