Bahasa Daerah Laha, Satu-Satunya Bahasa Daerah di Kota Ambon dalam Ancaman Kepunahan

0
254
Artikel ini telah terbit di harian Kabar Timur

Harlin, S.S.

Peneliti di Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Negeri (setingkat desa) Laha adalah salah satu negeri yang berada di Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku. Negeri Laha berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Maluku Tengah yang berada di Pulau Ambon. Jumlah penduduk Negeri Laha sebesar 7.167 jiwa (BPS Kota Ambon, 2016). Jumlah populasi penduduk antara laki-laki dan perempuan hampir berimbang. Masyarakat Negeri Laha hampir semua menganut agama Islam. Negeri Laha juga lebih dikenal karena secara administrasi Bandara Udara  Pattimura yang merupakan salah satu bandara internasional di Indonesia terletak di Negeri Laha.  Oleh karena akses menuju dan dari pusat kota di Ambon begitu mudah dijangkau baik melalui jalan darat dan laut, sejak dahulu masyarakat Negeri Laha menjadi sangat terbuka dan seringnya masyarakat bepergian ke wilayah lain terutama di pusat Kota Ambon. Menurut penuturan masyarakat di negeri-negeri atau desa-desa yang berada di wilayah Kota Ambon, dahulu di wilayah Kota Ambon ditemukan beberapa negeri dan desa yang masih memiliki bahasa daerah sendiri untuk digunakan dalam komunikasi sehari-hari dan dalam ritual adat. Namun sekarang ini, bahasa-bahasa daerah tersebut sudah tidak ditemukan atau dipakai lagi dalam komunikasi sehari-hari. Jika pun masih ada, itu hanya bisa ditemukan dan mampu digunakan pada ritual-ritual adat  di negeri-negeri tertentu, tetapi bukan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Artinya bahasa-bahasa daerah tersebut dianggap telah punah.

Lalu, bagaimana dengan bahasa yang ada di Negeri Laha? Berdasarkan hasil penelusuran peneliti dari Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Negeri Laha masih memiliki bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakat di Negeri Laha baik sebagai komunikasi sehari-hari dalam masyarakat maupun dalam ritual adat. Dengan demikian, bahasa daerah yang ada di Negeri Laha merupakan satu-satunya bahasa daerah yang masih ada dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari di wilayah Kota Ambon.

  Berdasarkan peta bahasa yang diterbitkan dan dipublikasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masih terdapat bahasa daerah di Negeri Laha, Kota Ambon. Menurut peta bahasa tersebut, bahasa daerah di Negeri Laha merupakan satu-satunya bahasa daerah yang masih ada di wilayah Kota Ambon. Bahasa daerah yang ada di Negeri Laha berkategori masih berdialek atau masih bisa saling memahami dengan 14 (empat belas) dialek bahasa daerah yang ada. Sebaran 14 dialek tersebut meliputi 1) Hatuhaha Pulau Haruku dituturkan di Desa Pelauw, Kailolo, Kabauw, Rohomoni, Hulaliu, 2) Siri Sori Pulau Saparua dituturkan di Desa Siri Sori Islam, 3) Tanah Titawaai Pulau Nusa Laut, dituturkan di Desa  Titawaai, 4) Asilulu Pulau Ambon dituturkan di Desa Asilulu, Larike, Negeri Lima, 5) Hitu Pulau Ambon dituturkan di Desa Hitulama, Hitumessing, Mamala, Morella, Wakal, Hila,  6) Tulehu Pulau Ambon dituturkan di Desa Tulehu, Tial, Tengah Tengah, Liang, 7) Amahai Pulau Seram dituturkan di Desa Amahai, Ruta, 8) Sepa di Pulau Seram dituturkan di Desa Sepa, 9) Tamilow Pulau Seram dituturkan di Desa Tamilow, 10) Tehoru Pulau Seram dituturkan di Desa Tehoru, 11) Huaulu Pulau Seram dituturkan di Desa Huaulu, 12) Koa Pulau Seram dituturkan di Desa Airbesar Manusela, 13) Kaitetu Pulau Ambon dituturkan di Desa Kaitetu, Seith, 14) Elpaputih Pulau Seram dituturkan di Desa Elpaputih.

Berdasarkan pengamatan dari peneliti Kantor Bahasa Provinsi Maluku tahun 2021, penutur bahasa daerah di Negeri Laha hanya dituturkan pada sebagian kecil penduduk. Diperkirakan terdapat 200-an orang dari jumlah penduduk 7.167 jiwa yang bisa berkomunikasi dalam bahasa daerah. Dengan demikian, hanya lebih kurang 4 persen saja yang masih berkomunikasi dalam bahasa daerah. Itu pun dari kalangan  usia tua di atas 40 tahun yang bisa berkomunikasi dalam bahasa daerah sehari-hari secara sederhana. Untuk kalangan anak-anak dan dewasa (di bawah 40 tahun) sebagian besar sudah tidak memahami sama sekali. Kalaupun bisa memahami, namun sudah tidak lancar berkomunikasi dalam bahasa daerah bahkan cenderung menjadi penutur pasif atau hanya bisa memahami arti tetapi sulit untuk mengucapkan/berbicara. Selain itu, bahasa daerah di Negeri Laha dari segi pemakaian sehari-hari dalam masyarakat pada situasi formal/resmi seperti pada pertemuan-pertemuan di desa, di sekolah, di puskesmas, khutbah/ceramah di masjid, dan lain-lain sudah jarang digunakan atau ditemukan. Bahkan, pada situasi tidak formal/resmi pun seperti ketika berada di rumah, di pasar, di tetangga, dll. tidak seringkali digunakan.  Dengan melihat situasi kebahasaan baik dari segi pemakai dan pemakainnya seperti yang tergambar di atas, maka bahasa daerah di Negeri Laha berkategori terancam punah. Fakta bahasa daerah di atas tentu menjadi kekhawatiran bersama kita untuk segera melakukan langkah-langkah agar bahasa daerah tersebut bisa tetap lestari.

Untuk mempertahankan bahasa daerah di Negeri Laha tetap lestari sekaligus terhindar dari kepunahan, maka perlu   dilakukan langkah-langkah cepat dan perlu perhatian serta dukungan serius berbagai macam pihak di antaranya masyarakat  di Negeri Laha itu sendiri, Pemerintah Kota Ambon, dan Pemerintah Provinsi, serta lembaga-lembaga terkait baik lembaga pemerintah maupun lembaga-lembaga swadaya yang berkonsentrasi dengan penyelamatan bahasa dan budaya daerah. Wujud dari  langkah-langkah cepat dan aksi dukungan serius itu dapat melalui penggunaan atau pemakaian bahasa daerah Laha oleh masyarakat secara menyeluruh di Negeri Laha baik situasi resmi/tidak resmi,  peraturan daerah/peraturan wali kota/peraturan negeri, penyusunan kamus, pembuatan bahan ajar bahasa daerah, pembelajaran bahasa daerah dalam muatan lokal di sekolah, dan langkah-langkah lain yang lebih memungkinkan untuk peningkatan dan pelestarian bahasa daerah di Negeri Laha. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.