Membangun Karakter Anak Melalui Fabel

0
338

Zahrotun Ulfah

Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Fabel merupakan salah satu jenis karya sastra di antara banyaknya ragam kesusastraan Indonesia. Fabel merupakan salah satu jenis cerita fiksi yang menceritakan binatang atau hewan sebagai tokoh utama. Tokoh tersebut diilustrasikan sebagai tokoh yang piawai berbicara dan bersikap selayaknya manusia. Lebih lanjut, fabel dipahami sebagai catatan kehidupan binatang yang secara fiksi menceritakan tentang berbagai relasi dalam hubungan sosial. Bahkan, fabel seringkali digunakan sebagai teladan tentang kehidupan manusia (Sarumpaet 2010:21).

Teks fabel juga terdapat kekhasan yang tidak terdapat pada karya sastra lain. Selain penokohannya menggunakan tokoh binatang, bahasa yang digunakan biasanya bersifat sederhana dan mudah dipahami. Tema yang diangkat dalam cerita juga lekat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tentang tolong-menolong, kepahlawanan, kejujuran, kemurahan hati, dan sebagainya. Melalui gaya bercerita yang ringan, teks fabel dapat memuat pesan-pesan ataupun kritik sosial tanpa terkesan menggurui. Bahkan, cara penyampaian fabel juga banyak mengandung unsur jenaka. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika fabel digemari oleh anak-anak.

Kedekatan fabel dengan dunia anak-anak dapat dimanfaatkan oleh semua pihak untuk menjadikan fabel sebagai salah satu sumber bacaan anak. Fabel dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengasah emosi dan imajinasi anak-anak. Melalui penokohan yang menarik, orang tua dan guru juga dapat menyisipkan nilai kebaikan dan kearifan lokal yang terdapat dalam cerita. Selain sebagai sarana edukasi, fabel juga dapat berfungsi sebagai salah satu sarana yang dapat membangun karakter positif bagi anak-anak.

Tidak sekadar dongeng tentang binatang, beberapa cerita fabel juga termasuk ke dalam cerita rakyat. Beragam judul pun tersebar di hampir seluruh wilayah di Indonesia, tidak terkecuali Provinsi Maluku. Provinsi Maluku yang dijuluki sebagai Negeri Seribu Pulau juga kaya akan cerita rakyat yang dimiliki, termasuk cerita fabel.

Dari beragam judul fabel yang berasal dari Provinsi Maluku, terdapat beberapa judul yang menarik dibahas terkait sebagai sarana pendidikan karakter anak. Salah satunya adalah cerita Buaya Laerisa Kayeli yang ditulis oleh Dr. Asrif, M.Hum. Cerita tersebut mengisahkan tentang kebaikan hati Buaya Laerissa Kayeli yang sering membantu warga untuk menyeberangi sungai di Negeri Aman Haruku. Cerita ini juga menceritakan tentang keberanian dan kekuatan Buaya Laerissa Kayeli dalam melawan ular raksasa yang mengganggu teman-temannya. Meskipun dalam kondisi hamil tua, ia mau bertaruh nyawa untuk membela teman-temannya. Buaya Laerissa Kayeli juga digambarkan sebagai sosok yang ikhlas membantu mengalahkan ular raksasa tanpa mengharapkan imbalan. Ia dengan tulus membantu teman-temannya yang sedang kesulitan. Selain penokohannya yang menarik, dalam cerita ini terkandung karakter positif yang dapat diajarkan kepada anak-anak kita tentang kebaikan hati, keberanian, keikhlasan, dan tolong-menolong. Selain itu, terdapat juga kearifan lokal yang dimiliki terkait tentang asal muasal Ikan Lompa dan Ikan Make yang berkembang biak di Pulau Haruku. Konon, ikan-ikan tersebut merupakan hadiah atas kebaikan yang dilakukan oleh Buaya Laerissa Kayeli. Ikan-ikan tersebut masih banyak ditemukan di Pulau Haruku. Bahkan, sampai saat ini di Negeri Haruku masih terdapat tradisi Sasi Lompa (larangan untuk menangkap Ikan Lompa) sehingga ikan tersebut hanya dapat di tangkap dalam kurun waktu tertentu.

