Menilik Penulis Cilik

Dudung Abdulah, S.S. 

(Staf Kantor Bahasa Provinsi Maluku)

(Artikel ini telah terbit di harian Siwalima)

Anak merupakan generasi emas yang perlu diperhatikan bakatnya. Orang dewasa kerap kali memandang sebelah mata terhadap kemampuan anak, bahkan memandang mereka sebagai anak kecil yang tidak bisa diandalkan. Padahal bisa saja seorang anak memiliki bakat yang luar biasa setelah bakatnya diperhatikan dan dioptimalkan. Pandangan seperti itu dirasa kurang bijak dan perlu diluruskan. Seharusnya, orang dewasa memberikan kesempatan terhadap anak dalam menggali bakatnya dengan cara membimbingnya. Lebih konkretnya, orang dewasa mencari tahu tentang apa yang disenangi anak. 

Anak bisa berprestasi di usianya yang masih belia. Beberapa anak Indonesia yang berprestasi di tingkat nasional, antara lain: Hafiz Cilik Musa yang mendapatkan penghargaan rekor MURI sebagai hafiz Al-Qur.’an 30 juz termuda (2014); Dai Cilik Maria Ulfah yang menjuarai program AKSI Junior Indosiar (2014); Aktor Cilik Baim Alkatiri yang berhasil membintangi sebelas sinetron (2007—2014); Pesulap Cilik Fritzy Rosmerian yang menjadi grand finalist dalam program Indonesia’s Got Talent 2022; Model Cilik Afanien yang menjadi juara umum dalam program Indonesian Model Award 2022; dan Penyanyi Cilik Joshua Suherman yang pernah popular di tahun 90-an. Keberhasilan mereka tidak lepas dari peran orang dewasa dalam memberikan kesempatan dan dukungan secara penuh. 

Indonesia juga memiliki penulis cilik yang berprestasi, bahkan sampai menginjakkan kaki di luar negeri. Penulis cilik kelahiran 9 Januari 2004 bernama Nadia Shafiana Rahma mulai menulis di usia lima tahun. Ia pernah menjadi pembicara dalam acara Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman. Ia mengisahkan cerita rakyat Asal Mula Nyamuk Mendengung yang berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta di hadapan anak-anak Jerman. Nadia berhasil menulis dua puluh satu buku di usianya yang ke-13 tahun. Beberapa judul buku karya Nadia, yaitu Si Hati PutihSepatu Batik Cantik, dan Pesta Penulis Cilik.

Lalu, bagaimana dengan penulis cilik di Maluku? Kantor Bahasa Provinsi Maluku telah sukses melaksanakan kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2022 di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Buru, Kabupaten Maluku Tenggara, dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Salah satu cabang kegiatan tersebut ialah lomba menulis cerita pendek berbahasa daerah jenjang SD dan SMP. Juara pertama dari setiap jenjang menjadi perwakilan dari masing-masing kabupaten dan diundang ke tingkat provinsi dalam kegiatan Kemah Penulisan Cerpen. Kemah Penulisan Cerpen dilaksanakan di Kota Ambon pada Januari 2023. Para peserta dibekali materi dan praktik penulisan cerpen oleh sastrawan Maluku sehingga menghasilkan karya sastra yang layak baca dan cetak.

Para peserta kemudian diberangkatkan ke tingkat nasional dalam kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) dengan membawa karya masing-masing. FTBIN diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek pada Februari 2023 di Ibu Kota Jakarta. Salah satu susunan acara FTBIN ialah peluncuran antologi cerita pendek berbahasa daerahCerpen karya para penulis cilik Maluku bersanding dengan cerpen karya 68 penulis cilik lainnya yang berasal dari 9 provinsi di Indonesia dalam buku berjudul Zamrud Khatulistiwa Antologi Cerita Pendek Berbahasa Daerah Tunas Bahasa Ibu. Para penulis cilik Maluku tersebut ialah Grasia Anugrah Bihuku dengan judul Wiji Feten Ngei Nenek (Buru), Safira Tasidjawa dengan judul Sang Penolong Fili Hutan Kayu Putih (Buru), Maria Blessing Buksalwembun dengan judul Rakumak Na Empun Ini Lete (Yamdena), Koleta Latbual dengan judul Tantanan Maswan En Var Uk Vadad (Kei), dan Klementina Desiana Ohoiwutun dengan judul Mam Kot Beben Soi Evav (Kei).

Kantor Bahasa Provinsi Maluku menyelenggarakan serangkaian kegiatan menulis cerita pendek berbahasa daerah jenjang SD dan SMP dalam rangka mewadahi serta memberikan kesempatan dan bimbingan kepada para penulis cilik Maluku untuk berkarya. Para peserta diharapkan bisa mengembangkan dan mengasah terus kemampuan menulis mereka secara mandiri. Dengan demikian, mereka tidak hanya cakap menulis cerpen dalam bahasa daerah, tetapi juga dalam bahasa Indonesia. Tidak hanya cakap menulis dalam satu genre, tetapi juga genre lainnya seperti puisi, komik, naskah drama, dan novel anak. Ajek dalam berlatih bisa mengantarkan para penulis cilik Maluku menjadi penulis besar yang menginspirasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + nineteen =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll to Top