Edukasi dari Konten Literasi

Oleh Duta Bahasa Provinsi Maluku

Setelah Anda selesai membaca artikel ini, akan ada 1,3 juta twit baru di Twitter, 68 juta konten baru di Facebook, dan 260.000 gambar baru yang diunggah di Instagram[1]. Setiap jam, ada jutaan konten baru yang diunggah di berbagai platform media sosial. Meningkatnya ketertarikan masyarakat umum, termasuk juga masyarakat Indonesia, pada media sosial membuka banyak sekali kesempatan untuk memberikan edukasi melalui media sosial, seperti memberikan edukasi dalam bidang literasi. Oleh karena itu, di antara banyaknya konten yang diunggah, ada juga konten literasi atau konten yang bermuatan pendidikan literasi.

Konten literasi merupakan jenis konten yang diunggah di media sosial baik dalam bentuk foto maupun video dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai literasi bahasa dan sastra. Konten ini dapat mengedukasi masyarakat seputar kata-kata serapan, padanan istilah, cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar, serta  mengajarkan kosakata  baku dan tidak baku. Contohnya, konten literasi yang menjelaskan bahwa padanan dari kata  mouse adalah tetikus. Ada juga konten yang mengajarkan bahwa populer dan bercanda adalah kata baku, padahal masyarakat lebih sering menggunakan popular dan becanda yang merupakan kata yang tidak baku. Konten-konten seperti ini biasanya diunggah oleh para pegiat literasi bahasa dan sastra di Indonesia, terutama generasi muda yang bisa dikatakan lebih fasih dan paham terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan teknologi, literasi, dan sastra. 

Konten bermuatan literasi bahasa dan sastra oleh generasi muda bisa memberikan edukasi yang baik untuk masyarakat Indonesia. Perlunya media pendidikan baru di tengah-tengah gelombang digitalisasi dan kefasihan generasi muda dengan media sosial menjadikan konten literasi sebagai salah satu alat edukasi yang cukup berguna. Meskipun demikian, ruang lingkup penyebaran tersebut kadang-kadang terbatas. Namun, media pendidikan modern dalam bentuk konten literasi tetap diperlukan. Dengan memanfaatkan kefasihan generasi muda dalam bermedia sosial, konten ini dapat meningkatkan kemampuan literasi masyarakat Indonesia, terutama di era digital ini.

Digitalisasi dan Literasi

Gelombang digitalisasi pada abad ke-21 makin menarik perhatian masyarakat pada hal-hal yang berbau digital, terutama pada media sosial. Faktanya, orang Indonesia menghabiskan waktu bermedia sosial selama lebih dari 3 jam per hari[2]. Di samping itu, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan minat baca terendah di dunia. Hal ini berarti media sosial jarang sekali digunakan sebagai platform untuk membaca dan melatih kemampuan literasi, padahal media sosial sangat sering digunakan di Indonesia. Bahkan, membaca sering kali dianggap sebagai sesuatu yang membosankan dan tidak menyenangkan. Tidak seperti konten hiburan di media sosialyang biasanya dianggap seru dan mengasyikkan. Namun, masalah ini dapat teratasi dengan adanya edukasi lewat media sosial dalam bentuk konten literasi.

Konten literasi memanfaatkan fakta bahwa orang Indonesia sangat sering menggunakan media sosial. Konten ini dapat menggait perhatian orang-orang Indonesia yang memiliki minat baca rendah, tetapi sering sekali menghabiskan waktu di media sosial. Konten seperti ini bisa mengedukasi mereka tentang literasi bahasa dan sastra walaupun  mereka sendiri mempunyai minat baca yang rendah. 

Konten literasi tidak hanya dapat menarik perhatian orang-orang dengan minat baca yang rendah, tetapi juga mereka yang memiliki rentang perhatian yang tergolong cepat. Riset menunjukkan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia selama proses pembelajaran adalah 10–15 menit[3]. Hal tersebut merupakan salah satu hal yang membuat orang-orang mudah bosan dan jenuh bila diberikan pelajaran di sekolah dan di kampus yang biasanya memiliki durasi sekitar 1,5 jam hanya untuk pemberian materi. Rasa bosan dan jenuh ini juga akan membuat pelajar kurang memperhatikan materi yang sedang diajarkan. Sementara itu, konten literasi dalam bentuk video memiliki durasi yang jauh lebih pendek daripada pelajaran di sekolah. Pada umumnya, konten literasi rata-rata memiliki durasi 1—3 menit atau masih di bawah batas rentang perhatian manusia. Sebagai contoh, sebuah konten literasi tentang beberapa padanan istilah bahasa Indonesia biasanya memiliki durasi yang hanya 1 menit. Hal ini berarti saat menonton sebuah konten literasi, perhatian masyarakat terhadap konten literasi akan menjadi lebih fokus sepanjang waktu karena durasi konten yang lebih singkat daripada pemberian materi di sekolah.

