Penalaran Moral Melalui Sastra Anak

0
175

Herni Paembonan, S.S.
Pengkaji di Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Artikel ini telah terbit di harian Kabar Timur

Pandemi Covid-19 menyebabkan pemerintah terus mengambil kebijakan-kebijakan pada berbagai sektor. Tidak terkecuali pada sektor pendidikan. Awal munculnya pandemi Covid-19 hingga saat ini, anak-anak masih diwajibkan untuk belajar dari rumah melalui pembelajaran daring. Belajar dari rumah memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif belajar dari rumah, yaitu materi pelajaran dapat diakses di mana pun dan kapan pun, anak-anak akan dipaksa untuk melek teknologi, dan tentunya anak-anak memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga. Selanjutnya, sisi negatif pembelajaran daring, yaitu memunculkan kebiasaan dan perilaku di antaranya ketika siswa diberi tugas oleh guru, yang mengerjakan tugas tersebut bukan siswa melainkan orang tua dan banyak anak yang lebih menghabiskan waktunya untuk melihat gawai di luar materi pembelajaran. Bayangkan, selama 24 jam, anak-anak berada di rumah justru sibuk memainkan gawainya.

Hal yang perlu dipahami bersama adalah kemampuan daya berpikir anak. Hal itu supaya anak dapat menyadari bahwa setiap hal yang dia lakukan memiliki alasan, seperti dia harus mengerjakan tugas dengan jujur karena dia ingin menjadi anak yang baik. Hal itu merupakan konteks dari penalaran moral. Pembentukan karakter yang paling baik pada perkembangan manusia adalah pada masa anak-anak. Masa anak-anak merupakan masa yang penting bagi perkembangan seseorang, baik itu perkembangan kognitif, sosial, maupun moral.

Nalar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya pertimbangan tentang baik  buruk yang berkaitan dengan akal budi dan aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis, jangkauan pikir, dan kekuatan pikir. Selanjutnya, penalaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah (1) cara menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran, (2) hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar, (3) proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. Penguatan penalaran moral dapat mendukung karakter dan kecerdasan anak. Salah satu penguatan penalaran moral guna mendukung karakter dan kecerdasan anak yang memiliki nilai strategis ialah melalui sastra anak. Sastra anak memiliki nilai potensial untuk menyampaikan gagasan, nilai kehidupan sosial kemasyarakatan, serta strategis dalam membangun konstruksi pemikiran maupun pemahaman pembacanya. Pengajaran sastra khususnya cerita-cerita anak merupakan salah satu media yang cukup menarik bagi anak-anak  sebagai cerminan dari kehidupan.

Penalaran moral menjadi satu substansi yang sangat penting karena dapat melatih anak menemukan alasan dia melakukan dan memilih sesuatu. Penalaran moral merupakan salah satu penguatan karakter dan kecerdasan seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari konteks berpikir. Kemampuan berpikir seseorang juga tidak bisa dilepaskan dengan kemampuan menalar sesuatu. Misalnya, ada 2 anak (A dan B) yang diberi tugas secara daring oleh gurunya. Si A segera mengerjakan tugas sekolah tersebut karena ingin bermain, sedangkan si B mengerjakan tugas dengan alasan dapat segera membantu ibunya di dapur. Artinya, dalam konteks tersebut terdapat dua alasan yang membuat orang melakukan pekerjaan yang sama tetapi nalar keduanya berbeda. Peran penalaran moral penting dalam upaya reposisi ilmu pengetahuan sebagai salah satu aspek penguatan moral dan karakter, serta memiliki hubungan yang strategis dalam konteks pembentukan kecerdasan dengan karakter. Cerita anak hadir sebagai bagian dari sastra untuk menguatkan daya nalar anak.

Cerita anak secara hakikat adalah sesuatu yang sering dibaca oleh anak-anak. Lynch-Brown tahun 1992 menjelaskan bahwa cerita anak merupakan cerita yang ditujukan untuk anak berisi tema yang relevan dengan kehidupan anak dan menggunakan sudut pandang anak dengan maksud untuk dibaca dan diminati oleh anak-anak. Diyakini bahwa cerita anak adalah cerita yang membawa misi “moral”. Moral cerita anak memiliki peran strategis dalam mendidik dan memengaruhi perilaku anak. Konsep penalaran moral tersebut berangkat dari alasan dilakukannya suatu tindakan, bukan sekadar arti dari suatu tindakan.

Moral secara psikologi berhubungan dengan nilai dan sikap manusia dalam berperilaku. Dengan demikian, moral menjadi dasar dan landasan seseorang berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam konteks cerita yang merupakan cermin dari kehidupan. Pemahaman anak terhadap moral dalam cerita harus sampai pada “nalarnya”. Dengan pengetahuan, penalaran moral dari cerita anak tersebut dapat memberikan pengetahuan tentang ajaran baik dan buruk untuk pembentukan karakter yang baik. Seorang anak yang mempunyai daya nalar yang tinggi biasanya akan memiliki kecerdasan yang baik pula. Pemahaman mengenai nalar moral cerita memengaruhi tingkat kecerdasan anak. Nalar berhubungan dengan sesuatu yang biasanya tidak terlihat secara eksplisit, tetapi dapat dijelaskan. Pengetahuan dan pemahaman akan hal tersebut dapat merangsang kecerdasan anak sekaligus menanamkan karakter anak.

Pembelajaran sastra anak tidak hanya menambah wawasan pengetahuan tetapi juga membentuk watak atau karakter anak. Pengenalan anak terhadap bacaan-bacaan seperti cerita anak secara tidak langsung akan memperkenalkan anak tentang dunia dan peristiwa di dalamnya. Moral tidak hanya mengenai baik dan buruk, tetapi juga tentang cara struktur nilai itu dibangun. Konstruksi nilai moral inilah yang kemudian melahirkan penalaran, yaitu mengenai cara pikir dan rasionalisasi lahirnya sebuah nilai moral. Kemampuan merasionalisasi akan memengaruhi kecerdasan dan berimplikasi terhadap pengambilan keputusan seseorang.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.