Mengulik Penerjemahan Cerita Anak Berbasis Maluku

Evi Olivia Kumbangsila, S.Pd.
Penerjemah Ahli Muda Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Artikel ini telah terbit di harian Siwalima.

Tahun ini, Kantor Bahasa Provinsi Maluku kembali melaksanakan penerjemahan cerita anak dalam dua bahasa. Ini adalah tahun keempat sejak tahun 2021 saat diawali dengan penerjemahan cerita rakyat Maluku yang menghasilkan 22 cerita. Selanjutnya, 2 tahun kemudian, Kantor Bahasa Provinsi Maluku beralih ke penerjemahan cerita anak yang pada tahun 2022 diterjemahkan dalam bahasa daerah dan bahasa asing (bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Arab), sedangkan tahun 2023 hanya diterjemahkan ke dalam bahasa daerah, yaitu ke dalam 18 bahasa daerah. Jadi, total buku yang telah ditulis dan diterjemahkan ialah 80 buku. Selama melakukan penerjemahan 3 tahun berturut-turut tersebut, ada beberapa fakta menarik yang lahir dari proses ini.

Pertama, penerjemahan cerita anak merupakan proses yang menarik bagi penerjemah dan membosankan bagi orang yang tidak memilki latar belakang penerjemah. Mengapa? Maluku memiliki 70 bahasa daerah yang terpetakan, sedangkan staf Kantor Bahasa Provinsi Maluku yang memiliki lisensi menerjemahkan hanya satu orang dan bukanlah penerjemah dari 70 bahasa daerah yang ada di Maluku. Jadi, pengerjaan 80 produk terjemahan tersebut, dilakukan oleh para penutur jati bahasa daerah yang ada di Maluku yang tidak memiliki pengetahuan tentang teori penerjemahan. Mereka tidak menggunakan strategi atau prosedur penerjemahan dalam menerjemahkan cerita anak. Kemampuan menerjemahkan yang mereka miliki dilakukan secara otodidak atas asas kelisanan dan kepatutan dalam bertutur. Oleh karena itu, mereka mengalami kesulitan dalam menerjemahkan beberapa kosakata budaya dan kalimat yang terlalu rumit dalam bahasa Indonesia. Pemerolehan padanan kata dalam menerjemahkan produk ini membutuhkan kesabaran dan pertimbangan yang matang sehingga hal ini dapat menguras banyak energi. Inilah yang dirasakan oleh para penerjemah cerita anak di Maluku, membosankan, karena harus duduk berjam-jam sambil memandangi langit-langit gedung atau sesekali menatap teman penerjemahan lain dengan tatapan kosong hanya untuk mencari inspirasi. Meskipun demikian, mereka dapat menyelesaikan terjemahan tersebut dan dapat dinikmati oleh semua orang, terutama anak Maluku.

Kedua, produk terjemahan cerita anak merupakan produk konkret yang dapat dinikmati oleh pembaca sasaran yang dalam hal ini adalah anak-anak, sekaligus produk krusial yang berkontribusi bagi perkembangan pendidikan karakter dan pengetahuan anak. Hal ini dapat disamakan dengan bahan tontonan anak yang disajikan. Apa yang disajikan sangat memengaruhi karakter dan pengetahuan anak, baik positif maupun negatif. Mengapa? Penerjemahan cerita anak dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia memegang peran penting dalam pelestarian budaya dan kekayaan sastra setempat. Proses penerjemahan cerita anak tidak semata-mata tentang mentransfer kata demi kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga melibatkan pemahaman mendalam akan konteks budaya dan linguistik dari kedua bahasa tersebut. Mari, kita bahas satu per satu! Hasil menerjemahkan inilah yang dijadikan tolok ukur pendidikan karakter anak. Bagi anak pada jenjang pemula, mereka akan sangat mudah dipengaruhi oleh gambar yang merupakan hasil ilustrasi isi cerita. Oleh karena itu, salah satu syarat kelulusan uji kelayakan cerita anak ialah tidak mengandung pornografi, mempertentangkan SARA, dan lain-lain. Anak akan sangat cepat meniru apa yang dilihat pada gambar dalam cerita tersebut. Pada jenjang semenjana dan mahir, mereka akan sangat mudah dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan dalam cerita tersebut. Pemilihan kata, baik dalam bahasa sumber maupun bahasa sasaran, haruslah yang ramah anak, seperti kata-kata kasar saat mencela seseorang yang lebih tua atau bahkan makian tidak diperbolehkan karena anak sangat mudah mengingat dan meniru setiap kata yang mereka baca. Jika dilihat dari sisi positif, perbendaharaan kata mereka akan bertambah dan itu berarti otak mereka pun akan berkembang. Namun, dari sisi negatif, mereka bukan hanya mengingat kosakata yang bermuatan positif, tetapi juga negatif. Lalu, bagaimana dengan pengetahuan anak? Penerjemahan cerita anak yang baik akan menambah pengetahuan anak tentang budaya baru, sastra baru, bahkan konsep sains yang lebih praktis yang mungkin saja terlalu rumit mereka pelajari di sekolah. Oleh karena itu, produk terjemahan yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku memuat STEAM (science, technology, engineering, art, dan mathtematics).

Kedua fakta menarik di atas merupakan keunggulan sekaligus kekurangan dalam penerjemahan dan ini dimiliki oleh hampir semua produk terjemahan yang penerjemahnya bukanlah penerjemah profesional atau orang yang mendalami ilmu penerjemahan. Jadi, haruskah produk cerita rakyat atau cerita anak diterjemahkan oleh penerjemah profesional? Tentu saja, tidak. Lalu, bagaimana meminimalkan kekurangan dalam penerjemahan cerita rakyat atau cerita anak yang diterjemahkan oleh orang yang bukan penerjemah profesional? 

Penerjemahan cerita anak dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia menuntut kepekaan terhadap konteks budaya dan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam cerita tersebut. Salah satu cara untuk memaksimalkan kualitas penerjemahan ialah dengan menggunakan strategi penerjemahan. Strategi ini ditulis oleh Vinay & Darbelnet (1995) dalam buku mereka Comparative Stylistics of French and English: A Methodology for Translation. Strategi penerjemahan yang biasanya dipakai dengan cara digabung atau dipakai salah satu, yaitu strategi literal dan strategi liberal. Strategi literal lebih menekankan pada kesetiaan yang tinggi terhadap teks sumber, sedangkan strategi liberal lebih mengedepankan kebebasan dalam menafsirkan dan menyampaikan pesan teks dalam bahasa sasaran. Penerjemah yang menggunakan strategi literal berusaha untuk mempertahankan sebanyak mungkin struktur kalimat, frasa, dan kata-kata asli dari teks sumber dalam terjemahan mereka, sebaliknya untuk strategi liberal penerjemahdiberikan keleluasaan untuk menyesuaikan teks asli dengan gaya bahasa, budaya, dan norma-norma linguistik dari bahasa sasaran. Semoga artikel kali ini juga dapat menambah pengetahuan para pembaca yang sedang atau ingin melakukan penerjemahan cerita anak.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 + 10 =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll to Top