Sulitkah Menerjemahkan Cerita Anak Berbahasa Daerah?

Oleh Evi Olivia Kumbangsila, S.Pd.
Penerjemah Ahli Muda Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Artikel ini telah terbit di harian Siwalima.

Cerita anak merupakan salah satu jenis karya sastra anak karena berisi pencitraan tentang anak: pemikiran, jiwa, dan dunia anak, demikian pendapat Burhan Nugiyantoro dalam buku Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Cerita anak merupakan sebuah gagasan untuk memahamkan dunia sekitar kepada anak. Cerita anak memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak yang kemudian dikategorikan dalam dua nilai: nilai personal dan nilai pendidikan. Salah satu nilai pendidikan yang sama pentingnya dengan nilai yang lain yang perlu dikembangkan oleh anak ialah perkembangan bahasa. Nugiyantoro menegaskan bahwa memang bahasa digunakan untuk memahami dunia yang ditawarkan kepada anak, tetapi sekaligus berfungsi meningkatkan kemampuan berbahasa anak, baik menyimak, membaca, berbicara, maupun menulis. Lebih lanjut, Nugiyantoro menjelaskan bahwa peningkatan penguasaan bahasa anak tidak hanya melibatkan kosakata dan struktur kalimat, tetapi terlebih menyangkut keempat kemampuan berbahasa baik secara aktif reseptif (mendengarkan dan membaca) maupun aktif produktif (berbicara dan menulis) untuk mendukung aktivitas komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, cerita anak dapat dijadikan sebagai wadah pemenuhan trigatra kebahasaan yang diusung Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Jika cerita rakyat ditulis dalam bahasa Indonesia dan diterjemahkan dalam bahasa daerah dan/atau bahasa asing, atau sebaliknya, anak-anak Indonesia bukan hanya mengembangkan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa daerah dan asing secara aktif reseptif dan aktif produktif. Bahkan, dalam berkomunikasi, seperti pernyataan Kepala Badan Bahasa, Prof. E. Aminudin Aziz, Ph.D., anak Indonesia mungkin saja bisa menjadi anak poliglot, kemampuan mengusai banyak bahasa.

Ada begitu banyak cerita anak yang ditulis dalam bahasa asing kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, tidak banyak cerita anak yang dituliskan dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa daerah apalagi sebaliknya. Masalah yang mungkin terjadi ialah kurangnya penulis profesional cerita anak dalam bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah atau kurangnya penerjemah atau orang yang berani menerjemahkan cerita anak berbahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah atau sebaliknya. Sesulit itukah menerjemahkan cerita anak ke dalam bahasa yang berbeda dari bahasa sumbernya? Faktanya, itulah yang dihadapi sebagian penulis cerita anak berbahasa daerah di Maluku yang notabene berlatar belakang guru dan sastrawan yang tidak memiliki latar belakang penerjemah. Bagi mereka, menulis cerita anak dalam bahasa daerah saja sudah sulit apalagi menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Keberadaan sebagai penutur bahasa sumber dalam hal ini bahasa daerah tidaklah cukup untuk melancarkan mereka dalam menulis cerita anak apalagi menerjemahkan cerita anak ke dalam bahasa Indonesia. Sekali lagi, sesulit itukah menerjemahkan cerita anak berbahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia? Sesungguhnya, tidak sesulit yang dibayangkan. Para penulis tersebut hanya butuh pengetahuan akan beberapa prinsip sederhana seorang penerjemah untuk menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas.

