Membaca Itu Menyenangkan?

0
137

Vonnita Harefa, S.S.

Penyuluh Bahasa di Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Artikel ini telah terbit di harian Kabar Timur

Membaca adalah hal yang menyenangkan. Sebagian orang menyetujui pendapat tersebut dan sebagian lagi tidak. Orang yang setuju akan heran, mengapa ada orang yang mengatakan kalau membaca itu tidak menyenangkan padahal kenyataannya membaca itu bisa menjadi suatu candu. Rahim dalam bukunya Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar (2008:11) salah satu tujuan membaca adalah memperoleh kesenangan. Senang mengenal kata baru, senang menerima informasi, dan senang berimajinansi melalui bacaan karya sastra. Hal-hal tersebut dapat dinikmati apabila membaca menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kenyataannya, masyarakat Indonesia belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari. Hal ini terbukti melalui survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2019 merilis bahwa Indonesia berada di urutan ke-62 dari 70 negara. Hasil tersebut dengan jelas mengatakan bahwa Indonesia termasuk 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Membaca merupakan bagian dari literasi. Pemerintah tidak tinggal diam menanggapi kondisi tersebut. Ada beberapa usaha yang digiatkan guna meningkatkan literasi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melakukan pengiriman buku-buku ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), pelatihan untuk pegiat literasi, dan adanya Gerakan Literasi Nasional (GLN). Selain itu, balai dan kantor seperti Kantor Bahasa Provinsi Maluku juga menyediakan bacaan baik secara daring maupun luring. Bacaan tersebut dapat diakses secara daring di laman atau dapat mengunjungi perpustakaan Kantor Bahasa Provinsi Maluku. Sekolah-sekolah juga berperan meningkatkan literasi, seperti tersedianya pojok baca di ruang kelas.

Usaha-usaha tersebut tidak akan seimbang jika masyarakat enggan ikut serta untuk meningkatkan literasi. Tidak dimungkiri bahwa ada kendala untuk meningkatkan literasi yang juga berhubungan dengan minat baca. Oleh karena itu, peran setiap orang sangat diperlukan, seperti peran orang tua, guru, pegiat literasi, dan siswa/mahasiswa.

Cara menumbuhkan minat baca bisa dimulai dengan membacakan buku baik secara nyaring maupun bersama. Membaca nyaring dilakukan dengan bersuara. Kegiatan membaca ini membutuhkan pembaca dan pendengar. Pembaca bisa dilakukan oleh guru, orang tua, dan pegiat literasi sedangkan pendengar diperankan oleh anak-anak atau siswa-siswi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Trelease (2013:45) dalam bukunya The Read-A Load Handbook  Seventh Edition menuliskan “Those meaningful sounds in the ear now will help the child make sense of the words coming in through the eye later when learning to read”. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa suara-suara dari membaca seperti membaca nyaring akan membantu anak-anak memahami bacaan yang dimulai dari melihat bacaan melalui mata kemudian mendengar suara melalui telinga. Kondisi ini membantu anak-anak/pembaca untuk memahami bacaan dengan baik. Berbeda dari membaca nyaring, membaca bersama adalah mengajak anak-anak membaca secara bersama dengan memperkenalkan beberapa kata yang dirasa baru oleh anak-anak. Kata baru tersebut akan dibantu dengan memperlihatkan gambar yang mendukung kata baru tersebut. Anak-anak akan diajak terlibat secara aktif untuk mengenal bahan cerita tersebut. Mulai dari sampul, ilustrator, tokoh, alur, dan sebagainya.

Membaca nyaring dan membaca bersama merupakan salah satu metode untuk memperkenalkan literasi kepada anak. Peran orang terdekat ataupun pemangku kepentingan diperlukan untuk mendukung peningkatan literasi ini. Benar kata pepatah membaca adalah jendela dunia. Semakin banyak membaca semakin banyak pula wawasan yang diperoleh. Membaca juga mempunyai manfaat seperti yang disampaikan Rachmawati dalam bukunya Manejemen Sumber Daya Manusia (2008:4) bahwa untuk meningkatkan kadar intelektual, memperoleh berbagai pengetahuan hidup, memiliki cara pandang dan pola pikir yang luas, memperkaya perbendaharaan kata, mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia, meningkatkan keimanan, dan mendapatkan hiburan. Banyaknya pemanfaatan membaca seharusnya membuat masyarakat mengemari membaca, tetapi itu belum bisa dilakukan.

Masyarakat yang enggan membaca khususnya kaum muda akan memberikan dampak negatif terhadap diri sendiri. Ahmad Rifa’i dalam bukunya Generasi Emas menyebutkan bahwa dampak negatif bagi kaum muda jika malas membaca, yaitu Pertama, generasi muda menjadi generasi pemalas Kedua, kurangnya pengetahuan yang dimiliki akan membuat mereka tidak mampu bersaing dengan daerah lain bahkan negara luar. Ketiga, mereka akan sulit mendapatkan pekerjaan karena minimnya pengetahuan. Keempat, generasi muda yang malas membaca akan sulit dalam bersosial karena wawasan yang kurang. Kelima, generasi muda akan sulit mengembangkan potensi dalam diri karena sempitnya pengetahuan. Keenam, mereka akan menjadi generasi muda yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan cenderung egois karena sibuk dengan gawainya. Dampak negatif atau kerugian tersebut tentu secara tidak sadar akan mulai dirasakan, seperti ketika berkomunikasi orang yang kurang membaca akan kurang percaya diri dan kosakata yang digunakan terbatas. Kurangnya minat membaca akan berpengaruh pada lingkungan sosial, seperti lingkungan kerja, pertemanan, atau lingkungan di masyarakat.

Manfaat membaca lebih banyak keuntungannya daripada tidak membaca. Tentu, kita lebih memilih keuntungan daripada kerugian. Hal yang sama juga berlaku dalam membaca. Mari peroleh keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menumbuhkan minat baca. Jangan biarkan kerugian diperoleh olehmu, generasi bangsa. Semoga rasa senang menghampirimu saat membaca. Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.