Syair Jalan Kereta Api Karya Tan Teng Kie (Tinjauan Sastra Melayu Tionghoa)

0
460

Helmina Kastanya

Kantor Bahasa Maluku

Syair Jalan Kereta Api ditulis oleh Tan Teng Kie pada tahun 1890. Syair ini menceritakan tentang pembangunan jalan kereta api dari Batavia ke Karawang yang dilakukan pada akhir abd ke-19. Tan Teng Kie yang bekerja sebagai seorang pedagang menuliskan syair ini dengan menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Menurut saya, tulisan Tan teng Kei ini ditujukan untuk dapat dibaca dan dipahami oleh orang pribumi maupun orang Belanda sehingga menggunakan bahasa Melayu. Tan Teng Kei berprofesi sebagai seorang pedagang dan bukan seorang penulis sehingga melalui  syair ini terlihat bahwa syair ini semacam gambaran atau deskripsi tentang pembangunan jalan kereta api yang dituliskannya dengan lugas dan apa adanya dengan tidak menggunakan gaya bahasa atau pilihan kata yang puitis. Apa yang dituliskannya seperti deskripsi keadaan  apa adanya berdasarkan apa yang dilihatnya. Namun, berdasarkan teks syair ini dapat disimpulkan juga bahwa Syair Jalan Kereta Api merupakan bentuk ekspresi protes yang dilakukan oleh Tan Teng Kei mewakili kaum pribumi terhadap pemerintahan kolonial. Tan Teng Kie menggambarkan tentang proses kerja yang dilakukan oleh para kuli yang berasal dari orang-orang pribumi. Tan Teng Kei menyinggung tentang waktu kerja para kuli yang lama, tentang upah yang sangat kecil, tentang kecelakaan-kecelakaan kerja yang terjadi. Semuanya itu tergambar dalam isi syair ini seperti bagian kutipan berikut:

Kuli bekerja sampai pagi
Tanah karang teruruk lagi
Kuli mengguruk sampai tinggi
Tiyada peduli banyak rugi
           Kuli kerja’in rawa itu
           Uruk tanah pasir dan batu
           Ada yang mati kulinya Satu
           Kelanggar salat si setan hantu
Buka Jalan teruruk sawa
Melanggar juga rawa-rawa
Ongkos keluwar tiyada keciwa
Pekerja’annya susah dengan rewa

Selain menggunakan bahasa yang lugas, Tan Teng Kei juga menuliskan syair ini dengan menggunakan bahasa jenaka seperti yang dilakukannya untuk menggambarkan kapal Rusia yang terlihat mendekati pelabuhan. Kutipan tersebut seperti berikut:

             Orang menonton rame sekali
             Tua Muda, ada yang tuli,
             Perempuan laki, Jawa, Bali,
             Ampir karcis ta’ dapat beli

Pada bagian akhir tulisan ini Tan Teng Kei menggunakan bahasa Belanda namun langsung diterjemahkan olehnya dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh pribumi seperti pada kutipan berikut:

Di klender leven eeensgezind
De Halteehef, man, vrouw en kind,
Door ieder, die hen kent, bemind
Ze leven zeg ik van den wind
             Ertinya- chefnya terlalu bisa
             Dengan istrinya suda biyasa
             Makan ta’makan atau puasa
             Kerjanya tetap senantiasa

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.