Prinsip yang dimaksudkan adalah sebagai berikut. Pertama, prinsip dasar dalam menerjemahkan karya sastra seperti cerita anak berbahasa daerah ialah penguasaan budaya bahasa sumber (bahasa daerah) dan bahasa sasaran (bahasa Indonesia). Prinsip ini pasti dimiliki oleh para penulis cerita anak berbahasa daerah karena mereka adalah pemilik bahasa daerah dan budayanya, mereka juga pemilik bahasa Indonesia dan budayanya. Kedua, untuk menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas, seorang penerjemah wajib memiliki kompetensi di bidang linguistik. Itu artinya, dia wajib menguasai bahasa daerah yang adalah bahasa sumber cerita anak dan bahasa Indonesia sebagai bahasa sasaran. Walaupun kemampuan berbahasa Indonesia di Indonesia, terutama di Maluku, belum sesuai dengan harapan karena beberapa faktor, Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang bahkan diajarkan sejak sekolah dasar. Ketiga, seorang penerjemah wajib memiliki kompetensi dalam bidang penerjemahan. Kompetensi yang dimaksudkan ialah teori penerjemahan yang akan membantu penerjemah untuk menemukan solusi ketika menemukan kendala dalam penerjemahan. Salah satu teori yang perlu dikuasai ialah teknik penerjemahan. Prinsip yang terakhir ini dapat dipastikan merupakan masalah lain yang dihadapi para penerjemah yang tidak berlatar belakang penerjemah.

Molina dan Albir dalam buku yang berjudul Translation Techniques Revisited: A Dynamic and Functionalist Approach menuturkan bahwa teknis penerjemahan merupakan suatu cara untuk menganalisis dan mengklasifikasi suatu terjemahan dapat sepadan dengan teks sumbernya. Mereka membagi teknik penerjemahan dalam 18 teknik, yaitu adisi, peminjaman, kalke, kompensasi, deskripsi, transposisi, modulasi, generalisasi, partikularisasi, reduksi, subsitusi, kreasi diskursif, padanan lazim, amplikasi linguistik, kompresi linguistik, penerjemahan literal, dan variasi. Namun, tidak semua teknik ini digunakan dalam penerjemahan cerita anak. Biasanya, teknik yang sering dipakai, yaitu adisi, adaptasi, peminjaman, deskripsi, generalisasi, dan padanan lazim, 

  1. Teknik adisi (addition) adalah teknik penerjemahan dengan memberikan  detail yang tidak diformulasikan dalam bahasa sumber. Biasanya teknik ini dilakukan dengan memberikan tanda kurung. Contohnya, kalimat Dong pi par orang mawe diterjemahkan Mereka pergi ke orang mawe (dukun yang menggunakan nyiru sebagai alat perdukunannya).

  2. Teknik adaptasi (adaptation) adalah teknik penerjemahan yang digunakan untuk menggantikan unsur budaya BSu (bahasa sumber) dengan unsur budaya Bsa (bahasa sasaran) yang memiliki karakteristik serupa. Unsur budaya tersebut harus akrab dengan pembaca sasaran. Contohnya, frasa bae jua di dalam kalimat Sio bae jua diterjemahkan menjadi Alhamdulilah atau Puji Tuhan.

  3. Teknik peminjaman (borrowing) adalah teknik dengan cara meminjam istilah dalam bahasa sumber. Contohnya, kata papeda dalam kalimat Ontua Bapa isap papeda diterjemahkan Ayah makan papeda.

  4. Teknik deskripsi (description) adalah teknik penerjemahan dengan cara menggantikan sebuah istilah atau ungkapan dengan deskripsi bentuk dan fungsinya. Contohnya, kata kamboti yang diterjemahkan menjadi keranjang yang dianyam dari daun kelapa dan dipakai untuk menampung hasil panen.

  5. Teknik padanan lazim (established equivalence) adalah teknik penerjemahan dengan menggunakan istilah atau ungkapan yang sudah lazim. Contohnya, kata Upu Langite yang diterjemahkan menjadi Tuhan.

  6. Teknik generalisasi (generalization) adalah teknik penerjemahan  dengan menggunakan istilah yang lebih umum atau lebih netral dalam bahasa sasaran. Contohnya, kata dudu meja diterjemahkan menjadi musyawarah

    .

Jadi, penguasaan budaya dan bahasa, baik sumber, sasaran, maupun teknik penerjemahan dapat memudahkan penerjemah karya sastra, termasuk penerjemah cerita anak berbahasa daerah. Ketiga hal ini juga dapat mendukung terciptanya bahan bacaan anak berkualitas yang memuat kearifan lokal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + fifteen =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll to Top