Buku Bermutu, Bekal untuk Bacaan Anak

0
104

Vonnita Harefa, S.S.

Penyuluh di Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Artikel ini telah terbit di harian Kabar Timur

James Patterson seorang penulis Amerika mengatakan bahwa tidak ada anak yang tidak suka membaca. Yang ada adalah anak-anak yang suka membaca dan anak-anak yang membaca buku yang salah. Seorang anak yang menyukai bacaan dimulai dari tersedianya buku-buku di lingkungan mereka. Buku-buku yang tersedia pun harus buku bermutu. Bambang Trimansyah, seorang penulis dan editor Indonesia menjelaskan bahwa buku yang bermutu adalah buku yang berdaya. Berdaya gugah, daya ubah, dan daya indah. Seorang novelis, dramawan, penyair dan cerpenis asal Firlandia Oscar Wilde menambahkan bahwa jika seseorang tidak menikmati membaca buku berulang-ulang, maka tidak ada gunanya membacanya. Tentu pemilihan buku sangat penting untuk kegiatan membaca.

Pengenalan membaca bisa dimulai dari usia dini. Semakin dini memperkenalkan buku kepada anak-anak maka semakin cepat anak-anak menyukai kegiatan membaca. Buku yang disediakan harus bermutu seperti menarik sesuai selera si anak. Bagaimana buku yang bermutu tersebut? Buku bermutu mempunyai beberapa prinsip. Pertama, ukuran buku yang ingin anak baca. Ukuran yang dimaksud bukan ukuran besar atau kecilnya sebuah buku melainkan standar buku yang anak baca. Standar tersebut bukan standar yang digunakan orang dewasa yang orang dewasa pikir anak ingin baca melainkan standar buku yang anak-anak ingin baca. Kedua, buku-buku tersebut terdiri atas berbagai macam buku dan yang ketiga buku untuk anak-anak berasal dari semua jenjang baca. Tentunya ketika ketiga prinsip tersebut terlaksana maka kita sudah membuat fondasi perpustakaan atau pojok baca ramah anak.

Buku yang anak-anak ingi baca itu seperti apa? Tentu, buku yang mempunyai alur cerita menarik tidak berbelit-belit dan berhubungan langsung dengan si anak. Buku yang ceritanya sesuai dengan sosial dan budaya di lingkungan si anak. Ilustrasi yang dihadirkan menarik dan bermakan. Tokoh dalam cerita dapat dikenali dengan mudah oleh si anak. Cerita menjadi hidup untuk anak-anak sehingga membaca menjadi hal yang menyenangkan untuk anak-anak karena melibatkan dan menginspirasi si anak.

Prinsip yang kedua ialah membaca buku dari berbagai macam buku. Setiap anak mempunyai selera masing-masing dalam membaca. Tidak jarang selera anak-anak dapat berubah dari waktu ke waktu. Untuk menyesuaikan kondisi tersebut kita perlu menambahkan berbagai macam buku di perpustakaan, pojok baca sekolah atau di rumah. Buku bisa menjadi cermin dan jendela bagi si anak. Buku sebagai cermin maksudnya untuk membantu anak-anak mengenali adat, budaya, nilai dan tradisi yang ada pada diri mereka. Buku sebagai jendela ialah buku yang mempunyai lingkungan yang berbeda dari si anak dibantu dengan imajinasi yang berbeda. Buku sebagai jendela ini berfungsi untuk memperkenalkan si anak suatu adat, budaya, nilai dan tradisi yang tidak ada pada mereka. Suatu adat yang ada di orang atau lingkungan yang berbeda sehingga di satu sisi si anak menyadari bahwa orang di sekeliling mereka terdiri atas adat-adat atau suku yang berbeda. Buku yang disukai si anak seperti ersedianya beberapa genre yang disukai anak seperti cerita rakyat, nonfiksi, dan fantasi.

Prinsip ketiga ialah buku untuk anak-anak berdasarkan jenjang baca. Baiknya, seorang pustakawan, guru, pegiat literasi atau orang yang mengenalkan buku ke anak mengetahui perjenjangan buku. Apa itu perjenjangan buku? Perjenjangan buku dilakukan untuk mempermudah si anak dalam memilih buku bacaan. Ketika si anak sedang perpustakaan atau pojok baca tak jarang mereka kesulitan untuk memilih buku bacaan. Si anak akan membuka buku dan melihat isi buku. Apakah isi buku tersebut lebih banyak gambar atau tulisan. Jika si anak kesulitan memahami isi buku, buku tersebut tidak akan dilanjutkan untuk dibaca oleh si anak sedangkan ketika buku tersebut menarik oleh si anak, buku tersebut akan diambil dan dibaca oleh si anak. Kondisi seperti inilah perjenjangan buku dibutuhkan. Perjenjangan buku ialah pemadupadanan antara buku dan pembaca sasaran sesuai dengan tahap kemampuan membaca. Jika anak tersebut duduk di kelas 6 SD buku yang dibaca berisi tulisan lebih banyak daripada gambar sedangkan jika seorang anak duduk di kelas 2 SD buku yang dibaca berisi gambar yang lebih banyak daripada tulisan.

Kegiatan Peningkatan Mutu Fasilitator Pendampingan dan Pemanfaatan Buku Bacaan dan Literasi  dan Modul Literasi Numerasi dalam pembahasaannya menjelaskan beberapa kriteria untuk menjenjangkan sebuah buku. Penjenjangan buku dapat dilihat dari banyaknya kosakata, jumlah kata, jumlah kalimat, ilustrasi, jumlah halaman, konten, genre, tanda baca, dan bentuk dan ukuran. Penjenjangan buku mempunyai 5 ukuran yang dimulai dari jenjang A, jenjang B1, jenjang B2, jenjang B3, dan jenjang C. Kelima jenjang tersebut mempunyai ukuran kerumitan kata dan kalimat.

Memberikan buku kepada anak adalah salah satu cara untuk mengenalkan sosial dan budaya di lingkungan si anak atau di lingkungan yang lain. Melalui buku si anak juga bisa belajar membaca, belajar berimajinasi, belajar berinteraksi dan hal positif lainnya. Buku yang disediakan sebaiknya buku yang mempunyai mutu yang baik karena buku yang bermutu bisa menjadi bekal bacaan untuk si anak.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.