Mengulik Tradisi di Negeri Morella

0
142

Zahrotun Ulfah

Pengkaji di Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Bagi yang bermukim di Provinsi Maluku, khususnya Pulau Ambon, tentu sudah tidak asing dengan salah satu negeri yang terletak di wilayah jazirah Leihitu.  Negeri Morella yang dikenal dengan keindahan objek wisata Pantai Lubang Buaya ternyata memiliki banyak cerita dan tradisi. Dalam kegiatan pemetaan sastra daerah yang dilakukan Kantor Bahasa Provinsi Maluku pada awal tahun 2021, di Negeri Morella ditemukan banyak cerita dan tradisi lisan yang hidup secara turun-temurun. Mulai dari cerita sejarah Kapitan Telukabesi, mitos Nenek Atima dan Hajar, Asal Usul Manusia di Negeri Morella, Asal-Usul Cengkih, bahkan terdapat tradisi Pukul Sapu yang didalamnya terdapat tarian dan nyanyian  rakyat berbahasa daerah.

Pemetaan sastra merupakan upaya inventarisasi sastra daerah yang terdapat dalam suatu wilayah tutur bahasa tertentu. Adapun bentuk sastra daerah yang diinventarisasi berupa sastra lisan yang didalamnya terdapat tradisi lisan, sastra cetak, dan manuskrip. Seorang pegiat literasi yang juga penduduk asli Negeri Morella, Roesda Leikawa menuturkan bahwa di negeri tersebut kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Namun, Ia juga menuturkan bahwa saat ini hanya masyarakat usia tertentu yang mampu menjelaskan secara gamblang terkait tradisi yang ada. Terlebih lagi jika menggunakan bahasa ibu di negeri tersebut. Tidak banyak lagi masyarakat yang mampu menceritakannya menggunakan bahasa daerah. Memang sungguh disayangkan. Padahal, tradisi dan bahasa daerah merupakan kekayaan yang sangat penting  untuk kita rawat dan lestarikan.

Salah satu yang menarik dari berbagai tradisi hasil pemetaan sastra yang ada di Negeri Morella ialah tradisi Tun Teha Usai. Dari sekian tradisi yang ada, Tun Teha Usai sampai saat ini masih dilakukan di setiap tahunnya. Tun Teha Usai merupakan tradisi khas negeri Morella yang dilaksanakan sehari setelah perayaan Iduladha. Tradisi tersebut terjaga secara turun-temurun dan masih dilakukan oleh sekelompok anak di Negeri Morella. Tun Teha Usai merupakan prosesi penyerahan bumbu dapur dari satu rumah ke rumah lain yang dilakukan satu hari setelah Iduladha sebelum penyembelihan dan memasak daging kurban.

Prosesi Tun Teha Usai dimulai ketika anak-anak berkeliling kampung sambil menyanyikan nyanyian Tun Teha Usai. Nyanyian Tun Teha Usai  diiringi oleh alat musik seadanya sesuai kreativitas anak. Mereka mendatangi setiap rumah dengan berdendang dan bernyanyi. Dengan suasana yang riang mereka melakukan prosesi tersebut. Ibu-Ibu di setiap rumah pun sudah paham dengan atraksi yang mereka lakukan. Ibu-Ibu dengan sukarela menyerahkan bumbu-bumbu dapur kepada anak–anak tersebut. Tujuannya, bumbu-bumbu tersebut digunakan untuk proses memasak hewan kurban sehingga dapat dinikmati atau dimakan bersama-sama oleh seluruh warga Morella.

Adapun lirik dari tradisi Tun Teha Usai ialah:

Tun…

Tun teha usai e..
Mahina e marua

Aii etei’ samaii

Tun…

Tun teha usai e..
Marika asam jawa pamatere pipi waing..
Pipi Koroban Ma’holo hula haji

Tun tahana tahayana be’ene

Hau hau uriu yo

Sumber:

Roesda Leikawa

Yusuf Moni

Secara konteks, bait nyanyian di atas memiliki makna ajakan kepada masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Terlepas dari yang lajang maupun sudah menikah, mereka diajak untuk bersama-sama memberikan kayu bakar dan bumbu dapur yang digunakan saat prosesi memasak daging kurban. Selanjutnya, pada paragraph kedua disebutkan marika asam jawa pamatere pipi waing. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai merica, asam jawa yang bermakna sebagai penyedap rasa kuah kambing.  Marika Asam Jawa dianggap  mewakili semua jenis bumbu masakan yang biasa digunakan untuk memasak daging. Baris selanjutnya mengandung makna jika tidak segera memberikan bumbu-bumbu tersebut, maka daging kambing kurban tidak dapat dimasak dan akan berbau busuk

Biasanya para Ibu dengan sukarela memberikan kelapa, merica, cabe, garam, kayu bakar, dll sampai semua hal yang dibutuhkan untuk memasak daging kurban telah lengkap. Hasil sumbangan tersebut kemudian diserahkan kepada panita hewan kurban dan dikumpulkan di rumah adat. Selanjutnya, panitia memasak daging kurban secara bersama. Setelah daging matang, panitia mengumumkan kepada warga untuk mengambil bagian daging kurban yang sudah dimasak. Penduduk negeri Morella melewati setiap prosesnya dengan suasana suka cita.

Dari Tradisi Tun Teha Usai tersimpan nilai atau kearifan lokal yang dapat menjadi teladan bagi masyarakat di luar Negeri Morella. Perayaan Iduladha yang biasanya sekadar ritual penyembelihan hewan kurban, melalui tradisi ini kita belajar tentang nilai keikhlasan dan kebersamaan. Keikhlasan dari setiap warga untuk memberi dan berbagi, dalam hal ini disimbolkan melalui pemberian bumbu dapur untuk proses memasak daging kurban. Tidak peduli kaya maupn miskin, setiap rumah menyerahkan dengan senang hati apa yang dimiliki untuk kelancaran prosesi memasak daging kurban. Nilai kebersaman juga terlihat ketika anak-anak secara bersama-sama bersemangat untuk mengumpulkan bumbu dapur tanpa mengenal lelah. Nilai-nilai tersebut yang saat ini sudah jarang kita jumpai, apalagi di masyarakat yang tinggal di perkotaan. Anak-anak biasanya lebih memilih untuk bermain gawai dibandingkan dengan berkumpul bersama teman sebaya. Dengan demikian, sudah selayaknya tradisi-tradisi ini kita lestarikan. Sembari melakukan pelestarian tradisi, bahasa daerah pun ikut terselamatkan. Ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui: Budaya Terjaga, Bahasa Daerah Selamat!

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.