Pemetaan Motif dan Tipe Cerita Rakyat di Pulau Buru

0
248

Fadhillah Pandu Pradana, S.S.

Pulau Buru merupakan salah satu pulau yang terdapat di Provinsi Maluku. Secara geografis, Pulau Buru terletak di sebelah barat Pulau Seram dan Pulau Ambon. Secara topografi, Pulau Buru didominasi oleh perbukitan dan pegunungan. Terdapat dua kelompok etnis yang menetap di Pulau Buru, yakni etnis asli dan etnis pendatang. Hal ini berpengaruh pada keragaman bahasa dan dialek yang dituturkan oleh masyarakat di Pulau Buru. Keberagaman bahasa dan dialek di Pulau Buru ini berimbas pada keberadaan sastra lisan yang lahir di Pulau Buru. Tidak adanya media pada zaman dahulu menjadikan kebiasaan bertutur menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mewariskan nilai-nilai budaya.

Berbicara tentang sastra lisan, Vansina dalam Taum (2010:10) mendefinisikan sastra lisan (oral literature) sebagai bagian dari tradisi lisan (oral tradition) atau yang biasanya dikembangkan dalam kebudayaan lisan (oral culture) berupa pesan-pesan, cerita-cerita, atau kesaksian-kesaksian yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya. Pesan, cerita, atau kesaksian-kesaksian tersebut disampaikan melalui tuturan atau nyanyian dalam bentuk dongeng, peribahasa, balada, atau puisi.

Keberadaan sastra lisan yang terdapat di Pulau Buru merupakan kekayaan budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Pelestarian sastra lisan tersebut dapat dilakukan dengan cara perekaman, penginventarisasian, dan pendokumentasian. Inventarisasi sastra lisan berdasarkan bentuk dan motif akan menunjukkan persamaan dan perbedaan sastra-sastra lisan yang terdapat di Pulau Buru.

Menurut Danandjaja (2007:53), Motif teks suatu cerita rakyat merupakan unsur dari cerita itu yang menonjol dan tidak biasa sifatnya. Unsur-unsur tersebut dapat berupa benda, hewan luar biasa, suatu konsep, suatu perbuatan, penipuan terhadap suatu tokoh, tipe orang tertentu, atau sifat struktur tertentu. Aarne-Thompson untuk memahami motif dan tipe dalam cerita rakyat membuat sistem klasifikasi dongeng berdasarkan tipe dengan menggolongkannya ke dalam tujuh jenis, yakni Animal tales (dongeng tentang binatang), Tales of Magic (dongeng tentang hal-hal yang magis), Religius Tales (dongeng tentang keagamaan), Realistic Tales (dongeng tentang realistik), Tales of the Stupid Ogre/Giant/Devil (dongeng tentang raksasa atau hantu yang bodoh), Anecdotes and Jokes (anekdot dan lelucon), dan Formula Tales (dongeng yang memiliki formula).

Pada tahun 2019, Kantor Bahasa Provinsi Maluku telah berhasil mendokumentasikan sastra lisan berbentuk cerita rakyat yang terdapat di pulau Buru dalam bentuk buku cetak maupun digital yang berjudul Antologi Cerita Rakyat Pulau Buru yang dapat diakses pada laman Kantor Bahasa Provinsi Maluku. Sastra lisan yang terdapat di Pulau Buru perlu untuk dilestarikan, karena sastra lisan di Pulau Buru sangat berkaitan erat dengan bahasa Buru. Data Pokok Kebahasaan dan Kesastraan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), menjelaskan bahwa status vitalitas bahasa Buru menunjukkan kategori kritis atau hampir punah. Jika sastra lisan di Pulau Buru tidak dilestarikan, sastra lisan tersebut akan punah bersamaan dengan bahasa Buru.

Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sastra lisan berbentuk cerita rakyat yang terdapat di Pulau Buru berjumlah 37 cerita rakyat. Cerita rakyat di Pulau Buru pada umumnya berkisah tentang binatang, hubungan manusia dengan binatang, hubungan manusia dengan sesama, dan alam. Tipe cerita rakyat Aarne-Thompson, cerita rakyat di Pulau Buru terdiri atas: (1) tales of magic berjumlah 2 buku, (2) animal tales berjumlah 17 buku, (3) realistic tales berjumlah 14 buku, (4) formula tales berjumlah 1 buku, dan(5) tales of the stupid ogre berjumlah 2 buku. Cerita rakyat di pulau Buru memiliki kecenderungan bertipe animal Tales dan realistic Tales. Cerita yang termasuk animal tales, yaitu Asal Mula Pohon Kayu Putih, Elang Raksasa di Negeri Tihu, Gunung Kakusang Garuda, Buaya Telaga Tanusang, Adul dan Burung Raksasa, Burung Talang si Pencuri Mahkota, Elang Raksasa di Gunung Tanusang, Burung Camar di Tanjung Ruba, Balasan Burung Pasang, Pertikaian Asu dan Menjangan, Elang Raksasa Penjaga Pulau Buru, Tendangan Burung Raksasa, Terbentuknya Pulau Pasir Putih, Pulau Tomahu, dan Pulau Fogi, Terbentuknya Telaga Tanusang, Guheba Penjaga Laut Buru, dan Terbentuknya Batu Gusepa. Adapun cerita yang termasuk ke dalam realistic tales, yaitu cerita tentang Air Putri Sang Penjaga, Misteri Sungai Waehaka, Raja dan Keempat Putra Mahkota, Gunung Emas, Menggempur Belanda di Telaga Jikumerasa, Persaudaraan Nusa Laut dan Ambalau, Pesan Terakhir Sang Ibu, Sebab Bernama Pantai Merah Putih, Teror Buaya di Teluk Namlea, Tete Keranjang, Terpisahnya Pulau Nusa Laut dan Pulau Ambalau, Tiga Pemuda Pemberani dari Pulau Buru, Tsunami di Desa Lala, dan Kayeli Desa yang Hilang.

Jika berdasarkan motifnya, cerita-cerita rakyat yang terdapat di Pulau Buru terdiri atas: (1) motif konsep atau larangan berjumlah 8 buku, (2) motif hewan yang luar biasa berjumlah 12 buku, (3) motif perbuatan berjumlah 10 buku, (4) motif penipuan berjumlah 3 buku, dan (5) motif tipe orang tertentu berjumlah 4 buku. Umumnya cerita rakyat di Pulau Buru didominasi oleh motif perbuatan dan hewan yang luar biasa. Cerita yang termasuk motif perbuatan,yaitu Buaya Telaga Tanusang, Misteri Sungai Waehaka, Raja dan Keempat Putra Mahkota, Gunung Emas, Menggempur Belanda di Telaga Jikumerasa, Misteri Telaga Namniwel, Persaudaraan Nusa Laut dan Ambalau, Sebab Bernama Pantai Merah Putih, Terbentuknya Telaga Tanusang, Terpisahnya Pulau Nusa Laut dan Pulau Ambalau, Tifa Pemuda Pemberani dari Pulau Buru, dan Tsunami di Desa Lala. Adapun cerita yang termasuk ke dalam motif hewan yang luar biasa, yaitu Asal Mula Pohon Kayu Putih, Elang Raksasa di Negeri Tifu, Gunung Kakusang Garuda, Adul dan Burung Raksasa, Elang Raksasa di Gunung Tanusang, Elang Raksasa Penjaga Pulau Buru, Tendangan Burung Raksasa, Terbentuknya Pulau Pasir Putih, Pulau Tomahu, dan Pulau Fogi, Guheba Penjaga Laut Buru, dan Terbentuknya Batu Gusepa.

Pada 37 cerita rakyat di Pulau Buru yang diteliti, jenis motif dan tipe cerita didominasi oleh motif hewan yang luar biasa dengan tipe animal tales. Hal tersebut menunjukkan keterkaitan antara hubungan masyarakat sekitar dengan binatang endemik yang terdapat di pulau Buru. Jenis binatang endemik tersebut seperti ikan hiu, ular, burung elang, dan berbagai jenis burung yang hidup di Pulau Buru. Ragam binatang tersebut digunakan sebagai penokohan di dalam cerita rakyat pulau Buru.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan dapat menjaga keberadaan dan kelestarian dari khazanah sastra lisan yang terdapat di Pulau Buru. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara tidak langsung di dalam dunia pendidikan pengajaran sastra yang berbasis kearifan lokal untuk dapat menumbuhkan sikap positif peserta didik atau generasi muda untuk melestarikan dan memanfaatkan produk budaya setempat, mengingat nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita rakyat penting dan berhubungan langsung (relate) dengan kehidupan saat ini.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.