Fenomena Istilah Gaul Memengaruhi Perkembangan Bahasa Indonesia

0
520

Rara Rezky Setiawati, S.S.

Penyuluh di Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Era industri 4.0 merupakan era yang mengalami perkembangan pesat dalam hal teknologi. Segala sesuatu yang dulu dilakukan secara manual, kini berfokus pada sesuatu yang bersifat digital. Perkembangan teknologi saat ini memiliki pengaruh bagi semua kehidupan di dalam masyarakat dengan membuat sesuatu hal yang baru. Adanya perubahan-perubahan  tersebut tentunya harus diantisipasi, terutama di kalangan generasi milenial.

Generasi milenial sangat akrab dengan perkembangan teknologi saat ini. Teknologi berbasis digital merupakan media yang wajib dikuasai oleh  generasi milenial untuk mengakses informasi dan menggunakan media tersebut sebagai wadah untuk belajar dan bertukar informasi. Oleh sebab itu, generasi milenial dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang semakin hari penggunaan teknologi semakin cepat dan semakin maju. Ketepatan dalam memahami penggunaan teknologi berbasis digital juga harus dimiliki oleh setiap anak muda, agar mampu membedakan hoaks dan fakta yang semakin hari semakin sulit diidentifikasi.

Penggunaan media terutama media sosial tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat khususnya generasi milenial. Penggunaan gawai saat ini menjadi bagian hidup setiap kalangan terutama dalam menggunakan media sosial untuk mendapatkan dan bertukar informasi. Penggunaan beragam aplikasi media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan Tiktok telah menjadi suatu kebutuhan bagi setiap kalangan. Oleh sebab itu, penggunaan media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar baik dari segi pola pikir, maupun perilaku karena tidak ada batasan dalam menggunakan media sosial tersebut. Melakukan interaksi di media sosial tentunya tidak bisa dipisahkan dengan cara kita berbahasa, hal ini sangat berkaitan dengan adanya variasi bahasa yang digunakan generasi milenial untuk berkomunikasi di media sosial. Variasi bahasa muncul dari berbagai bahasa yang beragam pada setiap daerah, kelas sosial, zaman yang berbeda, dan situasi bahasa yang mengalami perubahan, salah satunya ialah bahasa gaul. Maraknya penggunaan bahasa gaul dan munculnya berbagai kata dan istilah baru menyebabkan generasi milenial sulit menerima bahasa Indonesia yang baik dan benar dan memahami kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

Anak muda saat ini lebih tertarik menggunakan bahasa gaul yang membuat mereka lebih eksis di media sosial. Akibatnya, kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar tergerus dengan munculnya bahasa gaul dan bahasa asing sehingga keaslian dari sebuah kosakata dalam bahasa Indonesia akan sulit diketahui oleh generasi milenial karena ketertarikan mereka dalam menggunakan bahasa tersebut. Media sosial telah menjadi kebutuhan di kalangan masyarakat khususnya generasi milenial yang dapat memberikan pengaruh kuat dalam penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa gaul yang digunakan secara terus menerus akan menyebabkan anak muda tidak tahu-menahu mengenai kosakata yang baku serta bahasa yang baik dan benar.

Akhir-akhir ini, media sosial Twitter menjadi perbincangan oleh warganet karena munculnya istilah jujurly dan sehonestnya yang menambah istilah baru dalam bahasa anak muda saat ini. Selain itu, penggunaan istilah jujurly dan sehonestnya semakin populer digunakan bukan hanya di Twitter, melainkan merambah ke media sosial lainnya. Anak muda semakin kreatif dalam membuat suatu istilah sehingga fenomena kebahasaan seperti ini sangat menarik dan menjadi perhatian bagi kita. Penggabungan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kata. Jujurly yang berasal dari kata dasar jujur dan penambahan –ly, sedangkan sehonestnya berasal dari kata honest yang terapit dengan se- dan –nya.

Penggunaan istilah jujurly dan sehonestnya memiliki makna sejujurnya. Contoh, “jujurly #minkes mengsedih banget, gamau kan kayak Yudha-kun yang ketinggalan update vaksinasi?”, contoh ini diambil dari salah satu unggahan @KemenkesRI di Twitter yang mengimbau anak muda untuk melakukan vaksinasi. Selain itu, unggahan @GrabID “sehonestnya kalau jam segini tuh suka bingung mau ngegrabfood apaan”. Pada dasarnya, semua orang dituntut untuk membuat sesuatu yang baru agar menarik perhatian semua orang termasuk warganet di media sosial, tetapi mengunggah sebuah konten yang menarik agar tidak ketinggalan zaman dengan menggunakan  bahasa gaul sehingga dapat diterima di semua kalangan utamanya generasi milenial tidak patut digunakan, sebaliknya kedua unggahan tersebut harus menjadi contoh bagi anak muda saat ini untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia selalu dikenal dengan bahasa yang kaku, bukan berarti sebuah unggahan atau konten juga kaku, melainkan ketika menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di media sosial merupakan cara untuk mengajak dan memengaruhi generasi milenial menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Selanjutnya, istilah mengsedih yang berarti bersedih, mengcapek, mengkaget, dan masih banyak istilah-istilah baru dalam bahasa gaul yang mencantumkan awalan meng- walaupun tidak sesuai dengan kaidah pengimbuhan dalam bahasa Indonesia. Dalam buku yang berjudul Bentuk dan Pilihan Kata menjelaskan bahwa awalan meng- dapat digunakan sebagai pembentuk kata dalam bahasa Indonesia. Awalan meng- dapat mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan kata dasar yang berawal dengan huruf tertentu, misalnya huruf /k, g, h, kh/ dan huruf vokal serta luluh apabila dirangkai dengan huruf /k, p, t, s/. Kata dasar sedih apabila dirangkai dengan gabungan imbuhan meng-…….-kan, maka terjadi peluluhan menjadi menyedihkan. Selain itu, istilah membagongkan yang seringkali dipakai ketika seseorang menunjukkan sesuatu yang kurang jelas atau kurang dimengerti. Dalam hal ini, membagongkan bermakna membingungkan.

Menggunakan bahasa di media sosial tidak harus mengikuti tren, apalagi penggunaan yang secara tidak langsung dapat merusak keutuhan bahasa Indonesia. Kuatnya pengaruh media sosial saat ini di tengah merebaknya Covid-19 merupakan media yang tepat untuk mengajak dan  memengaruhi anak muda menggunakan bahasa Indonesia agar perkembangan bahasa gaul tidak mendominasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebiasaan menggunakan bahasa gaul akan membuat generasi milenial semakin sulit menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan, terutama dalam lingkungan formal. Generasi milenial akan sulit menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi. Kalau generasi milenial terlena dengan istilah-istilah dalam bahasa gaul dan bahasa asing, maka posisi bahasa Indonesia akan sempoyongan mempertahankan identitasnya sebagai bahasa negara.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.