Dari yang Muda kepada yang Muda

Penyebarluasan konten literasi dapat dilakukan oleh generasi muda dengan memanfaatkan media sosial. Pengetahuan generasi muda terhadap hal-hal yang berkaitan dengan digital, terutama media sosial sudah tidak dapat dimungkiri. Lahir dan tumbuh di era digital, generasi muda umumnya mempunyai kemampuan dan kecakapan dalam  bermedia sosial yang jauh melampaui generasi-generasi lainnya.  Alasan tersebut menjadikan generasi muda  sebagai orang yang paling tepa tuntuk membuat dan menyebarkan konten literasi di media sosial. Sebaliknya, apabila pembuat konten literasi merupakanorang tua, mereka kurang memperhatikan perkembangan dan info terkini di media sosial. Akibatnya, konten yang diunggah akan kehilangan keterkaitannya dengan tren yang ada di media sosial. Konten literasi yang relevan dan sesuai dengan tren dapat memudahkan  penyebarannya kepada para pengguna media sosial.

Mayoritas pengguna media sosial adalah anggota generasi muda itu sendiri. Laporan dari Statista yang dirilis pada tahun 2023 mengatakan bahwa pengguna media sosial di Indonesia paling banyak berusia 18–34 tahun[4]. Pada umumnya, usia tersebut merupakan rentang usia generasi muda. Dengan demikian, mayoritas audiens di media sosial adalah generasi muda, sama halnya dengan pengunggah dan penyebar konten literasi yang juga adalah generasi muda. Dekatnya usia di antara keduanya makin memudahkan  penyebaran dan edukasi kebahasaan di media sosial. Hasil riset mengungkapkan bahwa perbedaan usia yang tidak terlalu jauh antara pengajar dan pelajar bisa membuat pelajar menjadi lebih nyaman dan santai selama proses edukasi dan pelajar juga bisa merasa lebih terhubung dengan pengajar yang memberikan materi[5]. Sama halnya dengan konten literasi di media sosial, para pengguna media sosial bisa merasa lebih nyaman dan santai saat melihat konten literasi. Sebaliknya, para pembuat konten literasi juga dapat merasa lebih terhubung dengan para pengguna dan dapat mengetahui jenis konten dan tren apa saja yang biasa dikonsumsi pengguna media sosial.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa konten literasi generasi muda akan sangat berguna bagi masyarakat jika kita ingin mengedukasi tentang bahasa dan sastra. Baik dalam bentuk foto maupun video, konten literasi dapat menjadi salah satu media edukasi baru di tengah-tengah gelombang digitalisasi. Konten literasi juga dapat memanfaatkan generasi muda yang hampir semuanya adalah pengguna media sosial untuk turut mengambil peran sebagai pembuat dan penyebar konten literasi itu juga.

Seharusnya, sudah terlihat jelas bahwa konten literasi yang dibuat oleh generasi muda yang mengedukasi masyarakat seputar bahasa dan sastra dapat berguna bagi masyarakat Indonesia. Konten literasi ini bisa menjadi salah satu media edukasi kebahasaan baru di tengah gelombang digitalisasi. Selain itu, adanya konten literasi dapat memanfaatkan generasi muda Indonesia untuk mengambil peran dalam memberikan edukasi tentang literasi antargenerasi. Hal ini membuktikan bahwa di antara jutaan konten yang tersebar di sekian banyak platform media sosial, masih banyak konten yang dapat memberikan edukasi kebahasaan dan kesastraan untuk masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka

  1. Domo. 2022. Data Never Sleeps 10.0. Diakses pada 6 September 2023.https://www.domo.com/data-never-sleeps.
  2. Kemp, Simon.2023. Digital 2023: Indonesia. Diakses pada 6 September 2023.https://datareportal.com/reports/digital-2023-indonesia.
  3. Pronto. 2022. Student Attention Span and How to Capture and Maintain It. Diakses pada 6 September 2023.https://pronto.io/student-attention-span-capture-maintain
  4. Nurhayati-Wolff, Hanadian. 2023. Breakdown of social media users by age and gender Indonesia 2021. Diakses pada 6 September 2023. https://www.statista.com/statistics/997297/indonesia-breakdown-social-media-users-age-gender.
  5. Education Endowment Foundation. 2021. Peer Tutoring. Diakses pada 6 September 2023.https://educationendowmentfoundation.org.uk/education-evidence/teaching-learning-toolkit/peer-tutoring.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × one =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll to Top