Selanjutnya, Maluku juga memiliki fabel yang berjudul Persahabatan Ikan Hiu dan Ikan Pari. Cerita tersebut berasal dari Kepulauan Kei yang ditulis oleh Jabal Abdullah Leisubun. Cerita ini dimuat ke dalam Antologi Cerita Rakyat Kepulauan Kei yang diterbitkan Kantor Bahasa Maluku pada tahun 2019. Cerita itu menceritakan tentang persahabatan antara Ikan Hiu dan Ikan Pari yang ada di Teluk Ohoi Ibra, Kepulauan Kei. Dikisahkan dalam cerita tersebut tentang perjuangan kedua ikan melawan naga raksasa yang mengganggu kehidupan di lautan. Ikan-ikan tersebut bersatu melawan kesombongan naga raksasa. Dengan kepandaian dan kerja sama yang baik, Ikan Hiu dan Ikan Pari berhasil mengalahkan naga raksasa yang berukuran jauh lebih besar. Mereka berhasil membuat naga raksasa terjebak dalam sebuah gua sehingga tidak dapat lagi keluar mengganggu ikan-ikan di teluk tersebut. Dari cerita tersebut, terdapat nilai-nilai edukasi yang dapat dijadikan pembelajaran yakni tentang arti persahabatan, kepandaian, dan kerja sama dalam menghadapi sebuah masalah. Cerita Persahabatan Ikan Hiu dan Ikan Pari juga memiliki nilai budaya yang terkait dengan asal muasal Batu Hiu-Pari di Teluk Ibra yang sampai saat ini masih sering disebut Vat Yeu-Far (Leisubun, 2019:81).

 Berbeda dengan kedua fabel sebelumnya, terdapat salah satu fabel dari Kepulauan Buru yang memiliki nilai-nilai edukasi yang bersifat keilmuan. Cerita berjudul Burung Camar di Tanjung Rub yang ditulis oleh Faisyah, S.Pd. menceritakan tentang kehidupan burung camar di dekat Pantai Tanjung Ruba, antara Pantai Seith dan Wailepa. Diceritakan dalam cerita tersebut tentang percakapan seekor burung elang berparas elok, bernama Cici dengan ibunya. Selain mengisahkan kedekatan antara anak dengan ibunya, mereka bercerita tentang proses turunnya hujan. Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, ibu burung Camar menceritakan proses terjadinya hujan. Awalnya, hujan terjadi dari hasil penguapan air yang kemudian berkumpul membentuk awan. Setelah melewati beberapa waktu, awan-awan tersebut berubah menjadi awan hitam karena adanya perubahan suhu dari panas menjadi dingin. Secara berkelanjutan awan hitam berubah menjadi mendung dan menyimpan butir-butir air. Karena tertiup angin, butir-butir air turun ke bumi dan hal itulah yang dinamakan hujan. Dikemas dengan latar suasana hutan yang asri dan keindahan laut lepas semakin menambah daya tarik cerita. Hal itu tentu menambah minat anak-anak untuk mendengar atau membaca cerita tersebut. Selain menambah wawasan tentang proses terjadinya hujan, kita dapat mengambil nilai-nilai positif tentang kedekatan dan kasih sayang seorang ibu dengan anaknya, begitu juga sebaliknya.

Beberapa judul fabel di atas merupakan sebagian dari kekayaan cerita rakyat yang tersimpan di Maluku. Jika kita gali lebih dalam, banyak nilai edukasi yang bermanfaat untuk membangun karakter anak. Pendidikan karakter anak merupakan suatu proses membina budi pekerti yang turut membentuk karakter manusia di masa mendatang (Setiawati,2015). Pendidikan karakter di usia dini juga dapat memberikan sumbangsih besar pada kehidupan dalam mengatasi berbagai persoalan di masa mendatang. Dengan demikian, sudah selayaknya kita mampu memanfaatkan fabel dalam upaya membangun karakter positif bagi anak.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.