Sajak-Sajak Maut: Komunikasi Transendental Para Penyair

0
513

Herni Paembonan

Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Para penyair dalam menentukan tema sebuah sajak tidak terlepas dari proses kontemplasi yang mereka alami. Tema-tema tentang pemandangan alam, cinta, air mata, perjalanan, ketuhanan bahkan maut atau kematian kerap kali menjadi tema besar yang ditulis oleh para penyair. Dari sekian banyak tema tersebut, tema maut atau kematian seolah menjadi tema yang tak luput dari bayang-bayang penyair. Tema kematian sering kita jumpai pada beberapa sajak atau puisi dari  penyair besar Indonesia seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, WS Rendra, Subagio Sastrowardoyo, dan Taslim Ali.

Kematian merupakan titik klimaks dari perjalanan hidup seseorang. Tidak ada seorang pun yang dapat bebas dari maut. Ketika maut itu datang menyapa dan memanggil, saat itulah kita harus “pulang”. Tanpa kita sadari, kematian sebenarnya kadang hadir berkonfrontasi dalam kehidupan seseorang. Bagi para penyair, hal itu menjadi sesuatu yang sangat menarik karena mereka akan memberikan tanggapan yang berbeda-beda dalam memaknai kematian. Boris Leonidovich Pasternak, seorang penyair dari Rusia (dalam Azhari, 2014:74), mengungkapkan bahwa semua filsafat merupakan suatu usaha yang luar biasa dalam mengatasi masalah kematian dan selalu muncul dalam karya sastra.

Jauh sebelum kembali menghadap Sang Pencipta, penyair Sapardi Djoko Damono telah menuangkan dan menggambarkan rasa kehilangan yang sarat akan kematian pada puisi-puisinya yang cukup populer. Beberapa puisi Sapardi yang mengandung makna kematian, yakni “Pada Suatu Hari Nanti”, “Pada Suatu Pagi Hari”, “Yang Fana Adalah Waktu”, “Hujan Bulan Juni”, “Sajak Tafsir”, “Hatiku Selembar Daun”, dan “Gerimis Jatuh”. Tahun 1969, Sapardi juga menulis sebuah puisi prolog dengan judul “DukaMu Abadi”. Berikut penggalan dari prolog tersebut.

“Masih terdengar sampai di sini … DukaMu abadi … Malam pun sesaat terhenti … Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar … Kusapa dukaMu jua, yang dahulu … yang meniupkan zarah ruang dan waktu.”

Prolog itu membawa kita pada pemikiran bahwa sastra dapat memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh komunikasi biasa sehari-hari. Sajak tersebut memberikan suatu pengalaman religius dari sisi lain karena kita bisa menyapa Tuhan dari jarak yang begitu dekat. Frasa dukaMu menunjuk kepada Tuhan, bukan Tuhan yang kita kenal pada umumnya, melainkan Tuhan yang berduka. Dia yang mengambil alih kesedihan kita sehingga duka itu menjadi milik-Nya dan duka itu masih bisa didengar, serta dapat kita sapa. Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono dinikmati oleh banyak orang, mulai dari kalangan muda sampai tua, lintas kelas, dan lintas golongan. Ketika membaca prolog itu, kita akan disadarkan bahwa kematian itu begitu dekat dengan kita. Membaca sajak Sapardi juga mengingatkan kita pada puisi Chairil Anwar yang dikenal banyak menuliskan puisi-puisi bertema kehidupan dan kematian.

Chairil Anwar, salah satu pelopor penyair dari Angkatan 45, mengawali tulisannya dengan sebuah puisi berkisah tentang kematian yang berjudul “Nisan”. Puisi tersebut tidak terlepas dari duka yang dialami oleh sang penyair akibat maut yang merenggut sang nenek, sosok yang begitu penting bagi Chairil Anwar karena telah dengan tulus merawatnya sejak dari kecil. Duka penyair diluapkan dalam bentuk frasa dan tercipta menjadi sebuah puisi. Frasa-frasa dalam puisi tersebut menunjukkan bahwa seorang Chairil Anwar begitu “menikmati” makna kematian. Chairil dikenal sebagai lelaki yang kuat dan tak mudah untuk mengalah, tetapi dia akhirnya harus mengalah pada kematian. Melalui kedua puisi terakhirnya, dia seolah mampu meramal jika kematiannya sudah dekat. Menjelang hari kematiannya, dia terus melakukan komunikasi transendental terhadap dirinya dengan Sang Pencipta yang dituangkan dalam puisi “Yang Terampas dan Yang Putus” dan “Derai-derai Cemara”.  Ia berkomunikasi dengan maut secara puitis. “Aku bisa lepaskan lagi kisah baru padamu”, itu merupakan sebuah kesadaran dari Chairil bahwa maut datang untuk membuka jalan bagi kehidupan yang sebenarnya, yakni kehidupan kedua setelah kematian.

Penyair Taslim Ali yang hadir di antara era Angkatan 45 dan Pujangga Baru juga pernah menulis puisi kematian yang mistik. Puisi “Aku dan Debu” yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1948 menegaskan bahwa Taslim Ali melihat maut dari sisi yang paling kompleks. Ia mengangkat kematian menuju ruang yang diciptakannya sendiri, ruang-ruang yang tidak terbaca oleh orang lain, ruang di antara kehidupan, kematian, dan setelah kematian.

Seorang penulis dari Makassar bernama Ahyar Anwar yang selalu menitipkan cinta, air mata, dan luka pada karya-karyanya pernah mengatakan bahwa puisi adalah cara puitis untuk berkelahi dengan sunyi. Puisi juga merupakan cara indah untuk mengawetkan ketiadaan. Bahkan, sebelum kematian datang merenggutnya, ia telah mewasiatkan puisi kecil untuk dituliskan pada nisannya yang berbunyi “Di sini terbaring seorang lelaki sederhana yang di hatinya hanya ada cinta”.

Keberanian penyair menuliskan tentang maut kadang lebih banyak mencemooh rasa putus asa manusia pada kematian, karena manusia tidak memiliki kuasa untuk menentangnya. Puisi-puisi yang membahas kematian bukan sebagai sesuatu yang mengerikan melainkan sebagai bagian dari perjalanan manusia itu sendiri. Aslan Abidin, seorang penyair muda Indonesia, melalui puisinya yang berjudul “Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian” menyampaikan bahwa kematian dapat dibaca kompleksitasnya seperti karakter manusia yang selalu ada di sekitar kita dan membayangi kita sebagai takdir yang tepat waktu.  Puisi itu cukup panjang dan merupakan bagian dari buku Orkestra Pemakaman.

Maut menjadi sebuah ruang transportasi spiritual bagi para penyair untuk mendekatkan diri dengan Tuhannya. Sajak bertema kematian merupakan bagian pembebasan diri yang oleh Kuntowijoyo (1984) disebut sebagai perwujudan dari hidup yang abstrak dan dipengaruhi oleh gerakan roh. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sajak-sajak transendental lebih mengutamakan aspek-aspek hermeneutika. Tidak banyak orang yang dapat menjelaskan tentang kedatangan maut, terutama pada kematiannya sendiri. Namun, penyair justru hadir sebagai juru tulis kematian dirinya. Tidak mudah menuliskan frasa yang damai ketika maut menjelang, sebagaimana Subagio Sastrowardoyo menuliskan “napas begitu tipis seperti kaca … keheningan jadi pengiring paling setia … hari kemarin sudah tiada …” .

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.